Kreasi Patung Batu Khas Majapahit
Oleh: Restituta Ajeng Arjanti
Sejak tahun 1977, Ribut Sumiyono sudah mulai belajar memahat batu. Kala itu, usianya masih 14 tahun. Keseriusan Ribut menekuni seni pahat dimulai dari keisengannya ikut membantu tetangganya yang kebetulan memang pematung.
“Lama-lama jadi keterusan. Saya makin serius,” katanya. Untuk mengasah keahliannya memahat dan mempelajari anatomi patung batu, Ribut pun sering mengunjungi candi dan museum.
Semakin mahir memahat batu, pada tahun 1986 Ribut lalu memutuskan untuk membuka usaha sendiri di bidang tersebut. Dia menamainya “Selo Adji”. Ribut bercerita, “Modalnya waktu itu hanya buat beli batu satu truk, senilai Rp150 ribu. Saya belum punya karyawan.”
Ribut menuturkan alasannya memilih nama Selo Adji. “Selo itu berarti batu, sedang adji berarti bernilai atau harga diri. Saya berharap Selo Adji dapat membuat sebuah batu makin memiliki 'harga diri', artinya lebih bernilai jual.”
Khas Majapahit
Lokasi tempat tinggal Ribut di Trowulan, yang dikenal sebagai daerah peninggalan Kerajaan Majapahit, ikut mempengaruhi sentuhan hasil karyanya. “Patung buatan saya memiliki ciri khas Majapahit-an,” kata laki-laki kelahiran Mojokerto, 6 Juni 1963 ini. Selain itu, Ribut pun rajin mencari inspirasi dengan mengunjungi museum dan candi, membaca buku dan majalah, atau nonton video.
Menurut pecinta dan kolektor motor besar Harley Davidson ini, kebanyakan konsumennya menyukai patung berdesain klasik. “Contohnya patung Budha, Ganesha, Wisnu, Dewi Tara, Dewi Sri, Lokapala, Dwarepala, Durga, Syiwa, Manyusri,” paparnya. Salah satu patung buatannya, ia menyebutkan, bisa dilihat di koridor Hotel Dharmawangsa, Jakarta.
Meski desain klasik diminati, namun tidak berarti semua karya Ribut bertema klasik. Ada juga yang bercorak Eropa. Intinya, kata Ribut, desain ini bisa tergantung pada pesanan yang datang padanya. “Seperti patung yang dipasang di Perumahan Istana Dieng Malang, patung Budha di Vihara Mendut Magelang, patung Yesus dan Bunda Maria di Gereja Katolik Paroki Santo Yoseph, Denpasar―itu pesanan,” ujar Ribut.
Promosi
Modal dan urusan pemasaran diakui Ribut menjadi tantangan terbesar yang dihadapinya selama mengembangkan Selo Adji. Untuk berpromosi, Ribut mengandalkan cara tradisional, dari mulut ke mulut.
“Misalnya, saya pernah mengerjakan patung batu di Araya Golf Malang. Saya lalu kenal dengan Bapak Ing Wibisono, seorang arsitek taman yang kebetulan juga dapat proyek di Araya Golf Malang. Oleh Bapak Ing, nama saya mulai dikenalkan ke komunitas arsitek taman. Saya lalu dapat order patung Rama Shinta, Dewi Tara, Dewi Sri dari Khayangan Resto di kompleks Citraland Surabaya,” paparnya.
Selain mengandalkan cara tradisional itu, Ribut pun memanfaatkan internet sebagai media sosialisasi bisnisnya. Oleh salah satu rekannya, Cak Abdul Malik, Ribut dikenalkan pada internet. “Saya dibuatkan dua blog, satu di Blogspot yang lain di Multiply,” ujarnya.
Berkembang
Bisnis yang dirintis Ribut bisa dibilang cukup berkembang. Bukan hanya dijual di dalam negeri, patung-patung pahatan Ribut juga sudah banyak yang dikirim ke luar negeri. “Dalam negeri, ada yang dijual ke Jakarta, Yogya, Surabaya. Sementara yang ke luar negeri, ke Eropa, Amerika Serikat, Australia, Thailand, Singapura,” sebutnya.
Penasaran, berapa kisaran harga patung buatan Ribut? “Harga patung buatan saya berkisar antara Rp250 ribu, contohnya patung kepala Budha tinggi 40 cm, sampai Rp35 juta, contohnya patung Yesus setinggi 3 meter,” kata Ribut. Harga ini ditentukan oleh ukuran, kualitas, serta tingkat kesulitan membuatnya.
Omzet bisnis patungnya ini, diakui Ribut, tidak tetap. “Terkadang ya Rp15 juta sampai Rp30 juta per bulan. Bahkan pernah satu bulan tidak ada order sama sekali.”
