Slideshow image


Since your web browser does not support JavaScript, here is a non-JavaScript version of the image slideshow:

slideshow image


slideshow image


    QB LEADERSHIP CENTER  BERANDA  BERITA RINGKAS  KEPEMIMPINAN  ENTREPRENEURSHIP  INOVASI  RESENSI BUKU  INDUSTRI KREATIF  GAYA HIDUP   OPEN SOURCE   BLOG 

Warning: getimagesize(img/uploaded/thumbs/9797Page_1.jpg) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/qbheadli/public_html/industri_artikel_baru.php on line 47
Batik Fractal: Paduan Seni, Sains, dan Teknologi

Oleh: Restituta Ajeng Arjanti

Anda pernah mendengar kata “fractal”? Fractal adalah salah satu cabang ilmu matematika yang mempelajari teknik perulangan. Tiga anak muda dari Bandung, mereka tergabung dalam Pixel People Project, memadukan ilmu sains tersebut dengan seni dan teknologi untuk membuat rancangan batik yang khas. Namanya batik fractal.

Pixel People Project

Sejak awal berdiri, pada 14 Februari 2007, Pixel People Project digagas oleh tiga orang. Mereka adalah M. Lukman alias Luki, Yun Hariadi, dan Nancy Margried. Luki bertanggung jawab pada desain, Yun fokus di bidang riset, sedang Nancy bertindak selaku pengelola bisnis dan bidang manajerial.

Kenapa mereka memilih nama Pixel People Project? Menurut Nancy, nama itu mereka ambil karena sesuai dengan mereka sebagai seniman dan pelaku riset seni generatif yang selalu melibatkan komputer dalam berkarya.

"Pixel adalah satuan terkecil dari gambar komputer. Kami menganggap diri kami masing-masing adalah pixel yang membentuk suatu gambar yang indah walau dengan skill beda. Kata “People” kami ambil karena pekerjaan kami selalu berorientasi pada banyak orang. Jadi, semua pekerjaan kami harus bisa membuat orang termotivasi untuk ikut kreatif juga. Sementara “Project” dipakai untuk menunjukkan sifat grup ini, yaitu berorientasi pekerjaan," ia menjelaskan.

Tak sedikit orang yang menghubungkan Pixel People Project dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Menurut Nancy, itu bisa dimaklumi karena dua dari tiga anggota mereka memang alumni ITB, yakni Yun dan Luki. Dulu, mereka juga sempat minta naungan dari ITB sebelum mereka berangkat ke Milan, Italia, untuk menghadiri acara 10th Generative Art International Conference, pada Desember 2007 lalu. Di sana, mereka memperkenalkan desain batik unik buatan mereka. Meski begitu, Nancy menegaskan bahwa Pixel People Project adalah grup independen dan tak lagi bernaung di bawah ITB.

Batik Fractal

Batik fractal adalah proyek awal mereka. Nancy mengaku, seiring perjalanan mereka melakukan riset, mereka menemukan banyak sekali objek yang bisa dikembangkan menggunakan rumus fractal untuk menghasilkan karya-karya baru, baik di bidang seni maupun teknologi.

"Riset dalam bidang fractal pun tak hanya dalam bidang seni saja. Yun sudah lama menganalisa fluktuasi saham dengan teori fractal di grup risetnya sendiri, Bandung Fe Institute," lulusan Universitas Padjajaran itu memberi contoh.

Batik fractal bisa dikatakan mereka temukan tanpa sengaja, berawal dari obrolan-obrolan di antara mereka dan hobi Luki menggambar objek yang unik. Menurut Nancy, Luki si arsitek gemar menggambar objek yang aneh-aneh, misalnya robot dan gambar komik, dengan rumus fractal yang berulang.

Lantaran bosan dengan gambar-gambar robot dan komik, suatu ketika Nancy meminta Luki menggambar objek yang lebih organis seperti tumbuhan. Luki pun membuatkan gambar tumbuhan dengan teknik fractal. Menurut Nancy, hasilnya seperti batik. Yun yang ahli matematika pun mendukung pendapatnya, dan mengatakan bahwa batik mungkin memiliki unsur matematika.

Dari situ, mulailah mereka mengumpulkan beragam motif batik untuk dianalisa dari sudut pandang matematika. Mereka juga berkonsultasi dengan Achmad Haldani yang terkenal sebagai ahli batik tradisional di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Akhirnya, Nancy melontarkan usul agar mereka membuat gambar-gambar batik menggunakan rumus matematika. Sekarang, itulah yang jadi keunikan batik fractal mereka: seni batik tradisional yang dibuat dari hasil sinergi antara sains, teknologi, dan seni.

