Slideshow image


Since your web browser does not support JavaScript, here is a non-JavaScript version of the image slideshow:

slideshow image


slideshow image


    QB LEADERSHIP CENTER  BERANDA  BERITA RINGKAS  KEPEMIMPINAN  ENTREPRENEURSHIP  INOVASI  RESENSI BUKU  INDUSTRI KREATIF  GAYA HIDUP   OPEN SOURCE   BLOG 
   
Jurnalisme Foto
  

 Judul:Camino de Santiago 
 Pengirim:Restituta Ajeng Arjanti 

 

Santiago de Compostela yang berdiri megah di Kota Santiago, di daerah Galicia, Spanyol, dipercaya sebagai salah satu tempat peziarahan paling kuno bagi umat Kristiani. Meski belum sepopuler Yerusalem atau Vatican City di Roma, Italia, katedral ini telah menjadi destinasi para peziarah sejak lebih dari 1.000 tahun silam.

Ada pepatah mengatakan, banyak jalan menuju Roma. Seharusnya, ada pula pepatah yang sama untuk Santiago. Many roads lead to Santiago (de Compostela). Rute-rute menuju tempat ini disebut Camino de Santiago dalam bahasa Spanyol atau The Way of St. James dalam bahasa Inggris. Peziarahan ini dilakukan sebagai tapak tilas perjalanan St. James ketika menyebarkan agama Kristen di Eropa.

St. James atau Santiago adalah nama lain dari Santo Yakobus, salah satu dari 12 rasul Yesus. Santiago de Compostela memiliki sejarah yang panjang, dan dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Santo Yakobus.

Santo Yakobus dipercaya sebagai santo pelindung umat Kristiani di Spanyol. Ada beberapa legenda mengenainya. Salah satunya adalah ini. Alkisah, pada tahun 44 sesudah Masehi, Santo Yakobus kembali ke Yudea setelah menjalani tugas misionarisnya. Dia lalu ditangkap dan disiksa hingga tewas oleh Raja Herodes Agrippa.

Sang raja melarang tubuh Yakobus dikuburkan. Pada malam hari, seorang murid Yakobus mencuri tubuh itu, menyimpannya ke dalam sebuah sarkofagus (peti jenazah dari batu yang biasa digunakan pada zaman Romawi), lalu meletakkannya di sebuah kapal kecil. Arus laut membawa kapal mereka hingga ke pantai Spanyol, yakni di Iria Flavia. Di sebuah bukit, jasad sang rasul dikuburkan dan nyaris terlupakan hingga berabad-abad lamanya.

Pada abad ke-9, sekitar tahun 813, seorang petapa beranam Pelagius melihat sebuah bintang besar yang bersinar sangat terang, dikeliling cahaya bintang-bintang yang lebih kecil. Dia melaporkan penglihatannya itu kepada uskup di Iria Flavia, Teodomiro. Dengan panduan dari bintang-bintang yang bersinar di langit di lokasi tempat Santiago de Compostela kini berdiri, sang uskup menemukan sebuah makam berisi 3 jasad, yakni jasad Santo Yakobus dan 2 orang pengikutnya.

Raja Alfonso II yang kala itu berkuasa di Spanyol menyatakan Santo Yakobus sebagai pelindung kerajaannya. Dia membangung sebuah kapel di atas makam tersebut sebagai penghormatan bagi Santo Yakobus. Masyarakat setempat percaya bahwa Santo Yakobus telah melakukan beberapa mujizat dan penampakan setelah itu. Pada sekitar abad XII-XIII, Paus Alexander III mendeklarasikan Santiago sebagai kota suci, sama seperti Roma dan Yerusalem.

Nama Compostela sendiri diambil dari bahasa Latin “Campus Stellae” yang berarti “the field of stars”. Nama ini sesuai dengan langit Santiago sangat indah di malam hari, berhiaskan gugu-gugus bintang.

Camino de Santiago dilambangkan dengan kulit kerang (scallop shell), yang merupakan simbol dari Danto Yakobus. Kulit kerang ini juga melambangkan banyak rute yang akhirnya menyatu di Santiago de Compostela.