Desainer Patung
Semua desain patung berlabel Selo Adji dibuat sendiri oleh Ribut. Tidak ada ukuran pasti tentang waktu yang dia perlukan untuk membuat satu buah patung. Menurut Ribut, lama proses pembuatan tergantung pada besar kecil, serta tingkat kerumitan patungnya. Sebagai contohnya, dia membuat patung Ganesha setinggi satu meter dalam waktu tiga minggu.
Untuk bahan baku patungnya, Ribut menggunakan batu jenis andesit yang dibelinya di daerah Gunung Kelud, Kediri. Pada proses awalnya, dia bertigas mendesain patung. “Sehabis membeli batu, sampai di rumah saya langsung mbakali (melakukan proses pembentukan awal),” katanya.
Setelah itu, proses pemahatan dilanjutkan oleh beberapa karyawannya. Jika sudah selesai, Ribut lah yang bertanggung jawab untuk melakukan proses finishing. Saat ini, sudah ada 13 pematung yang bekerja pada Ribut. Semuanya tinggal di Trowulan.
Cita-cita
Keterampilan memahat diturunkan Ribut pada salah satu anaknya, Bayu Bimantara, yang kini menimba ilmu di Universitas Negeri Malang. “Putra saya bisa membuat patung batu, bahkan karyanya dikoleksi oleh Olivier DeBray, Direktur Pusat Kebudayaan Perancis di Surabaya,” kata Ribut dengan bangga.
Ada satu cita-cita yang ingin digapainya, yakni membuat museum pribadi. “Saya ingin membangun museum pribadi yang memuat koleksi karya sendiri―mulai dari awal karier, termasuk peralatan milik ayah saya yang berupa peralatan pande besi,” ucapnya. Selain itu, dia juga berharap bisnis patung batunya bisa berjalan mulus. “Dan ada bantuan atau pinjaman lunak untuk modal kerja,” ia menambahkan.
Foto: www.streetdirectory.com
Kontak Workshop Selo Adji Jl. Raya Jatisumber 11 Dusun Jatisumber, Desa Watesumpak, Kec. Trowulan, Kab. Mojokerto, Jawa Timur Phone/Fax: 0321- 496171 Mobile: 081 232 79 716 Email: ribut.sumiyono@gmail.com Web: http://seloadji.multiply.com
|
| |
- Bikin Bisnis Waralaba, Konsultasi dengan Ahlinya
- Mencari Laba dari Meja Laptop Berbantal
- Coklat Chic, Kue Coklat “Customize and Personalize”
- Kedai Digital, Bisnis Personalisasi Merchandise
- Menggali Budaya Lewat Kreasi Busana
- Replika Kerajaan Nusantara dalam Komputer
- Membangun Apresiasi Musik Klasik di Indonesia
- Andal Software, Produksi Software Kelas Enterprise
- Peni Cameron, Bela Bangsa Lewat Animasi
- Arief Budiman, Sukses Jualan Ide Segar Bersama Petakumpet
- Beoscope, Dukungan untuk Jurnalisme Video Lokal
- Laskar Pelangi, Indonesia's Most Powerful Movie of the Year
- Rumah Kebaya Yeni, Dimulai karena Krismon
- Salma Craft, Mimpi “Bos Kecil” Berbisnis Handicraft
- Toko Grosir Online, Khusus Busana Muslim
- Manet Busana Muslim Plus, Usaha Pantang Menyerah Badroni Yuzirman
- Aryo Wicaksono, Piano, dan Musik Klasik
- Kreasi Kaleng Cantik Ala Lani Cahyaningsari
- Menikmati Resital Angklung di Saung Angklung Udjo
- Wayang Butuh “Packaging” yang Menarik
- Teknologi untuk Kebangkitan Industri Kreatif Nasional
- Pinch Kreatif, Bisnis Advertising Bermodal Nekat
- Kota Kembang Gelar Pameran Potensi Kreatif
- Ritual Fotografi: The Past, The Present, and The Future of Photography
- Antin dan Jinjit Pottery, Bisnis Keramik Berbasis Hobi
- Stucel, One-Stop-Shop di Bidang Web Design
- Viking Karwur: Jadi Freelance Web Designer Lebih Menantang
- Alvin Tjitrowirjo, Mencipta Karya Orisinal Lewat Eksperimen
- Batik Fractal: Paduan Seni, Sains, dan Teknologi
- Seven Blue Artland Studio, Pengembang Manga Dalam Negeri
- Allure Batik, Suksesnya Berawal dari Garasi
- Interpix Consult, Desainer Indonesia “Melancong” ke Thailand
- Boemboe untuk Film Pendek Indonesia
- Akademi Samali, Ruang Belajar Komik Indonesia
- Crayon's Craft & Co, Saluran Hobi Bikin Miniatur yang Menghasilkan
- Wahyu Aditya: Jadi Animator Berkat Pak Tino Sidin
- Inacraft 2008, Gudang Budaya dan Kreasi Indonesia
- Common Room, Jembatan Kaum Kreatif di Paris van Java
- Ekosistem Industri Kreatif di Indonesia
- Industri Kreatif Bukan Barang Baru
- Braincode Solution: Orisinalitas, Kunci Sukses Berbisnis Konten
| |
|
| |
| |
 Surabaya - Pameran lukisan yang menampilkan tokoh-tokoh jagoan digelar Umbu Tanggela di Emitan Galery, Surabaya, hingga Jumat (10/9). Pameran bertema "Superhero avoice of Emptiness" itu agaknya "menyindir" suasana politik tanah air dengan medium superhero.