Serius dengan proyeknya itu, mereka tekun melakukan riset dan mencari dana untuk bisa menampilkan karya mereka di Milan, Italia, dalam ajang konferensi internasional tentang seni generatif, pada Desember 2007. Informasi tentang acara tersebut mereka temukan saat Googling di internet.

“Kami mendaftarkan penelitian kami, dan akhirnya diterima. Saat itulah, akhirnya kami putuskan harus punya nama grup. Jadilah kami pilih nama Pixel People Project,” tutur Nancy.

Promosi Batik Nasional

Pengalaman mereka mengikuti acara di Milan bisa dikatakan sangat berkesan. Menurut Nancy, presentasi mereka yang dibawakan oleh Luki mendapat tanggapan luar biasa, hanya karena mereka mengangkat budaya dan ornamen tradisional dalam seni komputasi tingkat tinggi.

"Menurut mereka (para peserta konferensi di Milan), langkah yang kami ambil sangat strategis, karena setiap karya seni harus mencerminkan identitas dan jati diri bangsa. Kami dinilai berhasil menghadirkannya dengan cara yang melibatkan teknologi," tutur Nancy. Dari acara tersebut, Pixel People menilai pasar luar negeri begitu menghargai batik fractal yang memadukan seni tradisional, sains, dan teknologi.

Ini sayangnya, menurut Nancy, sangat bertolak belakang dengan pasar dalam negeri. "Terlihat jelas bahwa orang Indonesia hanya sedikit yang menghargai karya desain dan riset. Di Indonesia, semua produk dipandang dari segi harga saja. Itulah yang menyebabkan produk Indonesia itu jatuhnya murah saja dan streotip produknya murah terus di mata dunia. Coba lihat barang fesyen impor yang ada di mal Jakarta. Harganya luar biasa mahal dan orang banyak yang beli tuh. Sementara batik yang bikinnya susah banget cuma dihargai dua ratus ribu rupiah juga masih ditawar," kata Nancy.

Untuk mempromosikan batik fractal di kalangan masyarakat Indonesia, Nancy mengaku dibantu oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Ristek). “Ristek membantu kami mempublikasikan karya kami melalui pameran-pameran. Mungkin yang mendatang dengan workshop ke berbagai pembatik dan talkshow di berbagai forum. Dari kami sendiri sih sudah melakukan banyak publikasi media yaitu lewat radio, majalah, dan surat kabar, selain lewat website kami sendiri,” katanya.

Untuk menambah ilmu, Nancy dan dua rekannya juga banyak mengunjungi berbagai lembaga, seperti Yayasan Batik Indonesia (YBI) dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), serta mengunjungi para pembatik senior seperti Iwan Tirta dan Batik Obin. Mereka juga kerap menghadiri acara diskusi dan pertemuan dengan sesama desainer grafis dan produk. Hal itu mereka lakukan juga untuk menjaga hubungan baik dengan senior, agar terjadi keselarasan dalam transmisi budaya dari generasi ke generasi. 

"Kita kan tak boleh egois pengin bikin karya tapi tidak mempedulikan pengetahuan dan pengalaman seniman yang sudah berkecimpung lebih lama dalam bidang batik," kata Nancy.

Kendala

Grup yang terdiri atas orang-orang yang gemar bereksperimen ini fokus pada bidang riset dan desain. “Kami menjual desain dan hasil riset. Saat ini kami bekerja sama dengan beberapa perajin untuk memroduksi batik dengan desain kami, dan mulai masuk ke bisnis retail. Tetapi kita masih perlu pemodalan untuk melakukan itu,” kata Nancy.

Masalah finansial diakui Nancy masih jadi kendala mereka untuk berkembang. “Saat ini belum ada orang baru dalam Pixel People bukan karena kami tak ingin menambah anggota, tapi karena kami tak punya dana untuk menggaji orang,” kata Nancy sambil tertawa.

Kini, menurut Nancy, Pixel People sedang berusaha mengembangkan usaha mereka dan mencari investor yang berani mengambil risiko. "Supaya krativitas yang sudah menumpuk di kepala bisa terwujud dalam karya nyata," kata Nancy lagi.

Ia berharap industri batik di Tanah Air bisa maju. "Semoga pembatik tradisional bisa kaya raya. Jadi, bukan juragan batiknya saja yang menikmati hasil penjualan batik, sehingga profesi pembatik tidak hilang ditelan jaman. Saya juga berharap anak-anak muda bisa terus mengeksplorasi budaya batik dari bidang apapun. Siapa tahu nanti ada yang meriset batik dari bidang biologi. Kan keren tuh," katanya.

