Goris Mustaqim adalah CEO PT Resultan Nusantara yang bisnisnya bergerak di bidang RFID (radio frequency identification), yaitu sejenis smart card untuk berbagai aplikasi seperti absensi, akses kontrol dan lain-lain. Di tahun 2006, Ia mendirikan Asgar Muda, sebuah yayasan yang mendorong kaum muda di Kampung halamannya untuk berwirausaha serta lebih terlibat dalam isu pendidikan dan budaya, dengan niat untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal. Goris adalah salah satu wakil Indonesia yang menjadi finalis Asia's Best Young Entrepreneur 2009 versi majalah BusinessWeek.
Alasan Goris memilih menjadi entrepreneur adalah karena Ia menyukai tantangan, bisa bebas dalam berkarya dan menyalurkan idealismenya untuk menjadi bagian penggerak ekonomi bangsa. Bahkan saat ini, melalui yayasan Asgar Muda yang didirikannya, Goris sedang mengembangkan beberapa usaha berbasis komunitas di daerah Garut, Jawa Barat, produk yang dihasilkan diantaranya akar wangi dan kerajinan kreatif kulit. “Saya ingin mendorong pemuda-pemuda di daerah sini untuk menjadi wirausahawan,” tuturnya.
Menurut Goris, menjadi entrepreneur harus siap mental untuk jatuh-bangun dan berani mengambil resiko. Karena di masa-masa awal pasti akan sulit dan serba tidak pasti. Banyak pengalaman ketika menjalankan bisnis yang berkesan bagi Goris, diantaranya ketika berhasil meyakinkan angel investor untuk membantu, atau ketika dimarahi dan dikomplain klien karena waktu pengiriman telat. Menurutnya, mismanagementlah yang dapat menyebabkan kerugian cukup besar. Dari pengalaman-pengalamannya tersebut, Goris berpendapat bahwa ilmu bisnis tidak diajarkan di sekolah, melainkan didapat berdasarkan pengalaman di lapangan. Saran Goris bagi para pengusaha yang akan memulai bisnis, pertama, kuasai semua aspek bisnis yg akan ditekuni. Kedua, harus mengenal satu sama lain dalam tim dan yakin mereka adalah tim yang komit dan kompeten
Sumber Foto : facebook
Wanita kelahiran 31 Juli 1990 ini adalah mahawiswa Universitas Bina Nusantara jurusan Desain Komunikasi Visual. Andina adalah pendiri Spotlight, sebuah on line fashion shop dengan produknya sepatu lukis. Bersama kakaknya, Nerissa Arviana, lulusan School of Business and Management ITB, mereka mendirikan Spotlight dan mulai memproduksi sepatu lukis dalam jumlah besar. Andina merupakan salah satu finalis Asia's Best Young Entrepreneurs 2009 dari Indonesia yang diselenggarakan majalah BusinessWeek.
Andina Nabila Irvani yang akrab dipanggil Dina ini, awalnya melukis sepatu kanvas milik kakaknya sekedar untuk kesenangan. Kegiatan yang bermula dari hobi ini, ternyata beralih menjadi suatu usaha yang potensial. Spotlight kini telah memiliki 5 karyawan dan rata-rata penghasilan per bulannya mencapai $150 – $200. Kemudian dalam rangka upaya mengembangkan bisnis, produk Spotlight pun diperluas tidak hanya pada sepatu lukis, tapi juga memproduksi T-Shirt lukis dan tas lukis. Dina memilih menjadi entrepreneur agar bisa belajar lebih banyak tentang bisnis, mengalami susah-senangnya membangun bisnis, juga karena dapat menciptakan lapangan perkerjaan, membanggakan orang tua dan memberikan kepuasan tersendiri.
Menurut Dina, banyak sekali pengalaman yang Ia dapatkan. Terutama di saat-saat sulit seperti menghadapi komplain pelanggan, website error, berselisih pendapat dengan partner bisnis, dan lain sebagainya. “Untuk melewatinya memang tidak mudah. Namun, jika berhasil melalui saat-saat sulit dan mendapatkan hasil yang baik, rasanya senang sekali," tuturnya. Nilai berharga yang Dina peroleh dari pengalamannya menjalankan bisnis adalah harus sabar dan berbesar hati. “Jika hasil yang didapat tidak sesuai dengan keinginan, jangan langsung putus asa. Bersabar terlebih dahulu dan bersyukur dengan hasil yang didapat," tuturnya lagi.