Lewat lukisan tokoh HAM Munir dan Superman, misalnya, Umbu ingin menggambarkan rasa frustasi rakyat terhadap penanganan kasus pembunuhan Munir yang tak kunjung kelar.
Sumber: www.tempointeraktif.com     
Posting : Kamis, 09 September 2010
Category:
| | ------------------------------------------------------- |
 Jakarta - Berapa sebenarnya korban tewas pasca peristiwa G-30-S? Mendagri Mayjen Dr Soemarno selaku Ketua FFC menyebut 80.000 orang, tapi Komandan RPKAD Kolonel (Inf) Sarwo Edhie Wibowo mengatakan 3 juta.
Buku Gerakan 30 September, Pelaku, Pahlawan & Petualang yang dibuat Julius Pour akan menjawab misteri seputar G-30-S. Buku ini akan beredar minggu terakhir September 2010.
Sumber: oase.kompas.com     
Posting : Rabu, 08 September 2010
Category:
| | ------------------------------------------------------- |
Jakarta - Tiga novel karya Damien Dematra tentang Pluralisme dan Ramadhan, diluncurkan penerbit Gramedia Pusataka Utama dan Gerakan Peduli Pluralisme, akhir pekan lalu di Taman Ismail Marzuki. Tiga novel itu adalah Selusin Ramadhan Setahun, Kata Mereka Aku Kafir, dan New York.
Damien selain dikenal sebagai novelis, juga penulis skenario, sutradara, produser, fotografer internasional, dan pelukis. Ia telah menulis 67 novel berbahasa Inggris dan Indonesia, 57 skenario film dan serial TV, dan telah memproduksi 28 film dalam berbagai genre, di antaranya Obama Anak Menteng.
Sumber: oase.kompas.com     
Posting : Selasa, 07 September 2010
Category:
| | ------------------------------------------------------- |
 Jakarta - Video pemenang kompetisi Democracy Video Challenge (DVC) yang berjudul "Democracy is Yet to Learn" karya sutradara muda Indonesia, Adhyatmika, akan ditayangkan di PBB pada September. Demikian kata Arend C.Zwartjes, Atase Kebudayaan dari Kedubes AS untuk RI, Jumat (3/9) lalu.
DVC diadakan oleh Kedubes AS. Adhyatmika dan 5 pemenang lainnya dari Iran, Spanyol, Kolombia, Nepal, dan Ethiopia mendapat biaya perjalanan penuh ke Washington DC, Hollywood, dan New York pada September. Dalam kunjungan itu, mereka akan mengunjungi lokasi pembuatan film/TV dan bertemu dengan sutradara, teknisi film, agen pencari bakat profesional, serta ahli media. Video mereka juga akan ditayangkan di Motion Picture Association of America (MPAA).
Sumber: oase.kompas.com     
Posting : Senin, 06 September 2010
Category:
| | ------------------------------------------------------- |
 Jakarta - Drama musikal Opera Jawa-Tusuk Konde karya sutradara Garin Nugroho akan pentas dalam rangka memperingati 100 Tahun Tropen Theatre Museum, Amsterdam, Belanda. Drama musikal itu akan menyuguhkan lakon Cinta Segitiga Rama, Shinta, dan Rahwana, yang dibalut tarian klasik-modern serta seni tradisional lainnya.
Pementasan akan digelar di Tropentheatre, Amsterdam, Sabtu-Minggu (4-5/9). Acara ini didukung oleh para pemain, seperti Eko Supriyanto, Heru Purwanto, dan Dwi Nurul Hidayah. Musiknya digarap oleh komposer Rahayu Supanggah.
Sumber: www.tempointeraktif.com     
Posting : Sabtu, 04 September 2010
Category:
| | ------------------------------------------------------- |
|
| |