| |
TAYANGAN SINETRON DI TV SWASTA KITA SUDAH BERLEBIHAN SEHINGGA MEMBODOHI PEMIRSA? |
|
Sinetron Remaja Sarat dengan Muatan VHS – Violence, Horor and Sex |
| Oleh : Nina Armando, Pengamat Media |
|
 Anak-anak, remaja, maupun orang dewasa membeo dan menganga kekerasan dari sinetron. Saling mendorong, mencaci, mengancam, memaki-maki, memelototi, membentak, saling pukul, saling menjatuhkan, saling melecehkan. Konflik seru dalam satu keluarga? Ayah memaki anak, majikan menyiksa pembantu, upaya sang Ibu menghasut calon istri anaknya, suami menganiaya istri. Semuanya berasal dari sebuah kotak yang bernama televisi.
(Nina Armando, Pengamat Media yang aktif dalam Yayasan Pengembangan Media Anak KIDIA, disarikan oleh Anindya Sukarni)
Berdasarkan temuan peneliti dari 18 Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia tentang sinetron, khususnya sinetron remaja sepanjang tahun 2006 – 2007, secara masif menghasilkan kesimpulan suram. Secara umum kondisi persinetronan Indonesia masih memprihatinkan. Kekerasan telah menjadi porsi utama dalam plot dan adegan sinetron remaja, bukan lagi semata bumbu untuk memunculkan kontras dan konflik. “Kekerasan adalah inti dari cerita itu sendiri”.
Perlu dicermati bahwa seabrek kekerasan yang bersliweran di layar televisi khususnya sinetron remaja yang tidak hanya ditayangkan secara prime time, namun dapat disaksikan dari pagi hingga malam hari, secara terus menerus mengajarkan bahwa kekerasan/violence memberikan dampak:
- Privialism, dimana kekerasan itu menjadi sesuatu yang remeh, yang dangkal dan menjadi biasa dan tidak berdampak serius.
- Sanitisasi kekerasan, bahwa perilaku kekerasan yang secara vulgar diumbar tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi di masyarakat, Bahwa kekerasan yang terjadi akan menjadi pelaziman di masyarakat.
- Kekerasan bahkan hadir sebagai sesuatu yang diglamorisasi. Violence is glamorized! Artinya kekerasan hadir sebagai sesuatu yang keren, sesuatu yang positif, sesuatu yang hebat, dielu-elukan.
- Bahkan kekerasan hadir dalam bentuknya yang mutakhir. Kartunisasi, diwujudkan dengan sosok umumnya adalah seorang yang lemah dan teraniaya yang hidup hanya untuk disiksa, disakiti, dihina namun kemudian bangkit kembali menjadi tegar. Berulangkali terjadi dengan plot yang sama namun dengan setting yang berbeda.
- Bullying, kekerasan aksi dan verbal yang umumnya banyak mengambil setting sekolah dan anak SMU. Perilaku seperti kakak kelas menindas adik kelas, yang cantik menindas kaum yang relatif lemah, nert.
Yang kedua, sinetron penuh dengan muatan seks. Perilaku yang mengarah pada hubungan seks, bukan hubungan seks itu sendiri yang dieksploitasi tetapi arah dari setting sinetron itu sendiri. “Remaja berpelukan, berciuman dengan segala model dan bentuknya, setting dalam ruang seperti kamar, maka dapat dibayangkan apa pengaruh yang didapat remaja saat mereka menonton tayangan tersebut”, ujar Nina Armando.
Yang terakhir, sinetron masih bermuatan horor. Betulkah para pembuat sinetron tahu batas antara sinetron berbau religi atau horor. Maksud yang disampaikan adalah ada pesan moral. Dimana yang baik pasti menang dan yang jahat pasti kalah, namun tampilan yang disuguhkan menyeramkan. Disini permainan gender juga terjadi, dimana tokoh jahat umumnya di-stereotype-kan dengan sosok perempuan dan tokoh baiknya adalah laki-laki, sebagai contoh ustadz.
Ketika disinggung mengenai production house yang memproduksi sinetron berdasarkan realitas sosial yang ada, Nina menyangsikan. Pun, Nina menyangsikan kalau stasiun teve memiliki social responsibility atas tayangan yang diberikan kepada pemirsanya. Pemirsa tidak diberikan alternatif suguhan selain sinetron, production line dengan polanya yang ingin semuanya instan, tidak mau berpikir panjang akan proses atau dampak nantinya, pun pola bahwa yang menghibur adalah yang menghasilkan keuntungan. Dampak signifikan yang terjadi bukan hanya melewati tahap kognitif dan afektif namun akan sampai pada tingkat behavior.