Meilati Murniani adalah direktur dari Balebarang (www.balebarang.com) serta konseptor, desainer dan shareholder dari Segarra (www.segarrajakarta.com). Balebarang memfokuskan diri pada desain interior dan furnitur. Sedangkan Segarra menawarkan konsep Food & Beverage restaurant dan baru-baru ini membuka Beach Club pertama yang berlokasi di Ancol, Jakarta. Prestasi yang pernah dicapai Meilati antara lain, pemenang Gold Prize untuk kategori Kriya pada ajang Good Design Selection di tahun 2002, serta finalis IYCE (International Young Creative Entrepreneur) Award 2009 yang diselenggarakan oleh British Council.
Wanita kelahiran Jakarta 6 Mei 1974 ini, memilih jalan sebagai entrepreneur karena ingin mencapai mimpi-mimpinya yang tidak mungkin bisa dicapai dengan jalan berkarir. Kebebasan dalam memilih arah hidup serta living her own dream setiap hari, baginya merupakan kebahagian yang tidak bisa digantikan, baik dengan jabatan maupun gaji yang tinggi. Menurutnya, menjadi entrepreneur sangat berbeda dengan menjadi karyawan. Menjadi entreprenuer memiliki resiko yang tinggi, sehingga harus terbiasa menghadapi berbagai kegagalan serta kemunduran. "Kemampuan untuk bangkit kembali setelah gagal merupakan unsur yang sangat penting mengingat sebesar apapun seorang pengusaha, pasti mereka pernah atau bahkan sering gagal," tutur lulusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan ini. Ia juga percaya bahwa dalam menjalankan bisnis, tidak ada yang sifatnya instant, segala sesuatunya harus melalui proses yang bertahap.
Menurut Meilati, pengalaman paling berharga adalah dari sisi partnership. "Mencari partner yang tepat adalah seperti mencari partner hidup," ujarnya. Selain memiliki visi dan misi yang sama, dukungan partner yang tepat dalam menjalani keseharian usaha, akan sangat berarti. Sedangkan memiliki partner yang kurang tepat justru akan menghambat perkembangan bisnis tersebut. Dari pengalaman pribadinya, Meilati berpendapat keberhasilan suatu bisnis dipengaruhi oleh berbagai faktor penting, seperti partnership yang baik, produk dan servis yang berkualitas, visi dan misi yang jelas dari usaha tersebut, tim dan manajemen yang baik, serta beberapa usaha sangat terpengaruh pada faktor lokasi. "Namun selain gabungan dari hal-hal diatas, nilai terpenting dari menjadi entrepreneur adalah work hard dan work smart," jelasnya.
Fauzy Prasetya adalah salah satu finalis IYCE (International Young Creative Entrepreneur) Award 2009 yang diselenggarakan British Council. Bersama 2 orang rekannya yang memiliki minat yang sama di bidang seni kerajinan tangan, Ia mendirikan Kandura pada tahun 2005, dan Ia adalah co-founder, director juga chief designer. Kandura memiliki berbagai produk kerajinan tangan dari tanah liat, seperti peralatan makan (tableware), kendi air (jug) dan keramik dinding (wall tiles). Belum lama ini Kandura terlibat dalam satu proyek besar, yakni mendesain dan membuat replika dinding keramik untuk proyek konservasi Museum Bank Indonesia.
Pengalaman paling berkesan menurut Fauzy adalah pada saat perusahaannya baru saja dimulai. Ia dan teman-temannya yang pada saat itu baru lulus kuliah, belum memiliki banyak pengalaman kerja dan dana yang memadai. Pada saat itu, Ia pun merasakan sumber daya dan jaringan yang dimiliki sangat terbatas. "Kami memiliki banyak cita-cita namun belum ada sarana untuk mewujudkannya," tutur Fauzy. Setelah mendapatkan proyek besar yang pertama, barulah Ia mulai dapat mengumpulkan modal untuk membangun studio keramiknya, membeli alat-alat dan mempekerjakan pegawai. "Disini kami belajar bahwa dengan bekerja keras, pantang menyerah dan bersabar, kami bisa merintis perwujudan cita-cita kami," ujar pria kelahiran Bandung, tahun 1982 ini.
Fauzy bekerjasama dengan pengrajin lokal dari Kiara Condong, yang telah memiliki kemampuan membuat kerajinan tangan selama 3 generasi. Kolaborasi ini membantu meningkatkan ekonomi lokal sehingga mampu bertahan melalui krisis yang dialami negara ini sejak tahun 1998. Nilai berharga yang Ia rasakan dari pengalamannya menjalankan bisnis sebagai entrepreneur adalah konsistensi dalam bekerja. Ia telah belajar bahwa dalam hal pekerjaan akan selalu ada saat diatas dan dibawah. "Karena itu untuk terus berprestasi, diperlukan semangat yang tinggi dan terus konsisten dalam bekerja," ujar lulusan Fakultas Seni Rupa ITB angkatan 2000 ini.
