Seorang suami mengeluh pada dokternya bahwa istrinya belakangan ini mulai tuli. Si dokter menanyakan, seberapa dekat ia harus bicara sampai istrinya bisa mendengar. Sang suami tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dokter lalu memintanya untuk mencari tau jawabannya.
Suami bergegas pulang. Di pintu gerbang rumah suami berseru : "Sayang, saya sudah pulang, kita makan apa malam ini ?". Tidak terdengar jawaban. Memasuki pintu ruang tamu, suami kembali menyerukan pertanyaan yang sama, kali itu pun tidak terdengar jawaban. Masuk ke ruang tengah, suami kembali mengucapkan kalimat yang sama untuk ketiga kalinya, di sana pun ia tidak mendengar jawaban. Suami lalu mendekati istrinya yang pada waktu itu sedang memasak di dapur. Setelah dekat ia mengulangi kalimat yang sama : " Sayang, saya sudah pulang. Kita makan malam apa malam ini ? " Si istri lalu menjawab :"Malam ini kita makan ayam, sayang. Kan saya sudah menjawabnya empat kali. "
Cerita di atas hanyalah sedikit ilustrasi bahwa sebelum memecahkan masalah kita perlu tau akar masalahnya, bila tidak, tentunya masalahnya tidak akan terpecahkan.
Berbagai Usaha mengurangi Kemacetan Lalu Lintas
Hari Senin minggu lalu, jam masuk sekolah dimajukan menjadi jam 6:30 pagi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Lalu, untuk tujuan yang sama, dalam waktu dekat, jam kerja kantor swasta akan di atur sesuai dengan lokasi kantor : Jakarta Utara dan Pusat 07:30 - 15:30, Jakarta Barat dan Timur 08:00 - 16:00, Jakarta Selatan 09:00 - 17:00. Jam kerja kantor pemerintah tidak mengalami perubahan karena terkait pelayanan warga, demikian juga Bank, dikecualikan dari pengaturan.
Usaha penyebaran waktu perjalanan menuju dan pulang kantor untuk mengurangi kemacetan lalu lintas tentu sah-sah saja. Permasalahannya, bisakah Pemda DKI mengatur jam kantor perusahaan ? Setiap perusahaan mempunyai kebijakan dan pengaturan kerja masing-masing. Dasarnya bukan lokasi kantor, tapi bagaimana agar perusahaan dapat melayani dan memenuhi kebutuhan pelanggannya lebih baik dari pesaingnya dan agar perusahaan berkinerja baik. Pelanggan suatu perusahaanpun tidak terbatas pada pelanggan di dalam negeri, tetapi juga di berbagai negara. Kantor pemerintah dan Bank dikecualikan dari pengaturan jam kerja dengan alasan harus melayani warga. Pertanyaannya, apakah hanya kantor Pemerintah dan Bank yang harus melayani ? Dalam situasi ekonomi yang sulit seperti ini, untuk survive, layanan pelanggan yang prima adalah salah satu kuncinya.
Trasportasi publik yang tidak memadai, akar masalah kemacetan Jakarta
Saya jadi teringat pada nasihat, pecahkan persoalan pada akar masalahnya. Megatur jam kerja kantor swasta adalah salah satu pemencahan kemacetan lalu lintas. Tapi saya yakin, kalaupun itu berhasil dilakukan, hasilnya hanya bersifat jangka pendek saja. Saya berpendapat, pemecahan itu tidak pada sumber permasalahannya.
Penyebab kemacetan di Jakarta adalah tidak seimbangnya antara volume kendaraan dengan jumlah ruas jalan yang ada. Hal ini biasa terjadi di kota-kota yang tidak memiliki transportasi publik yang memadai. Jadi, bila ingin memecahkan kemacetan Jakarta, Pemda DKI harus lebih serius dalam menyediakan fasilitas trasportasi publik yang nyaman, anti macet dan memberikan waktu tempuh yang lebih singkat. Bila ini ada, kecenderungan penduduk Jakarta untuk memiliki kendaraan sendiri akan berkurang secara signifikan. Juga bila fasilitas transportasi publik yang baik telah tersedia, pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui ERP ( Electronic Road Pricing), peningkatan biaya pemilikan kendaraan, pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, bea masuk yang tinggi dll. bisa dilakukan.