Masalahnya adalah penonton kita belum bisa berpikir kritis. Media berfungsi sebagai sarana pembelajaran sosial (social learning), menanamkan nilai-nilai (cultivation). Maka komunitas melek media (media literacy) perlu digalakkan. Tayangan tidak hanya sekedar menghibur dan pasif, namun perlu ditanggapi secara kritis. Wujud nyata dari media literacy ini adalah mengurangi tontonan televisi dan memilih tayangan yang berkualitas. Faktor bimbingan orang tua juga penting. Pun, Nina menambahkan jangan membuat ruang menonton kelewat nyaman dan memiliki televisi lebih dari satu. Selain sebagai faktor pemantau/ parental advisory dapat pula mengurangi jembatan kesenjangan dalam keluarga akibat memiliki televisi masing-masing.
Kredit foto: dokumen pribadi Nina |
|
Mari Membuat Sinetron yang Lebih Baik! |
| Oleh : Sony Set, Penulis Skenario Sinetron |
|
 Ibarat sebuah permen, tayangan sinetron Indonesia saat ini sebagian besar hanya menawarkan rasa manis dengan warna-warni tampilan yang mengenyangkan mata. Wajah cantik, penampilan menawan dan sejuta impian menjadi bintang terkenal berkulit mulus adalah pemandangan sehari-hari yang diasupkan lewat layar kaca. Kalau ada simbol-simbol pendidikan dengan memakai latar halaman sekolah atau ruangan kelas, sebagian besar hanya tempelan belaka. Tetapi untuk sekedar menyalahkan para pembuat sinetron di Indonesia bukanlah hal yang bijak, mengapa kita tidak bersama-sama bersatu memperbaiki ragam tayangan televisi? Tidak hanya berteriak dari jauh atau melakukan gerakan pasif mematikan televisi?
Kita masih ingat di kala era Orde Baru, ada sebuah anekdot konyol yang muncul di saat itu. Tentu Anda masih mengenal figur Harmoko, mantan Menteri Penerangan yang di era tahun 90-an awal sering tampil di televisi. Bahkan setiap hari, beliau ini selalu menampilkan kata-kata klise dan gaya menyanjung atasannya, Soeharto. Saking jengkelnya orang-orang saat itu terhadap penampilan Harmoko yang kerap membuat muak sebagian besar penonton televisi Indonesia, membuat beberapa pemirsa atau calon pembeli televisi baru mengeluarkan statemen seperti ini, “ Saya mau beli televisi baru yang tidak ada gambar Harmoko-nya! Ada nggak?”
Tentunya Harmoko bukan bintang sinetron, ia ditakdirkan menjadi ‘bintang paling menyebalkan’ di televisi. Begitu pula dengan awal munculnya tayangan sinetron, orang tertegun ketika pertama kali disuguhi gaya bercerita drama lewat tayangan ‘Rumah Masa Depan’, ‘Jendela Rumah Kita’ dan era berkembangnya sinetron bergaya India yang dikembangkan Multivision. Konon kabarnya, Arswendo Atmowiloto adalah orang pertama yang memberikan istilah sinetron untuk menunjukkan format ‘film drama’ di televisi.
Nah, mulai sejak Multivision mengembangkan konsep sinetron yang menggambarkan kemewahan dan drama rumah tangga sarat air mata, muncullah gaya tutur sinetron yang tidak berpihak terhadap realitas kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia. Wajah Indo, akting kaku, penggambaran rumah yang super mewah, bertebaran bintang-bintang berkulit putih bersih, dramatisir adegan kekerasan hingga gaya bicara keras ditampilkan menjadi ribuan episode tayangan sinetron yang ditanamkan ke benak penonton Indonesia selama hampir 20 tahun! Multivision tidak sendiri, lalu bermunculan berbagai macam rumah produksi yang mengikuti resep yang sama. Belum lagi bila kita bicara teknis produksi, sebagian besar sinetron yang dibuat di Indonesia selalu terhambat kendala biaya pembuatan dan waktu pembuatan. Munculnya fenomena ‘sinetron stripping’ yang ditampilkan setiap hari demi mengejar rating dan keuntungan iklan, membuat standar kualitas sinetron kita saat ini jatuh pada titik nadir. Masih ingat dengan bintang sinetron Cinta Laura yang sangat kaku dalam berakting dan terbata-bata mengucapkan lafal bahasa Indonesia? Hal itu jelas menggambarkan kondisi jagad sinetron televisi kita yang menisbikan kemampuan teaterikal dan akting yang bagus. Jangankan membuat pengadegan yang menarik, membaca naskah saja sudah susah. Tetapi kenyataan di pasar terjadi sebuah keanehan, rating sinetron yang dibintangi bintang sekelas Cinta Laura cukup tinggi dan menghasilkan banyak iklan! Lho? Ada apa dengan sinetron Indonesia?
