Slideshow image


Since your web browser does not support JavaScript, here is a non-JavaScript version of the image slideshow:

slideshow image


slideshow image


    QB LEADERSHIP CENTER  BERANDA  BERITA RINGKAS  KEPEMIMPINAN  ENTREPRENEURSHIP  INOVASI  RESENSI BUKU  INDUSTRI KREATIF  GAYA HIDUP   OPEN SOURCE   BLOG 
Peni Cameron, Bela Bangsa Lewat Animasi

Oleh: Restituta Ajeng Arjanti

Ada banyak hal yang bisa dilakukan animasi. Begitu pendapat Peni Cameron, salah satu aktivis di dunia animasi dalam negeri yang juga salah satu pendiri Asosiasi Industri Animasi & Konten Indonesia (AINAKI).

“Lewat film animasi kita bisa membangun karakter anak-anak yang menonton, karena animasi pasti ada unsur berjuang, persahabatan, menang dan kalah, dan lain-lain yang penting buat pertumbuhan perilaku dan karakter mulai dari usia dini,” kata Peni.

Film animasi, menurutnya lagi, juga bisa mengembangkan kemampuan orang untuk berimajinasi. Lewat animasi, orang bebas berekspresi dan menciptakan keadaan yang tak bisa dibuat manusia biasa. Misalnya menyindir orang lain atau pemerintah, tanpa membuat pihak yang disindir merasa tersinggung.

Menyadari besarnya potensi industri animasi di Tanah Air, wanita kelahiran Surabaya, 13 September 1966 ini ingin merangkul bisnis di bidang itu. Pada tahun 2006, Peni mendirikan PT Citra Andra Media (CAM Solutions, disingkat CAMS). Fokusnya memasarkan produk animasi karya anak negeri.

Marketing Lewat CAMS

“Sebenarnya, ide mendirikan CAMS datang karena kami sadar asosiasi tak punya dana untuk gerak. Jadi harus ada perusahaan yg dibikin untuk menjalankan programnya. Karena yang kurang adalah soal marketing, maka dibikinlah perusahaan yang khusus akan me-marketing-kan animasi,” wanita yang menjabat sebagai Presdir CAMS ini menjelaskan.

Potensi industri animasi bukan hanya pada filmnya, tapi juga merchandise karakter-karakternya, kata Peni. “Bayangkan kalau (merchandise) karakter film-film animasi Indonesia ada di semua mal, bahkan sampai ke luar negeri, seperti tas, jam, mainan, dan buku,” katanya.

Fungsi marketing CAMS dilakukan lewat program Animart yang secara khusus mengurus produksi dan penjualan film animasi. Sebelum ditayangnya, film-film animasi ini dibuat dulu secara kontinyu hingga minimal 52 episode. Misi mulia Animart adalah untuk mensejahterakan studio-studio animasi di Tanah Air.

Selain menjual film, CAMS juga punya agenda kegiatan animasi seperti Indonesia Creative Idol (ICI) dan CAM's Award. ICI, menurut Peni, diadakan mulai tahun ini untuk menumbuhkan “mesin kreativitas” di kalangan masyarakat. Caranya dengan melombakan 9 spektrum industri kreatif—digital music, digital comic, animation, music performance, dance performance, fashion, craft, applied science, dan game—yang mengangkat unsur budaya lokal. Hasil lomba akan didaftarkan HAKI-nya atas nama penciptanya.

Sementara, CAM's Award melombakan pembuatan animasi berbentuk iklan layanan masyarakat. Tema yang bisa dipilih beragam. Misalnya tentang budaya disiplin, tepat waktu, antikorupsi, atau sadar lingkungan. Lewat acara ini, CAMS ingin mengajak komunitas kreatif untuk menciptakan film animasi yang mendidik, tidak terkesan menggurui, dan mudah dimengerti. Dengan begitu, animasi bisa tampil menarik dan disukai banyak orang, termasuk anak-anak. Singkat kata, menurut Peni, CAM's Award bertujuan untuk membentuk karakter bangsa. Lulusan Teknik Arsitektur, Institut Teknik Indonesia, Serpong, ini ingin CAM's Award bisa jadi ajang rutin tahunan, bahkan jadi ajang internasional.

Kreatif karena Kepepet


Kreativitas di mata Peni berarti bisa melihat atau menilai, juga membentuk sesuatu―baik barang atau ide―yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru. “Kreatif itu bisa mengilhami banyak orang dan bisa bikin orang lain berdecak kagum. Kreatif itu juga percaya diri dan mau membuat sesuatu yang lain dari yang lain. Kreatif itu sama juga mengubah “PR” (pekerjaan rumah) menjadi “Rp” (rupiah),” tuturnya. “Kepepet atau tidak, jadikanlah kreatif itu budaya.”

Ayahnya diakui Peni sebagai orang yang membentuknya jadi manusia kreatif. “Yang jadi inspirasi bapak saya. Alasannya, bapak saya tentara, jadi nggak punya duit banyak, dan ajarannya adalah “jangan minta-minta kalau nggak punya, lebih baik tanganmu memberi daripada menengadah”. Jadilah saya kreatif karena kepepet,” kata Peni.

