Membidik Untung di Lahan Mobile
Joseph Edi Hut Lumban Gaol mulai merintis bisnis di bidang aplikasi mobile sejak tahun 2000. Kala itu, pria yang akrab disapa Joe ini mendirikan m-Stars. Proyek pertama yang dia peroleh adalah mengembangkan aplikasi mobile banking (m-banking) untuk bank terbesar di Tanah Air, Bank Cental Asia.
Karier Joe di dunia TI bisa dibilang mulus. Sewaktu masih kuliah di jurusan Teknik Informatika, Institut Teknologi Bandung, dia pernah bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan konsultan TI. Lulus dari ITB pada tahun 1994, Joe mantap untuk melirik karier yang berhubungan dengan bisnis.
“Karena ada pengalaman kerja itu (sebagai programmer), sepertinya personality saya nggak fit sebagai programmer. I need to learn business,” kata Joseph. Dia sempat diterima bekerja di PT Garuda dan Bank Bumi Daya (BBD). Namun, kedua kesempatan itu ditepisnya karena sangat berhubungan dengan TI. “Lalu saya diterima di GE Lighting Indonesia. Di GE saya diminta menjadi sales engineer. GE is a good company. Jadi saya ke GE tahun 1994. I want to leave this IT things, saya ingin belajar bisnis,” ujarnya.
Selama bekerja di GE, Joe mengaku banyak mendapat pelajaran. Dalam waktu empat tahun, kariernya menanjak. Pada tahun 1997, dia diangkat menjadi Marketing Manager. Pada saat itulah, dia menyadari bahwa dia masih memiliki passion di bidang TI. “Saya sudah mengerti bisnis, dan ingin kembali ke TI, tapi nggak lepas dari bisnis,” tutur pria kelahiran 11 Juni 1969 ini.
Akhirnya, pada tahun 1998, Joe hengkang dari GE Lighting dan menjajal peruntungan di PT Excelcomindo Pratama (XL). Posisi awalnya sebagai Product Manager. “Saya masuk ke XL, dan benar saya suka sekali,” ungkap Joe. Alasannya, ada banyak produk dan jasa telekomunikasi yang bisa dikembangkannya di sana.
Pada saat itu, dia berkisah, operator masih fokus dengan telekomunikasi suara, tarif, serta hal perluasan jaringan. XL juga masih dikenal sebagai operator nomor tiga, yang tarifnya mahal dan jaringannya belum luas. “Saya pikir, kita nggak bisa bersaing dengan operator lain yang jaringan lebih luas. We really have to come out with these VAS (value added services),” kata Joe.
Menurut dia, VAS sangat penting untuk menarik pelanggan. “Orang itu nggak setia dengan nomor, tapi dengan apa yang bisa diberikan oleh nomornya. Kalau kita put something in sticky, mereka akan tertarik.”
Mobile Banking
Berbagai riset dilakukan Joe untuk mencari tahu produk apa saja yang kira-kira bisa mereka kembangkan. Salah satu yang menurutnya prospektif adalah m-banking. “Produknya harus secure karena berhubungan dengan bank,” ujarnya.
Jajaran direksi perusahaannya merasa tertarik dengan konsep yang diusung oleh Joe. “Tapi mereka bilang, fokus mereka masih di (aplikasi) suara,” cetus Joe. Meski maklum dengan hal itu, apalagi saat itu masih krisis moneter, Joe merasa gregetan. Dia merasa sangat yakin dengan konsep aplikasinya itu. “I cannot make them think the way I think,” ujar Joe.
Setelah berdiskusi dengan sang istri, Sylviana Morina Chandra, Joe pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari XL dan memulai usahanya sendiri. “Saya resign bukan karena saya nggak punya passion lagi dengan perusahaan ini, tapi agar saya bisa berkreasi,” paparnya.
Setelah sempat 'bertapa' selama hampir setahun untuk menyusun business plan, pada tahun 2000 Joe mendirikan m-Stars di bawah bendera PT Antar Mitra Prakarsa. Dia juga menggandeng seorang rekannya dari XL. Bank pertama yang dia dekati sebagai klien adalah Bank Internasional Indonesia (BII). Sementara pihak operatornya adalah XL.
Sayang, pihak XL kurang tertarik dengan bank yang telah digandeng Joe. “Lets try with the biggest bank,” Joe menirukan kata-kata mantan bosnya di XL. Yang dimaksud sebagai bank terbesar adalah BCA yang saat itu memiliki 8 juta nasabah. “Jika dalam tiga bulan BCA nggak mau, kita go with BII.” Hal ini membuat Joe menangguhkan kerja sama dengan bank pertama.
BCA ternyata memberikan sinyal positif. Namun, proses pendekatannya―mulai dari pengenalan konsep hingga deal―berlangsung cukup lama, sekitar 9 bulan. Setelah menandatangai kerja sama dengan BCA, Joe membeli platform khusus untuk mengembangkan aplikasi m-banking. Namanya Across Wireless, yang kini berganti menjadi SmartTrust. Modal yang dia perlukan saat itu, untuk platformnya saja, bernilai Rp8 miliar, yang diperolehnya dengan meminjam pada bank.
