| |
|
|
 |
|
|
|
| |
GOLPUT, MASIH PANTASKAH ADA DI PEMILU 2009? | |
|
Tambahkan Komentar Anda |
|
New Document
| |
| |
- iwan setiawan CON Jum'at, 29 Agustus 2008 13:10:34
katanya asfina lulusan org berpendidikan tapi berpikir sempit dan hanya mementingkan sendiri saya saran kan anda berpuasa agar anda bisa lebih baik dlm berpikir jgn asal ngomong
- asep setiana CON Kamis, 28 Agustus 2008 13:00:34
asfina skolah yg bener jgn asbun
- nurman PRO Rabu, 27 Agustus 2008 11:07:21
Demokrasi pola Barat yang diterapkan di Indonesia harini tidak cocok dengan alam budaya bangsa.Sistem yang ada hanya buang buang uang (Pemilu'09 Rp47,9 T.Selama 11 tahun tidak juga menghasilkan apa apa kecuali elit elit yang mata duitan.Rakyat tetap menderita.
- Lutfi NON Rabu, 27 Agustus 2008 09:02:34
Hal yang menarik dari judul Asfinawati adalah ada kata "strategis". Betulkah itu strategis?. Bila asumsi bahwa Pilkada Jawa Tengah bahwa Golputnya mencapai 40% lalu apa efeknya? tetap saja Bibit-Rustri terpilih dan kemudian mereka "memerintah (menjadi pemerintah)". Lalu apa strategisnya Golput? Menurut saya tidak ada strategisnya. Apalagi bila dikaitkan dengan "penghapusan" elite penindas rakyat yang selalu berdaur ulang kembali disetiap pemilu. Kasarnya mau Golput mencapai 70% juga tidak akan mempengaruhi Pemerintah terpilih sesuai dengan UUD dan UU. Pertanyaannya adalah apakah Golput bisa diorganisir menjadi sebuah partai atau minimal suatu pressure group. Bila ini dapat dilakukan ini baru langkah strategis. Bila tidak dan sampai saat ini belum ada yang bisa mengorganisir Golput ya berarti tidak ada "strategis-strategisnya".
Untuk Bu Mega, Golput tidak melanggar UU kecuali mengajak orang lain Golput. Walaupun kita Golput dengan sengaja tapi tidak dikampanyekan kepada orang lain maka tidak melanggar UU. Memang ada beberapa negara seperti Australia yang menerapkan sanksi bagi Golput dalam rangka meningkatkan partisipasi pemilih yang rendah disana. Tetapi Indonesia belum menuju kesana.
10 comments [read more] |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
PRO
| |
|
|
| |
Langkah yang Paling Strategis Adalah Golput
| |
| |
Narasumber : Asfinawati, Direktur LBH Jakarta | |
|
Sejak 1998 merupakan massa transisi demokrasi Indonesia . Kebutuhan penegakan HAM dan mengedepankan kesejahteraan rakyat merupakan keharusan. Setelah 11 tahun berjalan, ternyata transitional justice tidak tercapai. Mulai dari penggusuran, PHK, dan banyak kasus pelanggaran HAM tidak diadili.
Sementara pemilu merupakan indikator demokrasi. Di sisi lain, pemilu juga tidak bisa dilihat secara prosedural belaka. Karena pada praktiknya, pemilu tetap dipenuhi praktik kecurangan. Karena itu, kami menilai pemilu yang melegitimasi elite yang telah langgar HAM dan sengsarakan rakyat harus dihentikan, dan langkah yang paling strategis adalah golput.
Tak ada pilihan selain golput terhadap para elite yang akan bertarung dalam Pemilu 2009. Pemilu 2009 harus jadi titik tolak perwujudan demokrasi. Dan golput merupakan strategi untuk memecah kebekuan atas pemilu yang terus hasilkan elite penindas rakyat.(www.vrhmedia.com)
Seperti yang dikatakan sejumlah pengamat, kami yakin suara Golput pada 2009 akan semakin meningkat. Kekuatan Golput bahkan merembet juga ke kancah Pilkada, contohnya pada Pilkada Jawa Timur baru-baru ini, dimana prosentase Golput mencapai 40% dari jumlah total pemilih terdaftar.
