Ketika Fauzi Bowo dan pasangannya Prijanto memenangkan pilkada Gubernur
Jakarta periode 2007-2012, sejujurnya saya berharap banyak atas
perbaikan tata kota dan transportasi di Jakarta. Betapa tidak? Sang
gubernur berlatar belakang pendidikan Arsitektur bidang Perencanaan
Kota dan Wilayah dari Technische Universitat Braunschweig Jerman, tamat
tahun 1976, dan program Doktor dari Universitas Kaiserlauterm bidang
perencanaan, tamat tahun 2000. Beliau pun sudah mengabdi cukup
lama—lebih dari 30 tahun di pemerintahan daerah DKI, sehingga
semestinya sudah paham betul mengenai seluk-beluk birokrasi dan
permasalahannya. Kurang apa lagi?
Tetapi ternyata, saya harus kecewa karena tidak melihat suatu perbaikan
yang berarti setelah lebih dari dua tahun kepemimpinannya. Jakarta
semakin macet, tata ruang pun tetap semrawut. Apalagi secara pribadi
saya mengalami pengalaman yang buruk beberapa kali, baik dalam kegiatan
bisnis maupun kehidupan pribadi saya.
Dalam artikel ini, saya ingin menceritakan dua kisah yang masih teramat hangat.
Pengalaman Buruk dalam Bisnis
Di awal 2008, setelah hampir 24 tahun berkarir di IBM, meniti karir
dari bawah hingga ke posisi puncak sebagai CEO, saya memutuskan untuk
beralih jalur dan menjadi pengusaha agar bisa menciptakan lapangan
kerja bagi banyak orang. Beberapa langkah segera saya lakukan.
Di antaranya memilih lokasi kantor.
Bertahun-tahun, ketika saya berkantor di Jl. Sudirman dan tinggal di
Jakarta Selatan, saya harus menembus kemacetan Jakarta di pagi hari
ketika pergi ke kantor dan di malam hari ketika pulang kantor. Jadi,
ketika punya kesempatan berbisnis sendiri, saya ingin memiliki kantor
di daerah perkantoran dekat rumah saja, sehingga tak harus menambah
kemacetan kota Jakarta setiap hari.
Pilihan saya jatuh ke gedung perkantoran di Jl. Pangeran Antasari yang
hanya 500 meter dari daerah perkantoran yang tengah berkembang di jalan
TB Simatupang. Di sana saya menyewa sebuah gedung kantor yang punya
tempat parkir luas. Sesuai persyaratan, saya membayar uang sewa dua
tahun di depan. Tidak ada keragu-raguan sedikit pun ketika saya
mendekor interior gedung itu dengan teliti agar nyaman. Saya berharap
bisnis saya berkembang dan akan berkantor di sana selama bertahun-tahun.
Di sebelah kiri kantor saya, ada kantor Geodis Wilson, perusahaan
freight forwarding internasional. Sedangkan di kanan kantor saya, ada
kantor TNT, perusahaan layanan pengiriman ternama. Bila Anda pernah
melewati Jl. Pangeran Antasari yang menghubungkan jalan TB Simatupang
dengan kawasan Blok M, Anda akan melihat bahwa jalannya begitu
lebar—lebih dari cukup untuk empat sampai lima jalur mobil—sehingga
memang cocok sebagai daerah perkantoran.
Di luar dugaan saya, daerah itu diperuntukkan sebagai daerah perumahan,
sehingga pada pertengahan bulan Oktober 2009, ketika kegiatan bisnis
saya tengah memuncak, kantor yang saya sewa disegel bersama dengan 60
tempat usaha lainnya di Jl. Pangeran Antasari. Apa daya, dengan hati
dongkol saya harus terburu-buru mencari lokasi kantor baru dan pindah.
Timbul pertanyaan di hati saya. Bila di sana bukan daerah perkantoran,
mengapa dibiarkan gedung perkantoran bertingkat berdiri disana? Jika
gedung itu tidak ada, tentunya saya dan penyewa gedung lainnya tidak
akan terkecoh dan mengeluarkan uang serta waktu begitu banyak untuk
membayar uang sewa dan merenovasi interiornya dengan sia-sia.
Pengalaman Buruk Sebaliknya di Rumah
Seakan tidak cukup hanya di kantor, di rumah pun saya dan keluarga
mengalami pengalaman buruk. Sejak tahun 1998, kami tinggal di jalan
kecil di daerah Ragunan—sangat dekat dengan Kebun Binatang Ragunan.
Kami memilih tinggal di sana karena daerahnya yang sejuk dan rimbun.
Secara bertahap kami membeli tanah dari penduduk di sana sehingga luas
tanah kami mendekati 3.000 meter persegi.
Saat mengajukan ijin bangunan, jelas betul bahwa peruntukannya adalah
perumahan dengan koefisien dasar bangunan 15%. Jadi, hanya 15% saja
dari luas tanah kami yang boleh ditutupi bangunan. Dengan patuh kami
menuruti persyaratan itu sehingga sebagian besar tanah kami tanami
rumput hijau dan pepohonan rindang. Beragam pohon buah kami tanam
disana—rambutan, belimbing, durian, sawo, kelapa, melinjo, jambu air,
dll. Daerah tempat tinggal kami memang diperuntukan sebagai daerah
resapan. Itu sebabnya koefisien dasar bangunannya sangat rendah.
Selama lebih dari 10 tahun kami menikmati ketenangan dan kenyamanan
tinggal di daerah hijau ini. Setiap hari, sesudah penat bekerja di
kepadatan kota Jakarta, pulang ke rumah rasanya begitu nyaman dengan
kesegaran, ketenangan, dan kehijauan rumah kami. Hilang rasanya semua
kepenatan hari itu.
