Selasa 16 Desember jam 23:10, sms mengagetkan itu datang : " Mas Is telah meninggalkan kita selamanya". Badan saya terasa lemas. Sejak sore hari, ketika Mario melaporkan perkembangan keadaan mas Is di ICU, saya terus berdoa agar Mas Is bisa sembuh. Tapi Allah SWT berkehendak lain, Mas Is ternyata harus meninggalkan kami.
Mas Is adalah panggilan kami untuk Prof. Iskandar Alisjahbana. Banyak yang mengira, almarhum adalah ayah saya, padahal Ia adalah kakak suami saya, Mario. Mas Is adalah kakak ipar yang sangat saya kagumi. Selain pandai, progressive dan berwawasan luas, Ia juga seorang guru dan motivator yang efektif. Ketika kabar meninggalnya beredar, banyak sekali ucapan bela sungkawa yang kami terima, banyak diantaranya bukan sekedar ungkapan bela sungkawa, namun juga ungkapan penghargaan dan kesan-kesan khusus tentang Mas Is.
Kini saya semakin merasakan betapa saya beruntung berkesempatan untuk mendapatkan masukan dan pandangan-pandangan beliau. Di acara kumpul-kumpul keluarga besar Alisjahbana, yang biasanya berlangsung di vila keluarga di desa Tugu, Puncak Bogor, Mas Is dan saya hampir selalu terlibat dalam pembicaraan serius dan seru. Ada banyak hal yang sama-sama menarik perhatian kami. Bagi saya, berdiskusi dan berdebat dengan Mas Is selalu sangat menarik. Mas Is selalu punya pemikiran-pemikiran yang sangat original dan jauh kedepan.
Hal yang unik dari Mas Is adalah, di setiap kesempatan bertemu, Ia selalu menyelipkan tantangan untuk melakukan hal yang lebih. Misalnya, ketika saya masih di IBM, dan sudah menduduki posisi Presiden Direktur selama 8 tahun, Mas Is sering bertanya :" Betti, masih di IBM juga ? Mau cari apa lagi kamu di situ ? Ayo bikin sesuatu yang baru dong."
Dua tahun belakangan ini, ketika saya diangkat menjadi Anggota Wali Amanah ITB, mas Is semakin rajin mengajak saya diskusi. Mas Is ingin hal-hal yang belum berhasil direalisasikan ketika beliau menjabat Ketua Majelis Wali Amanah ITB bisa diteruskan. Misalnya saja, Mas Is ingin ITB tidak menjadi menara gading, melainkan tempat di mana technopreneurship tumbuh dan berkembang dan menjadi pendorong tumbuhnya industri berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Ketika masih aktif di ITB dulu, Mas Is memang merintis technopreneurship di kampus. Beliau berpendapat bahwa masyarakat Perguruan Tinggi tidak boleh hanya mengejar Academics-Excellence berikut Titel Dr, Ir saja. Tetapi Academic-science harus didampingi Corporate-Science, supaya lapangan-pekerjaan (yang berbasis Science & Technology) dapat terbentuk dan terbina. Dengan semangat technopreneurship yang dimilikinya, Mas Is mendirikan dua perusahaan, PT RFC pada tahun 1970 serta PT Pasifik Satelit Nusantara tahun 1992.
Hal lain yang sering menjadi topik diskusi kami adalah tentang IPR dan Open source. Dibawah ini adalah petikan dari artikel yang pernah ditulisnya untuk Qbheadlines.com :
Lawrence Lessig, seorang guru besar ilmu Hukum di Universitas Stanford USA, mempunyai pemikiran yang agak bertolak belakang dengan pemikir ilmu ekonomi pada umumnya. Beliau membedakan dua macam komoditas ekonomi. Yang pertama adalah komoditas ekonomi berbentuk benda fisik, seperti mobil, rumah atau kebun. Macam komoditi yang kedua adalah komiditas intelektual.
Jika kawan Anda meminjam mobil Anda, maka Anda tidak dapat lagi menggunakan atau men- dayagukan mobil tersebut. Tetapi jika komoditas intelektual berupa penemuan, pemikiran dan inovasi Anda dipinjam, ditiru, diubah, diperbaiki atau didayagunakan oleh orang atau masyarakat lain, maka Anda tetap tiap saat masih dapat mengembangkan dan mendayagunakan penemuan dan pemikiran Anda semula, yang ditiru tadi, yang kemungkinan besar berbentuk lain sekali dari yang ditiru kawan Anda tadi. Menurut Lawrence Lessig ini adalah fenomena dasar pemekaran, pengembangan dan pembaharuan budidaya masyarakat pada umumnya. Ini adalah cara pengembangan budidaya masyarakat yang paling alamiah dan yang terpenting terjadi setiap masa beratus tahun lampau, di seluruh masyarakat dunia.