Golput mengandung potensi kekuatan yang cukup besar. Buktinya, sejumlah kalangan khususnya politisi menyikapi fenomena Golput dengan cara panik. Sikap para politisi itu dianggap terlalu berlebihan. Golput, merupakan bentuk nyata dari perlawanan rakyat terhadap model demokrasi yang hanya dikuasai oleh segelintir parpol. Banyak agenda transtitional justice yang tidak tercapai, antara lain terkait penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM dan pertanggungjawab pelakunya. Padahal, dua agenda itulah yang kerap kali diusung oleh peserta Pemilu sebelumnya.(www.hukumonline.com)
foto: suarapembaruan.com
|
|
|
| |
- Download Summary Apakah PLTN Tepat untuk Indonesia Saat Ini
- Download Summary Apakah masyarakat Indonesia sudah cukup berpartisipasi dalam memberantas korupsi?
- Download Summary Tepatkah Kebijakan Pemerintah untuk Menyensor Internet?
- Download Summary Tayangan Sinetron di TV Swasta Kita Sudah Berlebihan Sehingga Membodohi Pemirsa?
|
|
| |
Apakah PLTN Tepat untuk Indonesia Saat Ini- Dr. Kusmayanto Kadiman
Tanggapan:
Ibu Betti Alisjahbana ysh,
Dua jempol saya acungkan atas keberanian dan keikhlasan Ibu mengangkat
Isu Panas PLTN melalui http://QBheadlines.com
Ingin sekali saya menjawab dan mengomentari semua pernyataan dan
pertanyaan baik yang pro maupun yang kontra PLTN. Namun demikian semua
orang sudah tahu bahwa saya tidak bisa netral dalam urusan PLTN ini.
Saya mohon pendapat Bu Betti. Terima kasih.
Saya mengucapkan SELAMAT MERAYAKAN HARI KARTINI.
Jabat erat,
KK
- Sutaryo Supadi
Tanggapan:
Ibu Betti yth,
Terima kasih atas kiriman Resume Debat PLTN yang lengkap. Kami mengucapkan selamat atas inisiatif ibu, semoga QBHeadlines dapat merupakan tambahan wahana pencerahan publik. Pada kesempatan ini, Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan menawarkan kepada semua fihak untuk bertukar fikiran, kapan saja, dimana saja tentang PLTN. Dari asupan , kami menarik kesimpulan sebagian peserta kurang memahami semua aspek tentang PLTN.
Mungkin juga karena keterbatasan ruang. Mohon bantuan kiranya ibu dapat menyebar luaskan tawaran kami ini, dengan menghubungi alamat email ini.
Terima kasih, wassalam, Sutaryo Supadi
- Prof. Rinaldy Dalimi
Tanggapan:
Ibu Betti ysh,
Terima kasih informasi hasil debat PLTN. Sosialisasi seperti ini bagus
sekali, dan seperti yang pernah saya sampaikan kepada ibu bahwa saya tidak
sependapat bahwa dibagi dalam dua kelompok yaitu pro dan kontra PLTN (saya
dimasukan yang kontra:-)), karena masing-masing punya alasan yang berbeda.
Saya tidak kontra nuklir, tetapi PLTN tidak tepat untuk Indonesia karena
kita mempunyai sumber daya energi yang cukup. Begitu juga Ibu/Bapak yang
ada dipemerintahan tidak bisa mengatakan "tidak" (walaupun saya tau
sebagian dalam hatinya juga tidak setuju PLTN:-)), karena sudah menjadi
kewajiban untuk membangun (ada dalam Blueprint Perencanaan Energi
Nasional), mungkin yang harus kita tanya adalah yang membuat blueprint
tersebut:-)
sekali lagi sukses dan terima kasih.
salam,
Rinaldy
Tepatkah Kebijakan Pemerintah untuk Menyensor Internet?- Dr. Muhammad Nuh [NA]
Tanggapan:
- Dr. Onno W. Purbo
Tanggapan:
kalau saya baca sepintas komentar yang masuk
rata-rata setuju sensorship (walaupun lebih suka self-sensor)
langkah taktis yang tampaknya harus / perlu di lakukan adalah
1.sosialisasi penggunaan internet yang sehat
untuk memperoleh pengetahuan & usaha.