Calvin Hadiardja adalah owner & creatice director Dpc, sebuah perusahaan desain yang menangani kebutuhan branding dan web design. Ia juga brand manager & marketing director dari Label Ink, sebuah perusahaan stationery & gift dengan salah satu produknya, Batik Journal. Finalis IYCE (International Young Creative Entrepreneur) Award 2009 yang diselenggarakan British Council ini, adalah lulusan D3 dari TAFE Enmore, Sydney m jurusan Graphic Design, serta S1 dari Sydney Graphic College, jurusan Visual Communication. Calvin juga pernah bekerja sebagai creative director masing-masing selama setahun di WCTY Design Sydney (2003) dan di NdySain+ (2004).
Pria kelahiran Bandung, 21 Oktober 1981 ini, menjalankan 2 perusahaan yang sama-sama bergerak di bidang desain, yakni Dpc sebagai perusahaan creative design house dan Label Ink yang merupakan perusahaan stationery & gift. Disini Calvin ingin berbagi pengalaman sebagai seorang pebisnis dan entrepreneur. "Ketika kami dipercaya untuk menangani proyek berskala besar dan berhasil, maka kepercayaan yang lebih besar akan datang terus dan begitu pula selanjutnya," ujar Calvin. Sedangkan pengalaman yang dirasa pahit pun sudah pernah Ia lalui. Ia bercerita ketika pertama kali menawarkan jasa desain dan hanya dihargai sebesar Rp. 20.000. Namun, Ia dan timnya tetap melakukan standar servis yang sama seperti yang sekarang Ia berikan. "Sakit hati memang, tapi saya percaya segala sesuatu berawal dari hal yang kecil," ujar penggemar Donald Trump ini. Calvin berpendapat bahwa awalnya pasti struggling untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Karena setiap orang akan serius dan berhati-hati pada hal-hal yang menyangkut uang. Namun Ia selalu termotivasi untuk membuat orang lain percaya dan harus bisa membalas kepercayaan yang telah diberikan tersebut.
Nilai berharga yang Ia dapat dari pengalamannya sebagai desainer dan entrepreneur, adalah terus mencoba melakukan yang terbaik. Ia percaya jalan yang Ia tempuh sebagai desainer dan entrepreneur bukan kebetulan. Ia memiliki target bukan untuk menjadi orang kaya, melainkan untuk membuat sesuatu lebih baik. "Menjadi kaya adalah mudah dan itu merupakan bonus. Tapi lebih dari itu adalah apa yang bisa kita offer untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik," jelasnya. Calvin pun menyarankan agar membuang sifat sering mengeluh. "Seorang entrepreneur bukan orang yang suka mengeluh, tapi mencari solusi dengan cara membuat networking dan belajar dari pengalaman," lanjutnya. Selanjutnya, temukan sistem yang tepat agar bisnis terus bertumbuh. "Memulai suatu bisnis itu mudah, tetapi membawanya terus-menerus tumbuh sangatlah sulit, dan dibutuhkan waktu serta effort yang lebih dari orang lain," lanjutnya lagi..
Didi Diarsa adalah pemilik Taman Baca/Warnet K@yoe k@yoe, Pengembang ICT Sekolah dan Penggiat Koperasi serta pemilik Furniture Aktif. Sebuah perusahaan furnitur yang menggunakan limbah pinewood dari Eropa dalam membuat furnitur untuk sekolah-sekolah dan lingkungan bisnis. Produk meja dan kursinya yang eco-friendly, di desain untuk mendukung sistem pengajaran active learning sekolah-sekolah di Indonesia. Inilah yang menghantarkan Didi menjadi finalis di The Asia Europe Classroom Award di tahun 2004. Di tahun 2009 ini, Didi menjadi salah satu finalis IYCE (International Young Creative Entrepreneur) Award yang diselenggarakan British Council.