Rute Camino yang paling populer sekaligus paling panjang adalah Camino Frances. Rute ini dimulai dari St. Jean Pied de Port, Prancis, dan berjarak 780 km menuju Santiago. Perjalanan kaki dari St. Jean de Port bisa memakan waktu sekitar 30 hari. Karena saya dan ketiga rekan saya tidak punya waktu sebanyak itu, saya mengambil rute tersingkat di jalur tersebut, yakni dari Sarria menuju Santiago yang berjarak sekitar 110 km. Jarak tersebut kami tempuh dalam dalam 6 hari dengan berjalan kaki.

Dari Sarria, kami melewati beberapa kota kecil, yakni Portomarin, Palas de Rei, Melide, Arzua, Pedrouzo, hingga tiba di Santiago de Compostela. Sebagian kecil pemandangan asri yang kami temui di sepanjang perjalanan tersebut bisa dilihat dalam jurnalisme foto kali ini. (Restituta Ajeng Arjanti)

 

 

 Judul:Camino de Santiago 
 Pengirim:Restituta Ajeng Arjanti 

  

 Judul:Camino de Santiago 
 Pengirim:Restituta Ajeng Arjanti 

  

 Judul:Camino de Santiago 
 Pengirim:Restituta Ajeng Arjanti 

  

 Judul:Camino de Santiago 
 Pengirim:Restituta Ajeng Arjanti 

  

 Judul:Camino de Santiago 
 Pengirim:Restituta Ajeng Arjanti 

  

 Judul:Camino de Santiago 
 Pengirim:Restituta Ajeng Arjanti 

  

 Judul:Camino de Santiago 
 Pengirim:Restituta Ajeng Arjanti 

  

 Judul:Camino de Santiago 
 Pengirim:Restituta Ajeng Arjanti 

  

 Judul:Camino de Santiago 
 Pengirim:Restituta Ajeng Arjanti 

  

 Judul:Camino de Santiago 
 Pengirim:Restituta Ajeng Arjanti 

  

 Judul:Camino de Santiago 
 Pengirim:Restituta Ajeng Arjanti 

  

 
 


 
 

Tambah Komentar
 
 Nama
 Email
 Komentar  
Verifikasi captcha
 
 
 
Komentar
     
    New Document
    Silahkan kirimkan foto anda  
     
    Selamat datang di kanal Jurnalisme Foto. Kanal ini ditujukan bagi Anda yang ingin berbagi visi tentang dunia di sekitar Anda melalui lensa kamera. Kami mengajak Anda untuk menyumbangkan foto-foto Anda dan berbagi dengan para pembaca QBHeadlines.com.

    Topik dibebaskan, selama tidak mengandung SARA. Foto-foto dan tulisan yang mengindikasikan hal ini tidak akan dipublikasikan. Hak untuk memutuskan materi yang akan dipublikasikan terletak di tangan tim redaksi. Jumlah foto: 1-10 foto, dengan judul dan satu paragraf tulisan pengantar. Kami berharap kanal ini akan berguna bagi Anda semua. Selamat menikmati!
    Email:anin@qbheadlines.com
    Phone:(021) 797 2204
     


    Jurnalisme Foto Sebelumnya

    Jika Anda menyangka bahwa di daerah tropis tak akan menemukan pegunungan yang diselimuti salju, Anda dapat meralat anggapan tersebut setelah berkunjung ke Puncak Jayawijaya atau Puncak Carstensz, puncak tertinggi di Pegunungan Sudirman (Sudirman Range) di Provinsi Papua. Puncak Jayawijaya atau yang lebih singkat disebut Puncak Jaya, memiliki ketinggian mencapai + 4.884 meter di atas permukaan laut (dpl), sehingga memungkinkan daerah ini diselimuti oleh salju abadi.

    Jika Spanyol terkenal dengan tradisi adu banteng, masyarakat desa Do Son di Vietnam juga memiliki tradisi permainan adu kekuatan banteng, di Indonesia pun memiliki tradisi - kelas banteng yang lebih jinak - adu domba.

    Tradisi budaya Adu Domba selalu diadakan setiap minggu pertama awal bulan, di Babakan Siliwangi (samping Sabuga), Bandung. Acara biasanya di mulai jam 9 pagi, walaupun begitu, jam 7 pagi sudah mulai dipenuhi pemilik adu domba, penonton maupun para pedagang.