Busway antara harapan dan realita
Ketika pembangunan Busway mulai dilakukan, sebetulnya saya sangat berharap bahwa Busway bisa menjadi solusi bagi kemacetan di Jakarta. Apalagi dalam konsepnya Busway ini dipadukan dengan KRL ( Kereta Rel Listrik). Saya pun pernah membaca bahwa Sistem Busway di Jakarta yang menjadi kajian studi Masyarakat Transportasi Asia Timur ini dianggap mengesankan. Dengan panjang total 100 kilometer, sistem ini adalah yang terpanjang di dunia.
Jadi ketika dalam proses pembangunan jalur khususnya, saya yang tinggal di kawasan Ragunan harus kena macet yang luar biasa, saya pun dengan rela menerimanya, toh ini demi kebaikan jangka panjang. Terbayang dalam benak saya, suatu saat saya akan naik Busway ke kantor. Pada saat itu kantor saya di gedung Landmark. Dalam bayangan saya, waktu tunggu Busway akan 5 menit sesuai dengan yang dijanjikan, Busway akan bebas macet, karena menggunakan jalur khusus, sehingga waktu tempuh ke kantor ; Ragunan - Landmark, tidak akan lebih dari setengah jam.
Kini, dua tahun setelah pembangunannya, bayangan itu jauh dari kenyataan. Antrian di halte tunggu Ragunan dan halte tunggu Landmark sering sangat panjang. Waktu tunggu yang seharusnya 5 menit, ternyata sekitar setengah jam. Di dalam bus pun terlihat sangat padat, jauh dari nyaman. Lalu, karena jalur busway nya sering kosong, kendaraan lain pun turut menggunakan jalur tersebut. Sebagai akibatnya, waktu tempuh yang pendekpun tidak tercapai. Dalam keadaan seperti itu, tentu saja kebanyakan orang tetap memilih memakai kendaraan pribadinya, termasuk saya.
Saya pribadi berpendapat, dari pada mengatur jam kantor swasta, yang bukan merupakan akar masalah, kenapa Pemda DKI tidak lebih serius membenahi transportasi publik, yang merupakan akar masalah. Beberapa hal yang bisa dilakukan misalnya :
1.Penambahan armada untuk mengurangi penumpukan calon penumpang.
2.Pendekkan selang waktu antar bus.
3.Penambahan fasilitas seperti toilet umum.
4.Pengaturan calon penumpang.
5.Penertiban jalur busway bersama dengan aparat kepolisian.
Semoga harapan untuk melihat Jakarta memiliki transportasi publik yang nyaman, anti macet, waktu tempuh singkat bisa tercapai, sehingga banyak orang akan dengan senang hati menggunakannya dan kemacetan lalu lintas berkurang drastis. Sambil menunggu, kami memanfaatkan TIK dalam proses kerja kantor kami, sehingga kami bisa bekerja dari mana saja dan kapan saja tanpa perlu bermacet-macet, kecuali bila barus bertemu klien. Dengan demikian, bila Pemda DKI mengatur jam kantor, kami pun tidak perlu pusing.
shadiq thahir Selasa, 10 Februari 2009 17:25:28 Comment : Ibu Betti, saya setuju dengan pendapat Bu Betti bahwa solusi harus merujuk kepada akar persoalan.
Menurut..[read more] saya akar persoalan tidak semata-mata masalah transportasi. Jakarta yang hendak dibuat menjadi Megapolitan atau dipusatkannya seluruh pekerjaan di ibu kota inilah yang merupakan persoalan utama. Pada dasarnya jakarta memang overload. terlepas dari inovasi yang ada, jika seluruh pembangunan dipusatkan ke jakarta tentu saja hal tersebut tidak sehat. bayangkan, busway dibangun tanpa membenahi transportasi lainnya(mikrolet, kopaja, metromini,dsb) + jumlah orang yang mengadu nasib di jakarta sudah pasti bertambah, karena seluruh kegiatan pusatnya di Jakarta.