Foto: Dok. Pixel People Project

  Artikel Sebelumnya
   
 
  Referensi
  www.asirpa.org/
www.businessweek.com/innovate/global_index/
1000ventures.com/business_guide/innovation
ec.europa.eu/enterprise/policies/innovation
innovation.alltop.com/
bx.businessweek.com/innovation-metrics/
www.ristek.go.id/
www.bppt.go.id/
www.blackinnovationawards.com/
inaicta.web.id/
bic.web.id/

  Berita
 
SINDIRAN JAGOAN DALAM KARYA UMBU TANGGELA

Surabaya - Pameran lukisan yang menampilkan tokoh-tokoh jagoan digelar Umbu Tanggela di Emitan Galery, Surabaya, hingga Jumat (10/9). Pameran bertema "Superhero avoice of Emptiness" itu agaknya "menyindir" suasana politik tanah air dengan medium superhero.

Lewat lukisan tokoh HAM Munir dan Superman, misalnya, Umbu ingin menggambarkan rasa frustasi rakyat terhadap penanganan kasus pembunuhan Munir yang tak kunjung kelar.

Sumber: www.tempointeraktif.com     
Posting : Kamis, 09 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------
BUKU TERBARU JULIUS POUR TENTANG G-30-S

Jakarta - Berapa sebenarnya korban tewas pasca peristiwa G-30-S? Mendagri Mayjen Dr Soemarno selaku Ketua FFC menyebut 80.000 orang, tapi Komandan RPKAD Kolonel (Inf) Sarwo Edhie Wibowo mengatakan 3 juta.

Buku Gerakan 30 September, Pelaku, Pahlawan & Petualang yang dibuat Julius Pour akan menjawab misteri seputar G-30-S. Buku ini akan beredar minggu terakhir September 2010.

Sumber: oase.kompas.com     
Posting : Rabu, 08 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------
TIGA NOVEL KARYA DAMIEN DILUNCURKAN

Jakarta - Tiga novel karya Damien Dematra tentang Pluralisme dan Ramadhan, diluncurkan penerbit Gramedia Pusataka Utama dan Gerakan Peduli Pluralisme, akhir pekan lalu di Taman Ismail Marzuki. Tiga novel itu adalah Selusin Ramadhan Setahun, Kata Mereka Aku Kafir, dan New York.

Damien selain dikenal sebagai novelis, juga penulis skenario, sutradara, produser, fotografer internasional, dan pelukis. Ia telah menulis 67 novel berbahasa Inggris dan Indonesia, 57 skenario film dan serial TV, dan telah memproduksi 28 film dalam berbagai genre, di antaranya Obama Anak Menteng.

Sumber: oase.kompas.com     
Posting : Selasa, 07 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------
FILM ANAK NEGERI AKAN TAYANG DI PBB

Jakarta - Video pemenang kompetisi Democracy Video Challenge (DVC) yang berjudul "Democracy is Yet to Learn" karya sutradara muda Indonesia, Adhyatmika, akan ditayangkan di PBB pada September. Demikian kata Arend C.Zwartjes, Atase Kebudayaan dari Kedubes AS untuk RI, Jumat (3/9) lalu.

DVC diadakan oleh Kedubes AS. Adhyatmika dan 5 pemenang lainnya dari Iran, Spanyol, Kolombia, Nepal, dan Ethiopia mendapat biaya perjalanan penuh ke Washington DC, Hollywood, dan New York pada September. Dalam kunjungan itu, mereka akan mengunjungi lokasi pembuatan film/TV dan bertemu dengan sutradara, teknisi film, agen pencari bakat profesional, serta ahli media. Video mereka juga akan ditayangkan di Motion Picture Association of America (MPAA).

Sumber: oase.kompas.com     
Posting : Senin, 06 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------
DRAMA MUSIKAL OPERA JAWA TAMPIL DI AMSTERDAM

Jakarta - Drama musikal Opera Jawa-Tusuk Konde karya sutradara Garin Nugroho akan pentas dalam rangka memperingati 100 Tahun Tropen Theatre Museum, Amsterdam, Belanda. Drama musikal itu akan menyuguhkan lakon Cinta Segitiga Rama, Shinta, dan Rahwana, yang dibalut tarian klasik-modern serta seni tradisional lainnya.

Pementasan akan digelar di Tropentheatre, Amsterdam, Sabtu-Minggu (4-5/9). Acara ini didukung oleh para pemain, seperti Eko Supriyanto, Heru Purwanto, dan Dwi Nurul Hidayah. Musiknya digarap oleh komposer Rahayu Supanggah.

Sumber: www.tempointeraktif.com     
Posting : Sabtu, 04 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------

  Berita Sebelumnya
 

    QB LEADERSHIP CENTER  |  BERANDA  |  BERITA RINGKAS  |  KEPEMIMPINAN  |  ENTREPRENEURSHIP  |  INOVASI  |  RESENSI BUKU  |  INDUSTRI KREATIF  |  GAYA HIDUP  |   OPEN SOURCE  |  BLOG