    Domba yang di adu jumlahnya lebih dari 80 ekor. Pesertanya pun datang dari bebagai daerah mulai dari Bandung, Garut, Indramayu dan kota-kota lainnya. Setiap pemilik domba adu sebelum bertanding wajib mendaftar dan memberikan uang pendaftaran. Setelah itu mereka saling menawar satu sama lain dengan domba siapa domba mereka akan adu. Mereka biasanya menilai dari bentuk postur tubuh domba, besar kaki-kaki domba dan umur domba.

    Alasan utama adanya ketangkasan adu domba ini adalah untuk menghindari kepunahan ras Domba seperti halnya yang pernah terjadi pada jeruk Garut. Adu ketangkasan domba merupakan penyaluran naluri domba sebab ternak jenis ini akan terus merusak kandang jika tidak diadukan dengan sesama jantan. "Kalau lama dibiarkan dalam kandang, sepertinya kepalanya gatal sehingga kepalanya terus dibentur-benturkan ke kandang." Dari sanalah timbul adu ketangkasan sebab setelah diadukan di lapangan, dalam beberapa waktu domba itu diam.

    Adu domba turut dimeriahkan dengan pagelaran karawitan, musik khas Sunda yang di iringi oleh penyanyi wanita atau sinden.

    Dijamin mengasyikan nonton kesenian ketangkasan adu domba ini. Mari lestarikan kesenian tradisional bangsa ini, sebelum diklaim oleh bangsa tetangga.

     

    Batas antara impian surga dan bujukan neraka muncul di Macau. Meski punya banyak objek wisata religi, orang Eropa mengenal Makau sebagai 'Las Vegas di timur', sedangkan orang Amerika memberi julukan 'Monako dari timur'. Mana yang lebih tepat?

    Selamat datang di Macau, satu-satunya kota di Tiongkok yang diperbolehkan mempunyai kasino yang mengundang kedatangan para penjudi dari Hong Kong dan negara Asia lainnya. Penduduk Macau kebanyakan bertutur dalam bahasa kantonis; selain itu, bahasa mandarin, bahasa Portugis dan bahasa Inggris juga digunakan.

    Selain terkenal dengan kawasan perjudiannya, kawasan seluas 6 mil persegi, berpenduduk setengah juta jiwa di pojok tenggara daratan Cina tersebut merupakan kota kuno, dibangun pada abad XV. Macau mempunyai gereja lebih banyak dari Vatikan, tempat Sri Paus yang sekaligus Uskup Roma, bertahta. Di masa lalu, kekuasaan Uskup Makau sangat luas. Seluruh wilayah misi dari Goa di Pantai Barat India sampai Maluku di Indonesia bagian timur dan ke utara hingga Nagasaki, Jepang.

    Restituta Ajeng Arjanti membawa Anda menjelajah warisan sejarah Macau.

     

     

     

    Merah dan Membara! Semarak imlek sangat terasa di salah satu klenteng terbesar di daerah Petak Sembilan, Glodok, Hian Tan Keng. Seakan tak terusik debu dan asap, para jemaat khusyuk melakukan sembahyang yang rata-rata semua berpakaian merah. Pernah bertanya kenapa harus merah?

    The Myth. Menurut legenda, dahulu kala,  Nián ( ) adalah seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan (atau dalam ragam hikayat lain, dari bawah laut), yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri, para penduduk meletakkan makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. Dipercaya bahwa dengan melakukan hal itu Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil panen. Pada suatu waktu, penduduk melihat bahwa Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kerta merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengurisan Nian ini kemudian berkempang menjadi perayaan Tahun Baru.

    Imlek tahun ini jatuh pada tanggal 14 Feb 2010, Tahun Baru China 2561, dengan shio Macan unsur Logam Polar Yang. (Anindya Sukarni)

     


        QB LEADERSHIP CENTER  |  BERANDA  |  BERITA RINGKAS  |  KEPEMIMPINAN  |  ENTREPRENEURSHIP  |  INOVASI  |  RESENSI BUKU  |  INDUSTRI KREATIF  |  GAYA HIDUP  |   OPEN SOURCE  |  BLOG