Sudah saatnya untuk membangun daerah lain terutama di luar Jawa sehingga beban Jakarta bisa dikurangi.
pandangan bahwa akar suatu masalah adalah satu dan hanya satu satunya. Masalah kemacetan di Jakarta bukan hanya (!) disebabkan oleh buruknya transportasi masal umum. Masalah kemacetan di Jakarta adalah masalah yang kompleks karena Jakarta telah 'dibiarkan' tumbuh tanpa perencanaan yang baik dan diperparah dengan tidak adanya pengawasan. Sinkronisasi antara RUTR dan PTM-J termasuk yang perlu diupayakan.
Salam(dc)
Saya sangat ingin mengomentari banyak hal tentang artikel di atas didalam suatu tanggapan terpisah.
Salam (dc)
pandangan bahwa akar suatu masalah adalah satu dan hanya satu satunya. Masalah kemacetan di Jakarta bukan hanya (!) disebabkan oleh buruknya transportasi masal umum. Masalah kemacetan di Jakarta adalah masalah yang kompleks karena Jakarta telah 'dibiarkan' tumbuh tanpa perencanaan yang baik dan diperparah dengan tidak adanya pengawasan. Sinkronisasi antara RUTR dan PTM-J termasuk yang perlu diupayakan.
Salam(dc)
Saya sangat ingin mengomentari banyak hal tentang artikel di atas didalam suatu tanggapan terpisah.
Salam (dc)
kita menyediakan alternatifnya (kendaraan umum). Seringkali ini tidak seimbang, shg tujuan memiliki sistem transportasi yang efisien tidak tercapai.
Saat ini Trans Jakarta sedang undersupply, sehingga solusinya harus tambah bis. Jalannya (busway) banyak yang sudah dibangun tapi tidak dipakai). Kalau sisi supply jasa TJ sudah bisa melebihi demand, harus mulai diperbaiki feeder-nya. Kegiatan transport kan mulai dari depan pintu rumah kita, sampai pintu kantor (door to door). Jadi jangan cuma dikutak-katik terminal bis ke terminal bis. Otherwise, orang tetap saja naik kendaraan pribadi, mobil atau motor.
dananya bisa digunakan untuk pembangunan transportasi publik. Tentu saja anggaran ini harus transparan dan dipisahkan dari pemasukan daerah, memang di khususkan untuk membenahi masalah angkutan.
bersama itu paralel penyediaan angkutan yang memadai dan dimulai dengan para pejabat baik pemda dan pemerintahan serta anggota dpr memberikan contoh bepergian dengan kendaraan umum. pada saat mereka merasakan jeleknya fasilitas umum mereka akan lebih punya wewenang untuk merubahnya. Memang dibutuhkan kerendahan hati dan kepedulian untuk melakukan hal ini.
Lalu kalau ada sebagian orang berdemo tentang kenaikan ini dengan alasan penyebab kenaikan kebutuhan sehari-hari naik karena pemberlakuan erp, maka bisa diatasi dengan kebijakan mobil angkutan distribusi barang dan umum tidak dikenai pemberlakukan tarif ini kecuali taxy...
dananya bisa digunakan untuk pembangunan transportasi publik. Tentu saja anggaran ini harus transparan dan dipisahkan dari pemasukan daerah, memang di khususkan untuk membenahi masalah angkutan.
bersama itu paralel penyediaan angkutan yang memadai dan dimulai dengan para pejabat baik pemda dan pemerintahan serta anggota dpr memberikan contoh bepergian dengan kendaraan umum. pada saat mereka merasakan jeleknya fasilitas umum mereka akan lebih punya wewenang untuk merubahnya. Memang dibutuhkan kerendahan hati dan kepedulian untuk melakukan hal ini.