Namun rupanya ketenangan itu kini tidak bisa kami nikmati lagi. Di
tanah kosong di sebelah rumah kami, kini tengah dibangun gedung
perkantoran milik Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pembangunan gedung
bertingkat yang sejauh ini sudah mencapai delapan lantai ini sungguh
bising, dikerjakan siang dan malam. Ketika tiang pancang pondasinya
ditanam, bukan hanya bunyi hantamannya yang sangat gaduh, dinding dan
kaca rumah kami pun bergetar dibuatnya.
Bagi kami, sungguh aneh bahwa di tengah-tengah perumahan yang asri ini
tiba-tiba muncul gedung bertingkat tinggi. Bagaimana nasibnya koefisien
bangunan yang 15%? Bagaimana dengan peruntukan tanah untuk perumahan di
daerah ini? Apakah dengan mudahnya bisa diubah menjadi daerah
perkantoran? Apakah dengan mudahnya koefisien bangunan bisa ditambah?
Tidak adakah batasan ketinggian bangunan di sini? Kolam renang yang
biasa kami gunakan secara rutin untuk olah raga pun kini tak lagi dapat
kami gunakan. Risih rasanya berenang sementara ada gedung tinggi, yang
begitu dekat dan penuh dengan jendela kaca, menghadap langsung ke kolam
renang kami.
Jakarta oh Jakarta...! Kami bersama dengan 60 pengusaha lainnya diusir
dari kantor kami di Jl. Pangeran Antasari yang begitu lebar
jalannya—lebih dari cukup untuk empat atau lima jalur mobil—dengan
alasan peruntukannya untuk perumahan. Sementara kenyamanan dan privacy
kami di rumah tinggal di daerah perumahan Ragunan pun diusik dengan
dibangunnya gedung perkantoran delapan lantai. Padahal, jalan masuk ke
rumah kami adalah jalan perumahan biasa yang sempit. Adakah permainan
di balik semua ini? Entahlah! Yang jelas bagi saya, semuanya ini sangat
tidak masuk akal.
only shows in its design but also the pattern printed in the clothes. In this series, designer put in leggings to match some clothes. moncler women's This point arouses great controversy in public. It is common that ladies wear leggings to match their long shirts or short dresses.Moncler Jackets If a man put on a legging, he looks a little feminization.moncler kids Somebody do not agree with this. They thought men also should be fashionable.Buy Moncler Wearing leggings is not the right of ladies, but also the fashion of men`s.Christian Louboutin In recent years, many clothes have been more neutralize. Men are paying more and more attention to their dressing.Moncler Clothing Creations in men`s dressing are more and more diversified. Fashion is such kind of thing that at first it will arouse controversy and with acceptance from more and more people it will be popular.moncler mens Maybe one day there will be more neutralized clothes that men and women can try together.Christian Louboutin Pumps
I did not earn enough money and could not order anything. Thank goodness my comrade suggested to try to take the mortgage loans at trustworthy bank. Thus, I acted that and was satisfied with my credit loan.
menjadi ceermin bagi kota" besar di indonesia ternyata tidak!! yang di junjung hanya foto-foto diri di banner besar Java International music festival" yang seakan-akan menginfokan " saya simbol jakarta" hahaha ternyata itu salah kaprah jakarta yang banyak berserakan sampah" di sepanjang trotoar yang yg justru mencerminkan jakarta kotor !!! jakarta butuh sosok tangan besi yang bijaksana & jujur :)
menjadi ceermin bagi kota" besar di indonesia ternyata tidak!! yang di junjung hanya foto-foto diri di banner besar Java International music festival" yang seakan-akan menginfokan " saya simbol jakarta" hahaha ternyata itu salah kaprah jakarta yang banyak berserakan sampah" di sepanjang trotoar yang yg justru mencerminkan jakarta kotor !!! jakarta butuh sosok tangan besi yang bijaksana & jujur :)
Lebih dari 20 tahun berkecimpung didunia Teknologi Informasi dikombinasikan dengan latar belakang pendidikan Arsitektur merupakan modal kuat bagi Betti untuk mendirikan dan memimpin QB Creative (PT Quantum Business International) yang bergerak di Industri Kreatif. QB Headlines, QB Architects, QB Furniture dan QB Creative IT adalah 4 bidang bisnis yang digelutinya saat ini.
Sampai dengan Januari 2008 Betti adalah Presiden Direktur PT IBM Indonesia, posisi yang dijabatnya selama 8 tahun. Ia adalah wanita pertama di IBM Kawasan Asia Pasifik yang dipercaya untuk memimpin operasi IBM di suatu Negara.
Betti memulai karirnya di IBM pada tahun 1984 sebagai trainee. Selain menjabat berbagai posisi penting di Indonesia, Betti juga telah malang melintang didunia International diantaranya :
General Manager, General Business, IBM ASEAN dan Asia Selatan ( 1996-1998),
General Manager, e-business and Cross Industry Solutions IBM ASEAN dan ASIA Selatan ( 1998-1999).
Jabatan lain yang saat ini dipegangnya adalah :
Duta Open Source Indonesia & Ketua Umum Asosiasi Open Source Indonesia
Anggota Majelis Wali Amanah ITB.
Ketua Yayasan ITB Tujuh Sembilan
Bila ingin mendukung, Anda dapat mentransfer Rp. 100.000 ke Yayasan Nurani Insani melalui rekening BCA no. 1113004260. Setelah itu e mail Betti alamat Anda, kami akan kirimkan CD Betti segera.
Perempuan Berwawasan Teknologi
Betti Alisjahbana dalam Ensiklopedi Tokoh Indonesia