"Re-mixing is how Culture gets made" adalah perumusan asli dari Prof. Lawrence Lessig.
"Development as Freedom" atau "Pemberdayaan Budidaya adalah hak azasi Manusia" , adalah kata mutiara pemenang hadiah Nobel Amarthia Sen yang mendukung sangat teori atau pemikiran Lawrence Lessig. Menurut pemikir-pemikir kelompok ini, pelaksanaan dan perpanjangan waktu aturanmain Intelectual Property Right yang berlaku sekarang ini, adalah sebagian besar hasil karya atau manipulasi para ilmuwan yang dibiayai oleh para industriawan raksasa.
Di sinilah muncul - pada waktu yang tepat sekali - kecendekiawanan dan kreavitas para dosen, mahasiswa dan ilmuwan MIT dengan penemuan Open Source Software Movement, yang penulis namakan Open Source Capitalism, yang mungkin sekali kelak merambat ke bidang ilmu lainya. Indah dan tepat sekali kecendekiawanan MIT yang mampu menemukan dan memperbaharui aturan main kompetisi dan kooperasi Level and Even Playing Field ahli filsafat Adam Smith. Semua software dan courseware boleh ditiru, dipergunakan dan diperbaiki oleh siapa saja, demi kebaikan dan percepatan perkembangan budidaya masyarakat dunia.
Sebagai kesimpulan akhir hanya dapat dikatakan bahwa perjalanan sejarah atau Conscious Evolution, budidaya manusia selanjutnyalah yang akan menentukan aturan main . Level and Even Playing Field Capitalism yang mana, yang pasar ekonomi global akan kembangkan dan gunakan di kemudian hari.
Selamat jalan Mas Is. Semoga Mas Is mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT dan cita-cita Mas Is bisa kami teruskan.
karena baru beberapa minggu sebelumnya, sekitar awal November 2008, saya berkesempatan untuk ngobrol cukup lama di lt. 6 ruang Phisioterapi Medistra, karena kita saat itu sedang menunggu istri masing2 yang sedang melakukan terapi.
Phisik beliau sangat sehat dan masih sangat energik untuk ukuran usia beliau. Masih mendiskusikan topic2 yang beliau sangat fahami, terutama berkaitan dengan teknologi dan kreativitas, maupun topic2 masa lalu beliau selama berada dalam pemerintahan Order Baru.
Terjadi pembicaraan yang cukup menarik, bahkan beliau menawarkan agar kami suatu saat bisa mampir ke rumah beliau di Bandung untuk melihat detail kasus power plant yang dihasilkan dari ARUS dibawah permukaan laut [yang tidak kelihatan], yang ternyata lebih effektif dari pada study / percobaan Power Plant yang diandalkan dari Ombak yang berada diatas permukaan laut.
Rupanya beliau meninggalkan kita begitu cepat.
Saya prihatin dan sekaligus berdoa agar keluarga yang ditinggalkan beliau selalu mendapat kelimpahan rachmat, kebahagiaan dan perlindungan dari Tuhan yang Maha dan Maha Pengasih.
dengan Pak Is..hm banyak yang kami perdebatkan karena perbedaan generasi. Saya curhat saja kepd beliau ttg peran ITB dalam ICT yang makin gak jelas, terutama lab telematikanya yang makin ketinggalan, lab radio nya yang sudah semakin renta...hm mudah2an akan tampil ... Read Moregenerasi berikutnya di Indonesia, gak muluk2, semoga kita bisa bangkit dengan ICT dan lebih khusus lagi dengan satelit yang meski mahal tetap menjadi salah satu option karena sebaran geografis kita memang begini adanya. Semoga beliau tenang di alam baqa dan diberikan tempat terbaik disisiNya. Amin..
realita. Ada dua hal menurut saya yang menjadi penyebab; 1. Tidak adanya seseorang/institusi yang komit menekuni technopreneur secara berkesinambungan, 2. Belum tersedianya cara untuk menjadi seorang technoprenuer yang dapat dijadikan pola untuk diikuti.
