Slideshow image


Since your web browser does not support JavaScript, here is a non-JavaScript version of the image slideshow:

slideshow image


slideshow image


    QB LEADERSHIP CENTER  BERANDA  BERITA RINGKAS  KEPEMIMPINAN  ENTREPRENEURSHIP  INOVASI  RESENSI BUKU  INDUSTRI KREATIF  GAYA HIDUP   OPEN SOURCE   BLOG 
Alvin Tjitrowirjo, Mencipta Karya Orisinal Lewat Eksperimen

Oleh: Restituta Ajeng Arjanti

Nama Alvin Tjitrowirjo tercetak dalam daftar desainer papan atas Indonesia. Beragam hasil karyanya, seperti furnitur dan aksesoris, sudah tampil di beragam pameran besar, di dalam dan luar negeri.

Dalam mendesain produk, pria kelahiran tahun 1983 ini kerap mengombinasikan material industri dan tradisional seperti alumunium, stainless steel, kayu, juga rotan. Nuansa kreatif, segar, dan futuristik menjadi ciri yang membedakan karyanya dari karya desainer lain.

Berawal dari Hobi


“Sejak kecil, saya tertarik dengan mobil dan suka banget menggambar mobil,” tutur Alvin tentang hobi yang menuntunnya untuk serius di bidang desain. Setamat SMA, Alvin melanjutkan kuliah di bidang Industrial Design di RMIT University, di Melbourne, Australia. Di tahun terakhir kuliahnya, ia mengambil spesialisasi di bidang desain furnitur.

Tamat kuliah pada tahun 2004, Alvin kembali ke Tanah Air. Pada 2005, salah satu desain furnitur buatannya, Bell Chair, terpilih untuk ditampilkan dalam pameran desain furnitur terbesar di dunia, Salone Satellite Milan, di Italia. Pengalaman itu, diakui Alvin, memberinya pengalaman yang sangat berharga dalam hal desain.

Di tahun yang sama, 2005, Snug, desain furnitur lain milik Alvin yang bertema retro-futuristik, dipajang di pameran Melbourne Design-EX. Tahun berikutnya, Snug menghias ajang desain di Melbourne Museum dan mendapat penghargaan sebagai salah satu dari lima desain favorit pilihan para juri.

Di dalam negeri, debut Alvin sebagai desainer dirayakan lewat pameran bertajuk “alvin+volvo”. Pameran itu, digelar pada Juni 2006, disponsori oleh beberapa merek ternama seperti DuPont Corian by MAS dan The Hour Glass.

Di Jakarta, sudah ada dua pameran tunggal yang diadakan oleh Alvin. “Tujuan saya mengadakan pameran tunggal adalah untuk memberi contoh pada masyarakat agar lebih peduli dengan desain, dan menyampaikan bagaimana desain bisa membantu dan memberi value lebih pada produk,” kata Alvin.

Hingga kini, sudah ada lima ajang internasional dan sekitar enam ajang nasional yang telah diikutinya. “Tiap ajang pameran yang saya ikuti memberi pengalaman yang berharga. Di situ, produk atau desain saya dinilai oleh masyarakan umum, dan dari situ saya bisa menilai apakah produk-produk saya sudah mencapai targetnya atau tidak,” tuturnya.

Aspek di dalam Desain

Bagi Alvin, mendesain suatu produk bukan sekadar membuat desain. Ada banyak aspek yang bisa mempengaruhi desain sebuah produk. “Intinya, ada beberapa poin yang harus diperhatikan. Apa tujuan dari desain itu? Produk itu dirancang untuk apa? Siapa yang akan menggunakannya? Dan, apa pengaruh dari hasil produk itu?” jelasnya.

Desainer yang juga berprofesi sebagai dosen paruh waktu di Fakultas Desain Universitas Pelita Harapan, Jakarta, ini mengaku tiap produk rancangannya memiliki kesan tersendiri. Contohnya Snug. Alvin bercerita, di awal mendesain Snug, ia memperhatikan bagaimana cara duduk wanita Indonesia atau Asia pada umumnya. Mereka suka mengangkat kaki ke atas kursi. Karena itu ia mendesain Snug sebagai furnitur yang bisa memberi kebebasan bagi seseorang untuk duduk.