Cerita-cerita masa muda ayahnya dulu, misalnya saat beliau mem-blow rambutnya ala penyanyi Elvis Priestley dengan kanji, bisa membuat otak Peni jadi 'terang' untuk berkreasi.

Ayahnya yang tentara, yang bertugas membela negara, diakui Peni, menurunkan sifat pejuang pada dirinya untuk “membela negara” dari sudut yang lain. “Sementara ibu saya sendiri pintar bikin baju-baju pesta, dan dulu pernah punya salon. Jadi mungkin memang dari dulu saya udah diajarkan kreatif,” paparnya.

Pendidikan Kreatif sebagai Bekal


Peni menekankan pentingnya pendidikan kreatif bagi anak-anak. Ia bahkan menyarankan para orangtua, khususnya yang kurang mampu secara finansial atau memiliki anak yang kurang mampu dalam hal akademis, untuk menyekolahkan anaknya di sekolah yang menyediakan pendidikan kreatif. Misalnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sekolah tari, atau sekolah dalang. Dengan bekal pendidikan itu, diharapkan anak bisa lebih cepat mendapat posisi sesuai bidang kreatif yang dipelajarinya.

Ada tips dari Peni untuk orang-orang yang ingin sukses di bidangnya. “Semua bidang pekerjaan itu bisa sukses kalau kita mencintai apapun pekerjaan dan bidangnya itu. Dengan begitu, kita mau melakukan apapun untuk mencari terobosan-terobosan baru. Kita juga perlu paham tentang kompetensi dan soft kompetensi, jujur, be your self, dan percaya bahwa apapun yang kita dapat adalah restu dari Allah. Jadi, kerjakan pekerjaan dengan serius, dan banggalah dengan profesi yang dimiliki,” kata dia.

Animasi di Tanah Air


Peni menilai dunia animasi Indonesia dua tahun belakangan ini berkembang luar biasa pesat. Hal itu bisa dilihat dari makin banyaknya jumlah peserta lomba animasi, juga jumlah sekolah kejuruan dan kursus animasi. Sayangnya, masih ada kendala yang menghambat industri kreatif yang baru tumbuh ini.

Industri animasi di Indonesia belum terstruktur, kata Peni. Produk animasi umumnya diselesaikan oleh satu kelompok animator serabutan. Profesi animator disandang hanya pada saat mereka mengerjakan proyek. Setelah itu, profesi mereka bisa berganti, sambil menunggu tawaran proyek dari pemerintah atau pihak swasta.

Kendala lain bisa dilihat dari sisi finansial. “Besarnya biaya produksi mengakibatkan daya dukung finansial para animator menurun. Bahkan, sedikit sekali animator yang bisa membangun animasi sebagai industri,” kata Peni. Kondisi ini, paparnya, makin parah karena belum ada investor yang bergerak di industri animasi. Kalangan perbankan pun belum percaya pada industri ini lantaran belum melihat prospeknya untuk menggerakkan kelompok industri lain.

Menurut Peni, belum adanya kemandirian produksi film animasi Indonesia membuat profesi animator belum dipercaya. Animator hanya dianggap sebagai pekerjaan senggang. Dan akhirnya, banyak animator lebih suka bekerja sendiri untuk menghindari risiko kesalahan oleh orang lain. Animator cenderung bertindak sebagai aktor, sekaligus penulis cerita, penulis skrip, sutradara, editor, dan kalau perlu juga jadi pengisi musik dan dialog. Bahkan, banyak animator menganggap animator lain sebagai pesaing.

Bagaimana dengan peran pemerintah untuk mendukung industri animasi Tanah Air? “Penanganan membenahi akar permasalahan kurang tepat dari pemerintah selaku fasilitator. Bukannya mereka nggak membantu, hanya kurang tepat,” jawab Peni. “Kalau pemerintah memberi modal untuk bikin film, filmnya nggak boleh dibisnisin. Atau misalnya, kami perlu pendanaan. Tapi karena industri animasi dianggap industri yang intangible, jadi susah dapat pendanaan lunak. Padahal kawan-kawan animator butuh untuk modal,” paparnya.

Pada dasarnya, dukungan pendanaan inilah yang paling dibutuhkan untuk mengatasi kendala dalam cabang industri kreatif ini, bukan pameran melulu. “Kami bosan juga kalau pameran terus. Pertama, jarang ada (pengunjung) yang datang, dan yang datang pun cuma lihat-lihat saja―bukan pembeli,” tuturnya.

Peni sendiri berharap industri animasi dalam negeri bisa cepat maju. “Semoga ada film animasi Indonesia yag setiap hari ditayangkan di TV. Targetnya, maunya, maksimal dua tahun, karena kelamaan kalau menunggu lima sampai tiga puluh tahun. Setelah itu, (film) bisa dilempar ke pasar Asia yang lain,” ungkap Peni.