Lalu kalau ada sebagian orang berdemo tentang kenaikan ini dengan alasan penyebab kenaikan kebutuhan sehari-hari naik karena pemberlakuan erp, maka bisa diatasi dengan kebijakan mobil angkutan distribusi barang dan umum tidak dikenai pemberlakukan tarif ini kecuali taxy...
naik mobil dan motor sendiri. Nah kalau mau mengurangi kemacetan...dibuat saja jalan tol susun keberbagai arah, batasi pergerakan sepeda motor, lihat saja berapa juta penguna motor di jkt. Dikota Shen Zen Cina tidak boleh ada sepeda motor, tidak ada jalan yg macet. Akar masalahnya adalah warga jkt maunya enak, tidak disiplin, itu ya Bet...sedikit pendapat. Sy di FB jg kok.
masukan...
1. Kemacetan Lalu lintas
Dasar acuan kita selalu melihat ke negara maju yang selalu bernuansa seolah olah negara kita adalah negara paling mundur didunia ini. Kita selalu melihat permasalahan seperti hal yang ada dimana mana. Satu hal yang kita lupa bahwa kemacetan lalu lintas, dimulai dari orang yang namanya pemakai lalu lintas itu sendiri. Ada sedikit perbedaan yang cukup mendasar dalam hal ini antara negara maju dan negara berkembang dimana budaya mengikuti peraturan yang diterapkan sudah menjadi nafas kehidupan mereka, sedang negara berkembang selalu mencari pola yang cocok sesuai dengan perkembangan negara dan penduduknya. Jadi selama negara itu mengalami masa perkembangan, kelihatannya akan sulit mendapatkan keteraturan dan kepedulian maupun ketaatan terhadap peraturan. Hal ini terjadi disemua lapiisan manyarakat, termasuk para birokrat yang membuat peraturan.
birokrat(sifat2 amtenar) dan dilettante, anarchist, sy rasa kunci(salah satunya) akarnya di sifat(pendidikan) kita yang mengampangkan, we have to CARE! jgn punya saja, tapi RAWAT(maintenance), mari kita rawat bersama INDONESIA(sense of belonging sekaligus identitas, belong to us and the next, next generation). ...merawat adalah kerja dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang banyak(infra struktur), terutama pada waktu krisis sekarang ini.....gimana silahkan dikomentari
menggunakan electric vehicle ke kantor. Kali aja ada rekan lain yang mau gunakan electric vehicle juga ke tempat kerja, so kemacetan yang terjadi di gambar tsb. tidak akan memberikan efek samping semakin buruknya kualitas udara jakarta.
jam sekolah anak daripada membangun moda transportasi massal dengan urban planning yang mantap....
Terlalu banyak kepentingan yg bermain dalam menerapkan kebijakan transportasi massal. Jadi akar masalah dan solusi sepertinya sdh diketahui, problemnya punya keberanian dan kemauan tidak untuk menerapkan dan menghadapi berbagai kepentingan....
Gudlak Bu!
mempersalahkan orang/pihak lain, bahkan lebih konyol lagi kita konsultasi ke 'dokter' yang sok tahu, nggampangke'/sembrono sembari mbayar lagi,.....padahal kita sendiri yang bermasalah dan tidak mengenali masalah kita......"
tidak mau ngaku..:) Utk mengatasi kemacetan Jakarta tidak bisa dengan setengah setengah...harus cepat dan radikal..semua akses harus dibuka dan dimanfaatkan..."