Kendati Alvin lebih banyak mendesain produk-produk furnitur, ia tak ingin hanya fokus pada desain furnitur. Studinya di bidang desain produk mencakup segala produk yang bisa diciptakan. Seorang desainer produk, kata Alvin, bisa mendesain beragam produk―bisa furnitur, perhiasan, sepatu, interior, aksesoris fesyen, mobil, bahkan botol parfum. Untuk mewujudkan desain menjadi produk jadi, ia mengaku dibantu oleh beberapa manufaktur yang mengerti tentang desain dan berani bereksperimen.

“Di dunia desain, sebenarnya yang membatasi seorang desainer adalah imajinasinya sendiri. Saya ingin belajar lebih banyak hal, juga ke area-area lain yang belum pernah saya masuki,” ujar Alvin.

Selera Pasar Subjektif


Selera konsumen terhadap produk furnitur, dipandang Alvin sangat subjektif. Mayoritas, menurutnya, konsumen menyukai produk yang bagus dan murah. Selera pasar bervariasi, bisa dilihat dari banyaknya tipe dan desain furnitur.

Selera di dalam negeri dengan di luar negeri juga berbeda. “Sebagai contoh,  konsumen di Italia suka dengan desain yang sangat modern atau kontemporer. Tapi desain seperti itu belum bisa diterima oleh masyarakat Indonesia,” papar Alvin.

Indonesia Berpotensi


Pria yang tengah sibuk menyelesaikan S2 di Instituto Europeo di Design (IED) Madrid, Spanyol, ini berpendapat Indonesia punya potensi besar untuk bersaing di dunia global. Namun yang jadi masalah, banyak orang yang tidak sadar akan potensi tersebut dan justru percaya pada produk-produk bermerek internasional.

“Salah satu hal yang menghambat Indonesia adalah ketidaktahuan atau ketidakpedulian akan desain,” kata Alvin. Padahal, menurutnya, di saat-saat seperti ini, desain bisa jadi salah satu jalan keluar bagi Indonesia untuk maju dan melangkah ke depan, membangun kota dan bangsa yang lebih nyaman untuk ditinggali.

Alvin mengaku prihatin karena Indonesia sering dicap sebagai tukang copy. Ia ingin mengubah imej tersebut dengan menciptakan desain-desain produk orisinal berciri Indonesia yang modern. Ia sangat berharap industri furnitur di Indonesia mau bereksperimen demi menghasilkan sesuatu yang baru dan orisinal.

“Saya percaya eksperimen adalah satu-satunya cara untuk melaju ke depan. Tak ada satu produkpun tercipta kalau tidak lewat proses eksperimental,” katanya.

Foto: www.coroflot.com

Kontak Alvin Tjitrowirjo
Website: alvin-t.com
Email: info@alvin-t.com

  Artikel Sebelumnya
   
 
  Referensi
  www.asirpa.org/
www.businessweek.com/innovate/global_index/
1000ventures.com/business_guide/innovation
ec.europa.eu/enterprise/policies/innovation
innovation.alltop.com/
bx.businessweek.com/innovation-metrics/
www.ristek.go.id/
www.bppt.go.id/
www.blackinnovationawards.com/
inaicta.web.id/
bic.web.id/

  Berita
 
SINDIRAN JAGOAN DALAM KARYA UMBU TANGGELA

Surabaya - Pameran lukisan yang menampilkan tokoh-tokoh jagoan digelar Umbu Tanggela di Emitan Galery, Surabaya, hingga Jumat (10/9). Pameran bertema "Superhero avoice of Emptiness" itu agaknya "menyindir" suasana politik tanah air dengan medium superhero.

Lewat lukisan tokoh HAM Munir dan Superman, misalnya, Umbu ingin menggambarkan rasa frustasi rakyat terhadap penanganan kasus pembunuhan Munir yang tak kunjung kelar.