Foto: Dok. Peni Cameron

  Artikel Sebelumnya
   
 
  Referensi
  www.asirpa.org/
www.businessweek.com/innovate/global_index/
1000ventures.com/business_guide/innovation
ec.europa.eu/enterprise/policies/innovation
innovation.alltop.com/
bx.businessweek.com/innovation-metrics/
www.ristek.go.id/
www.bppt.go.id/
www.blackinnovationawards.com/
inaicta.web.id/
bic.web.id/

  Berita
 
SINDIRAN JAGOAN DALAM KARYA UMBU TANGGELA

Surabaya - Pameran lukisan yang menampilkan tokoh-tokoh jagoan digelar Umbu Tanggela di Emitan Galery, Surabaya, hingga Jumat (10/9). Pameran bertema "Superhero avoice of Emptiness" itu agaknya "menyindir" suasana politik tanah air dengan medium superhero.

Lewat lukisan tokoh HAM Munir dan Superman, misalnya, Umbu ingin menggambarkan rasa frustasi rakyat terhadap penanganan kasus pembunuhan Munir yang tak kunjung kelar.

Sumber: www.tempointeraktif.com     
Posting : Kamis, 09 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------
BUKU TERBARU JULIUS POUR TENTANG G-30-S

Jakarta - Berapa sebenarnya korban tewas pasca peristiwa G-30-S? Mendagri Mayjen Dr Soemarno selaku Ketua FFC menyebut 80.000 orang, tapi Komandan RPKAD Kolonel (Inf) Sarwo Edhie Wibowo mengatakan 3 juta.

Buku Gerakan 30 September, Pelaku, Pahlawan & Petualang yang dibuat Julius Pour akan menjawab misteri seputar G-30-S. Buku ini akan beredar minggu terakhir September 2010.

Sumber: oase.kompas.com     
Posting : Rabu, 08 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------
TIGA NOVEL KARYA DAMIEN DILUNCURKAN

Jakarta - Tiga novel karya Damien Dematra tentang Pluralisme dan Ramadhan, diluncurkan penerbit Gramedia Pusataka Utama dan Gerakan Peduli Pluralisme, akhir pekan lalu di Taman Ismail Marzuki. Tiga novel itu adalah Selusin Ramadhan Setahun, Kata Mereka Aku Kafir, dan New York.

Damien selain dikenal sebagai novelis, juga penulis skenario, sutradara, produser, fotografer internasional, dan pelukis. Ia telah menulis 67 novel berbahasa Inggris dan Indonesia, 57 skenario film dan serial TV, dan telah memproduksi 28 film dalam berbagai genre, di antaranya Obama Anak Menteng.

Sumber: oase.kompas.com     
Posting : Selasa, 07 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------
FILM ANAK NEGERI AKAN TAYANG DI PBB

Jakarta - Video pemenang kompetisi Democracy Video Challenge (DVC) yang berjudul "Democracy is Yet to Learn" karya sutradara muda Indonesia, Adhyatmika, akan ditayangkan di PBB pada September. Demikian kata Arend C.Zwartjes, Atase Kebudayaan dari Kedubes AS untuk RI, Jumat (3/9) lalu.

DVC diadakan oleh Kedubes AS. Adhyatmika dan 5 pemenang lainnya dari Iran, Spanyol, Kolombia, Nepal, dan Ethiopia mendapat biaya perjalanan penuh ke Washington DC, Hollywood, dan New York pada September. Dalam kunjungan itu, mereka akan mengunjungi lokasi pembuatan film/TV dan bertemu dengan sutradara, teknisi film, agen pencari bakat profesional, serta ahli media. Video mereka juga akan ditayangkan di Motion Picture Association of America (MPAA).

Sumber: oase.kompas.com     
Posting : Senin, 06 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------
DRAMA MUSIKAL OPERA JAWA TAMPIL DI AMSTERDAM

Jakarta - Drama musikal Opera Jawa-Tusuk Konde karya sutradara Garin Nugroho akan pentas dalam rangka memperingati 100 Tahun Tropen Theatre Museum, Amsterdam, Belanda. Drama musikal itu akan menyuguhkan lakon Cinta Segitiga Rama, Shinta, dan Rahwana, yang dibalut tarian klasik-modern serta seni tradisional lainnya.

Pementasan akan digelar di Tropentheatre, Amsterdam, Sabtu-Minggu (4-5/9). Acara ini didukung oleh para pemain, seperti Eko Supriyanto, Heru Purwanto, dan Dwi Nurul Hidayah. Musiknya digarap oleh komposer Rahayu Supanggah.

Sumber: www.tempointeraktif.com     
Posting : Sabtu, 04 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------

  Berita Sebelumnya
 

    QB LEADERSHIP CENTER  |  BERANDA  |  BERITA RINGKAS  |  KEPEMIMPINAN  |  ENTREPRENEURSHIP  |  INOVASI  |  RESENSI BUKU  |  INDUSTRI KREATIF  |  GAYA HIDUP  |   OPEN SOURCE  |  BLOG