Pada Oktober 2000, aplikasi m-banking tersebut dirilis. Pengembangannya dilakukan oleh tim kecil yang terdiri dari 8 orang, termasuk Joe sendiri. Pada bulan pertama dirilis, menurut Joe, ada sekitar 60 ribu pelanggan yang aktif menggunakan aplikasi itu. “Transaksi terbanyak yang dilakukan adalah cek saldo dan isi pulsa.”
Kerja sama Joe dengan BCA hanya berlangsung hingga 2003. Dia mengaku agak kesulitan bekerja sama dengan dua perusahaan besar. “Pihak bank belum terlalu mengerti mengenai teknologi ini, yang saat itu terlalu advanced buat mereka. Mereka bingung siapa pihak yang harus marketing, kita terhimpit di tengah-tengah,” ujarnya.
Pada tahun 2004, Joe meminta BCA untuk membeli platform m-banking-nya. Saat itu, belum ada perusahaan yang menjadi pesaing m-Stars. Tapi sekarang, beberapa perusahaan pesaing bermunculan dan menggandeng bank-bank lain. Setelah menjual platform itu, Joe memutuskan untuk memasuki bisnis konten mobile.
Berkembang
Sebagai pionir di bidang konten mobile, bisnis m-Stars berkembang cukup pesat. Karyawan yang dimiliki Joe kini berjumlah 105 orang. Setelah m-banking, beragam konten dan aplikasi diciptakan oleh m-Stars. Di antaranya SMS Quiz dan Motion, sistem pembayaran mobile berbasis bank yang memungkinkan pengguna melakukan pembayaran debit. Layanan Motion dibuat m-Stars, menggandeng BNI. Target layanan ini adalah kaum muda yang melek teknologi.
Saat ini, ada lima lini layanan m-Stars. “Yang pertama commerce,” kata Joe. Contohnya adalah BNI Motion. Layanan lain ada di bidang konten dan mobile advertising. Selain itu, masih ada www.popmaya.com dan LiLO City.
“Anything about music, kita akomodir di PopMaya,” ujar Joe. Anggota portal musik tersebut bisa sekadar fans atau musisi yang ingin menghasilkan uang dengan menjual karya-karyanya. Sementara LiLO City dibuat sebagai situs jejaring sosial berkonsep massive multimedia role playing game.
Joe menyampaikan, fokus utama perusahaannya saat ini adalah mobile media. “Fokus kami sekarang adalah mobile media. Karena mobile sekarang fungsinya bukan telekomunikasi lagi, tapi media massa ketujuh setelah TV dan internet. Media massa pertama itu cetak, lalu mulai ke sinema dan recording, lalu masuk ke radio, TV, dan internet,” papar Joe. Dia mengambil contoh fungsi mobile sebagai media. “Sekarang kampanye pakai mobile, bisa broadcast dan sifatnya interaktif.”
Optimistis
Pernah membuat produk yang gagal? “Produk yang gagal, pasti ada dong. Contohnya dari konten saja ya. Ada konten yang sukses, ada yang gagal. Kita pernah bikin konten bola yang sangat sukses, tapi ada juga yang bikin kita rugi habis. Ini seperti portofolio lah,” jawab Joe.
Kendati demikian, ayah dari Francis Karel Lumban Gaol (11), Maura Gabriella (8), dan Jocanka Michelle Karla (4) ini tidak melihat produk yang gagal sebagai bentuk kegagalan. Menurutnya, setiap layanan pasti sudah ada riset dan business case-nya. Produk yang gagal biasanya terjadi karena pasar belum siap. “Jika market belum siap, biasanya kita hold dulu (produknya).” Pasar yang belum siap itu diakui Joe sebagai tantangan terberatnya menjalani bisnis mobile.
Target utama yang dibidik Joe, utamanya, adalah anak muda. “Youth itu technology savvy, mereka adalah future market,” kata Joe. Dia sendiri optimistis dengan potensi pasar mobile di tanah Air. “Potensi pasarnya sangat besar. Sekarang saja, jumlah pelanggan mobile ada 120 juta orang lebih. Sedangkan jumlah penduduk Indonesia 200-an juta orang. Kita masih punya potensi yang sangat besar,” ungkapnya.
Potensi pasar mobile pun tidak hanya ada di Indonesia. “Begitu sudah di mobile, aplikasinya sudah worldwide. Jadi, konten kita bisa diakses oleh semua operator di seluruh dunia,” ucapnya. Itu adalah target Joe ke depan.
“Sekarang m-Stars sudah punya kerja sama dengan semua operator di Tanah Air, baik GSM maupun CDMA,” kata dia. Jika m-Stars bisa bekerja sama dengan perusahaan lain di luar negeri, yang seperti m-Stars, dia yakin juga bisa terhubung dengan banyak operator di luar negeri.
Ilustrasi: www.svcwireless.orgOleh: Restituta Ajeng Arjanti |