2.sosialisasi / pemberdayaan teknik menyensor internet
agar self-sensor dapat dilakukan dengan baik.
3.sosialisasi sampai titik yang paling bawah
di sekolah-sekolah & warnet-warnet terutama
kepada operator & administrator jaringan.
teknik yang paling sederhana & murah
1. media massa
2. buku
3. internet (mailing list, wiki, web)
teknik yang mahal & memakan biaya banyak
1. roadshow
2. seminar
3. workshop
Sekedar info aja, saya sendiri sering di undang
utk memberikan seminar, workshop ttg teknik memblok situs
buku ttg hal itu juga sedang di tulis
- Bambang Harymurti [NA]
Tanggapan:
|
|
New Document
| |
Kirimkan ide Anda untuk topik debat selanjutnya. Topik Debat adalah topik yang penting bagi kemajuan Indonesia dan menarik bagi pembaca untuk berpartisipasi menyampaikan pendapatnya. Rangkuman debat akan kami kirim pada pihak yang relevan untuk merealisasikan pendapat-pendapat yang masuk.
|
|
|
|
|
CONTRA
| |
|
|
| |
Sengaja Jadi Golput Bertentangan dengan UU
| |
| |
Narasumber : Megawati, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan | |
|
Warga yang sengaja tidak gunakan hak pilihnya (golongan putih/golput) baik dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) maupun pemilihan umum (pemilu) semestinya tidak boleh menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Sengaja menjadi golput sangat bertentangan dengan Undang-undang dan menghancurkan tatanan demokrasi di Indonesia.
Orang-orang golput seharusnya tidak boleh menjadi WNI, karena mereka menghancurkan sistem dan tatanan demokrasi serta perundang-undangan di negara ini. Salurkan aspirasi dan hak politik kalian semua sesuai UU yang berlaku. Jangan mengikuti ajakan sesat untuk menjadi golput. (kompas.com)
Jangan ikut golput. Jangan pertaruhkan waktu 5 tahun ke depan. Bayangkan kalau orang yang golput, tapi punya keinginan untuk dipilih bagaimana caranya? Dipilih mau tapi memilih tidak mau, itu salah gak ada aturannya.(Detik.com)
Pemerintah dan kaum cendekiawan agar tidak membesar-besarkan golput. Pemerintah dan kaum cendekiawan justru harus mendidik masyarakat untuk menggunakan hak piliha mereka dalam setiap pesta demokrasi di tingkat daerah maupun pusat.
Saya membantah golput semakin besar. Justru golput itu jangan dijadikan contoh. Jangan dibesar-besarkan. Golput lebih sering muncul karena persiapan pesta demokrasi tidak matang. Salah satu aspek penting dalam mempersiapkan pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah (pilkada) adalah sosialisasi pentingnya keikutsertaan masyarakat dalam memilih.
Masyarakat harus disadarkan bahwa ikut mencoblos dalam pemiu atau pilkada akan menentukan masa depan mereka lima tahun ke depan. Pasalnya, golput adalah pilihan yang merugikan karena setiap orang tidak hidup menyendiri, tapi bermasyarakat. Jangan sampai kehidupan berbangsa dan bernegara ini tidak sehat. Masyarakat jangan disalahkan, tapi harus diajari. Kalau tidak ada yang memilih, langsung kembali saja ke sistem perwakilan.(www.dunia.web.id)
foto:indonesia-1.com |
|
|
|
|
|
| | |