Untuk penyebab yang pertama dengan pengalaman dan wawasan bu Betti yang luas dapat berperan untuk meminimalisasi penyebab ini dan menjadi pendorong (motivator) berkembangnya technopreneur secara berkesinambungan.
Untuk hal kedua, dengan pengalaman pribadi dan keterlibatan saya dengan kawan-kawann alumni Swisscontact dalam menumbuhkan dan mengambangkan usaha kecil dan menengah saya coba mengembangan '7 Langkah Menjadi Pengusaha' yang diharapkan dapat dijadikan pola untuk menjadi techopreneur.
Semoga kontribusi Almarhum selama hidup menematkan Beliau ditempat yang mulia disisi Allah SWT. Amin
Zacky Riskawa Jum'at, 26 Desember 2008 08:10:41 Comment : Semoga Ilmu yang beliau tanamkan akan menjadi amal yang senantiasa mengalir sebagai amal jariah... Amien..
PT
RFC selaku salah satu pendirinya, belaiu sangat ingin agar orang2
Indonesia menjadi wiraswasta dan pemilik perusahaan2.
Ketika belaiu saya tawari produk2 alat ukur Hewlett Packard dan
Tektronix, yang ditanya beliau pertama kali adalah, apakah perusahaan
yg saya jalankan milik saya atau orang lain? Diakhir pertemuan, belaiu
tetap mewanti-wanti agar saya jadi wirswata pemilik perusahaan, dan
bukan pegawai.
Terakhir kali saya berjumpa dengan Prof Iskandar adalah saat Bill
Gates datang ke JCC Jakarta bulan Mei 2008. Saat itu hanya 5 orang yang
diberi kesempatan untuk bertanya, tetapi rupanya oleh Moderator (Ibu
Marie Pangestu, Menteri Perdagangan) orang2 yang diberi kesempatan
sudah diatur lebih dahulu. Prof. Iskandar (dan saya) yang mengangkat
tangan tinggi2 tidak dapat kesempatan bertanya ke Bill Gates. Beliau
sangat kecewa. Akhirnya lembar pertanyaan yang sudah belaiu susun rapi
tentang beda filosofi copy-left vs copy-right kita serahkan ke Prof. M.
Nuh, MenKOMINFO. Sejarah akan mencatat, apakah lembar pertanyaan Prof.
Iskandar benar-benar sampai ketangan Bill Gates atau tidak.
paling mulia di sisiNya.
Kontribusi Prof Is di ITB untuk Indonesia dan dunia tidak bisa dipungkiri lagi. Selamat jalan Professor ... Bila Allah mengijinkan, kita bakal ketemu lagi kelak .. Amien ...
Lebih dari 20 tahun berkecimpung didunia Teknologi Informasi dikombinasikan dengan latar belakang pendidikan Arsitektur merupakan modal kuat bagi Betti untuk mendirikan dan memimpin QB Creative (PT Quantum Business International) yang bergerak di Industri Kreatif. QB Headlines, QB Architects, QB Furniture dan QB Creative IT adalah 4 bidang bisnis yang digelutinya saat ini.
Sampai dengan Januari 2008 Betti adalah Presiden Direktur PT IBM Indonesia, posisi yang dijabatnya selama 8 tahun. Ia adalah wanita pertama di IBM Kawasan Asia Pasifik yang dipercaya untuk memimpin operasi IBM di suatu Negara.
Betti memulai karirnya di IBM pada tahun 1984 sebagai trainee. Selain menjabat berbagai posisi penting di Indonesia, Betti juga telah malang melintang didunia International diantaranya :
General Manager, General Business, IBM ASEAN dan Asia Selatan ( 1996-1998),
General Manager, e-business and Cross Industry Solutions IBM ASEAN dan ASIA Selatan ( 1998-1999).
Jabatan lain yang saat ini dipegangnya adalah :
Duta Open Source Indonesia & Ketua Umum Asosiasi Open Source Indonesia
Anggota Majelis Wali Amanah ITB.
Ketua Yayasan ITB Tujuh Sembilan
Bila ingin mendukung, Anda dapat mentransfer Rp. 100.000 ke Yayasan Nurani Insani melalui rekening BCA no. 1113004260. Setelah itu e mail Betti alamat Anda, kami akan kirimkan CD Betti segera.
Perempuan Berwawasan Teknologi
Betti Alisjahbana dalam Ensiklopedi Tokoh Indonesia