Pria kelahiran Depok, tahun 1974 ini mengatakan pilihannya menjadi entrepreneur merupakan puncak dari akumulasi pengalaman hidupnya selama ini, dengan tujuan untuk memberikan waktu yang terbaik untuk keluarga dan anak-anaknya. Awalnya Didi bekerja sebagai karyawan, sampai ia bertemu komunitas Tangandiatas.com di mana Ia bisa terus belajar mengenai kehidupan utamanya menjadi entrepreneur. "Banyak sekali kesempatan yang saya dapatkan, waktu yang tersedia pun lebih banyak, untuk keluarga, hobi, berorganisasi, sampai mengikuti berbagai event termasuk menjadi finalis IYCE Award 2009, adalah kelebihan yang didapat ketika memilih menjadi entrepreneur," tutur ketua Alumni Program persahabatan Indonesia-Jepang DKI Jakarta ini.
Menurut Didi, seorang entreperneur dituntut untuk memiliki kematangan emosi. Karena ritme yang cepat, di mana perubahan bisa terjadi dalam waktu yang sangat singkat, ada kalanya tuntutan emosi menjadi lebih tinggi. Banyak sekali pengalaman berharga yang didapat ketika menjadi entrepreneur, salah satunya adalah jangan menilai orang dari penampilannnya saja. Didi menceritakan, Ia kadang suka membangun kerjasama tanpa ikatan tertulis karena percaya hanya dengan melihat penampilan orang yang diajak kerjasama. Tetapi ketika berrjalan, banyak hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan sehingga merugikan secara finansial dan waktu. Hikmah yang bisa diambil menurut Didi, "hal-hal seperti ini adalah ongkos belajar yang juga tetap harus dilalui oleh setiap entrepreneur yang baru mulai, agar di masa depan lebih berhati-hati," ujarnya.
Entrepreneurship Quotes
Some people dream of great accomplishments, while others stay awake and do them
Anonymous
The best reason to start an organization is to make meaning - to create a product or service to make the world a better place
Guy Kawasaki
Nobody talks of entrepreneurship as survival, but that\'s exactly what it is and what nurtures creative thinking
Anita Roddick
Business opportunities are like buses, there\'s always another one coming
“Segala sesuatu yang dilakukan dengan perjuangan dan atas nama Allah SWT, Insya Allah akan terwujud. Maka jangan sia-siakan hdup kita untuk segala sesuatu yang tidak berguna,”
Beberapa tahun terakhir, Indonesia rutin menyelenggarakan perhelatan musik. Jasa pengamanan artis dan orang penting semakin dibutuhkan. Tren ini menyuburkan bisnis jasa bodyguard artis atau tamu VVIP. Namun karena bermodal kepercayaan, tak banyak pemain di bisnis ini bertahan. Denny salah satunya. Menurut pemilik PT Garuda Satria yang berdiri sejak 2005, tiap bulan sedikitnya mengawal 2-3 artis lokal dan internasional. Untuk mengawal 1 artis, ia biasanya mengerahkan 10 personel.
Denny menyatakan, sebagian besar permintaan jasa datang dari EO ataupun promotor musik. Tapi, sering, pemain bisnis ini langsung mendapat pesanan dari artis. Jasa bodyguard yang diberikan meliputi pengamanan secara personal ke artis, mulai dari kamar hotel hingga di atas panggung. Tarif jasa layanan ini berbeda-beda. Makin besar risiko, makin mahal fee-nya. Menurut Denny, tarifnya berkisar Rp1 juta-Rp5 juta, paling murah untuk event sekelas kafe.
UGM meresmikan sentra industri kerajinan serat alam di desa Salamrejo, Kec. Sentolo, Kulon Progo, Senin (9/8) lalu. Menurut Wakil Rektor Senior Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Prof. Dr. Retno. S. Soedibyo, M.Sc, dengan dibukanya sentra industri kerajinan hasil binaan program KKN PPM UGM itu, para perajin diharapkan bisa bersaing untuk menjual produknya hingga ke mancanegara. Retno juga menekankan agar para perajin lebih memperhatikan kontrol kualitas produk. "Jika tak ada standar kontrol kualitas produk, saya kira sulit bersaing. Di Indonesia, kontrol kualitas harus lebih diutamakan," ujarnya.
Produk kerajinan dari bahan baku serat alam, menurut Retno, punya daya saing di pasar internasional. Apalagi saat ini sedang trend pengembangan produk yang berwawasan lingkungan. Dosen Pembimbing Lapangan, Dr. Arif Wibisono, mengatakan ada sekitar 900 perajin serat alam di desa Salamrejo. Desa ini potensial dikembangkan sebagai sentra industri kerajinan melalui pelatihan rutin pengembangan SDM, peningkatan kreativitas melakukan inovasi produk, dan penguasaan teknologi informasi. "Ke depan diharapkan perajin memiliki showroom di sepanjang jalan Desa Salamrejo," ujarnya.