Sumber: www.tempointeraktif.com     
Posting : Kamis, 09 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------
BUKU TERBARU JULIUS POUR TENTANG G-30-S

Jakarta - Berapa sebenarnya korban tewas pasca peristiwa G-30-S? Mendagri Mayjen Dr Soemarno selaku Ketua FFC menyebut 80.000 orang, tapi Komandan RPKAD Kolonel (Inf) Sarwo Edhie Wibowo mengatakan 3 juta.

Buku Gerakan 30 September, Pelaku, Pahlawan & Petualang yang dibuat Julius Pour akan menjawab misteri seputar G-30-S. Buku ini akan beredar minggu terakhir September 2010.

Sumber: oase.kompas.com     
Posting : Rabu, 08 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------
TIGA NOVEL KARYA DAMIEN DILUNCURKAN

Jakarta - Tiga novel karya Damien Dematra tentang Pluralisme dan Ramadhan, diluncurkan penerbit Gramedia Pusataka Utama dan Gerakan Peduli Pluralisme, akhir pekan lalu di Taman Ismail Marzuki. Tiga novel itu adalah Selusin Ramadhan Setahun, Kata Mereka Aku Kafir, dan New York.

Damien selain dikenal sebagai novelis, juga penulis skenario, sutradara, produser, fotografer internasional, dan pelukis. Ia telah menulis 67 novel berbahasa Inggris dan Indonesia, 57 skenario film dan serial TV, dan telah memproduksi 28 film dalam berbagai genre, di antaranya Obama Anak Menteng.

Sumber: oase.kompas.com     
Posting : Selasa, 07 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------
FILM ANAK NEGERI AKAN TAYANG DI PBB

Jakarta - Video pemenang kompetisi Democracy Video Challenge (DVC) yang berjudul "Democracy is Yet to Learn" karya sutradara muda Indonesia, Adhyatmika, akan ditayangkan di PBB pada September. Demikian kata Arend C.Zwartjes, Atase Kebudayaan dari Kedubes AS untuk RI, Jumat (3/9) lalu.

DVC diadakan oleh Kedubes AS. Adhyatmika dan 5 pemenang lainnya dari Iran, Spanyol, Kolombia, Nepal, dan Ethiopia mendapat biaya perjalanan penuh ke Washington DC, Hollywood, dan New York pada September. Dalam kunjungan itu, mereka akan mengunjungi lokasi pembuatan film/TV dan bertemu dengan sutradara, teknisi film, agen pencari bakat profesional, serta ahli media. Video mereka juga akan ditayangkan di Motion Picture Association of America (MPAA).

Sumber: oase.kompas.com     
Posting : Senin, 06 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------
DRAMA MUSIKAL OPERA JAWA TAMPIL DI AMSTERDAM

Jakarta - Drama musikal Opera Jawa-Tusuk Konde karya sutradara Garin Nugroho akan pentas dalam rangka memperingati 100 Tahun Tropen Theatre Museum, Amsterdam, Belanda. Drama musikal itu akan menyuguhkan lakon Cinta Segitiga Rama, Shinta, dan Rahwana, yang dibalut tarian klasik-modern serta seni tradisional lainnya.

Pementasan akan digelar di Tropentheatre, Amsterdam, Sabtu-Minggu (4-5/9). Acara ini didukung oleh para pemain, seperti Eko Supriyanto, Heru Purwanto, dan Dwi Nurul Hidayah. Musiknya digarap oleh komposer Rahayu Supanggah.

Sumber: www.tempointeraktif.com     
Posting : Sabtu, 04 September 2010 Category: Komentar
-------------------------------------------------------

  Berita Sebelumnya
 

    QB LEADERSHIP CENTER  |  BERANDA  |  BERITA RINGKAS  |  KEPEMIMPINAN  |  ENTREPRENEURSHIP  |  INOVASI  |  RESENSI BUKU  |  INDUSTRI KREATIF  |  GAYA HIDUP  |   OPEN SOURCE  |  BLOG