bermanfaat dan dirasakan langsung oleh masyarakat, so kenapa ga mencoba nyari kendaraan piltik untuk mempermudah akses ke pemerintahan
sukses ya bu
mudah2an tulisan inu juga terbaca oleh para politikus dan pemerintah
dalam rangka membawa indonesia ke arah yang lebih maju"
Aslam Salimudin Senin, 12 Januari 2009 14:16:20 Comment : "wuakakak ilustrasinya mengena banget Bu. Bagus buat evaluasi diri kita. terima kasih"
jadi saat ini tidak sesuai harapan, yaitu mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke publik transport, tentu yang nyaman senyaman dgn kendaraan pribadinya.Kalau yang menjadi target market dari pada Busway itu adalah pengguna kendaraan pribadi, seharusnya dari awal operasinya Busway itu menggunakan tarif segment pemilik mobil pribadi, misalnya sekali jalan 10.000 rupiah, maka insya Allah Busway ini akan diisi oleh para pengguna mobil pribadi, karena secara biaya harian bagi mereka pengguna kendaraan pribadi tetap akan lebih murah pp 20.000 rupiah. Nah dgn tarif spt itu saudara2 kita yang biasa menggunakan bus reguler atau pun bus patas ac akan tetap menggunakan bus2 tersebut.Tanpa mengurangi rasa hormat kepada masyarakat pengguna publik transport yang ada di jakarat, tapi yang jelas Busway ini telah mengalihkan pengguna bus reguler, bus patas ac maupun metromini dan mikrolet ke Busway yang lebih nyaman, tetapi tidak berhasil mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke publik transport yang senyaman mobil2 mereka.Semoga ada manfaatnya
Analoginya: terapkan peraturan pembatasan jumlah kendaraan berdasarkan tahun pembelian. Tapi mungkin tidak cocok untuk negara miskin seperti Indonesia.
ya..
Bagi profesi dokter, mengobati sesuai dengan diagnosa sdh menjadi kebiasaan. Mengumpulkan data melalui anamnesa, pemeriksaan dan diagnostik akan mempertajam diagnosa shg akar masalah dpt ditemukan dan terapi menjadi lebih akurat. (tetapi bukan berati walikotanya hraus dokter ya..) atau mungkin calon walikota juga boleh ikut kuliah kedokteran dasar.. hehe
kalau tidak maklum maka perlu dipertanyakan kapabilitasnya memanage Jakarta.... Cuma mereka bingung bagaimana menyelesaikannya, pada hal tinggal nyontek saja ke kota2 dunia yang transportnya baik. Mungkin akar dari akar masalahnya disini Betty...:)
masalah. semoga menjadi masukan bagi bapak-ibu pejabat yg membuat kebijakan. Mohon koreksi juga saya belajar menulis tentang keseharian di www.quantumillahi.wordpress.com. Jika berkenan diberikan kritikan yang tajam agar sy bisa memperbaiki tulisan saya ke depan.
Lebih dari 20 tahun berkecimpung didunia Teknologi Informasi dikombinasikan dengan latar belakang pendidikan Arsitektur merupakan modal kuat bagi Betti untuk mendirikan dan memimpin QB Creative (PT Quantum Business International) yang bergerak di Industri Kreatif. QB Headlines, QB Architects, QB Furniture dan QB Creative IT adalah 4 bidang bisnis yang digelutinya saat ini.
Sampai dengan Januari 2008 Betti adalah Presiden Direktur PT IBM Indonesia, posisi yang dijabatnya selama 8 tahun. Ia adalah wanita pertama di IBM Kawasan Asia Pasifik yang dipercaya untuk memimpin operasi IBM di suatu Negara.
Betti memulai karirnya di IBM pada tahun 1984 sebagai trainee. Selain menjabat berbagai posisi penting di Indonesia, Betti juga telah malang melintang didunia International diantaranya :
General Manager, General Business, IBM ASEAN dan Asia Selatan ( 1996-1998),
General Manager, e-business and Cross Industry Solutions IBM ASEAN dan ASIA Selatan ( 1998-1999).
Jabatan lain yang saat ini dipegangnya adalah :
Duta Open Source Indonesia & Ketua Umum Asosiasi Open Source Indonesia
Anggota Majelis Wali Amanah ITB.
Ketua Yayasan ITB Tujuh Sembilan
Bila ingin mendukung, Anda dapat mentransfer Rp. 100.000 ke Yayasan Nurani Insani melalui rekening BCA no. 1113004260. Setelah itu e mail Betti alamat Anda, kami akan kirimkan CD Betti segera.
Perempuan Berwawasan Teknologi
Betti Alisjahbana dalam Ensiklopedi Tokoh Indonesia