Kasus di atas belum selesai, ditambah lagi dengan berbagai tayangan yang jelas-jelas menjiplak sinetron drama korea, asia dan jepang. Sejak kemunculan sinetron Meteor Garden, muncullah rumah-rumah produksi yang hanya mengandalkan kemampuan menjiplak. Dari soal penulisan skenario sampai urusan pencarian pemain bintang yang mirip dengan pemain sinetron impor. Dari soal musik sampai gaya rambut, dari soal teknis pengambilan gambar sampai ke masalah editing. Konon ada sebuah isu yang berkembang di kalangan pembuat sinetron, bahwa para aktor sinetron bergaya asia-oriental tersebut, harus sering menjalani terapi pemutihan kulit, agar bisa lebih putih dan bersih, bahkan harus rela disuntik untuk mengatur pigmen kulitnya!!!
Mendidik Lewat Sinetron
Percayalah terhadap segala hal berdasarkan prosesnya. Begitu pula kita masih bisa berharap akan munculnya sinetron-sinetron yang lebih baik dan mendidik. Kita masih percaya bahwa di luar sana masih banyak para pembuat sinetron yang melakukan proses produksi hulu ke hilir dengan semangat membuat tayangan yang lebih baik.
Beberapa rumah produksi seperti Demi Gisela, Miles Production, Atmo Chademas, SET production dan penggarap tayangan idealis masih kukuh menawarkan konsep-konsep tayangan mendidik dengan pendekatan moral. Kita masih ingat dengan tayangan ‘Keluarga Cemara’ yang dibesut Arswendo Atmowiloto sebagai sutradara sekaligus penulis skenarionya, pesan moral tentang besarnya arti kejujuran menjadi daya tarik sendiri dari sinetron ini. Film layar lebar ‘Gie’dan ‘Sherina’ memberikan alternatif lain memandang perfilman Indonesia lewat kacamata anak muda. Mira Lesmana dan Riri Reza bahu membahu mengangkat semangat berjuang dan belajar ala anak muda lewat icon-icon aktor idealis sekelas Nicholas Saputra dan Dian Sastro Wardoyo.
Di jalur produksi sinetron bergenre religi, muncul Deddy Mizwar dan penulis skenario Wahyu H.S yang menawarkan konsep bercerita islami dengan pendekatan praktis dan humor. Kita dapat melihat bagaimana serial ‘Para Pencari Tuhan’ menjadi tayangan sinetron rating tertinggi di bulan Ramadhan 2007. Kekuatan konsep cerita yang sederhana dengan memasukkan nilai-nilai fiqih islam menjadi tantangan tersendiri di saat proses penulisannya. Kabarnya, sinetron ini menggunakan 4 ahli agama Islam yang memberikan masukan dalam penulisan skenarionya. Dapat dibayangkan betapa rumit proses pembuatan konsepnya. Namun, Deddy Mizwar dengan cerdas meramu kerumitan tersebut menjadi tayangan sederhana yang sangat merakyat dan mendidik tanpa menggurui.
Lalu, apa saja yang bisa kita lakukan untuk turut membantu mereka memperbaiki dunia tayangan televisi? Sederhana saja, mulailah dengan menulis. Jangan hanya mengkritik atau apatis, kekuatan tulisan adalah dasar awal dari perlawanan dan karya tulis yang baik dapat menyelamatkan keadaan ini. Andre Hirata dengan novel Laskar Pelangi-nya adalah contoh sukses seorang penulis yang siap mengubah wajah televisi kita. Kabarnya, saat ini Laskar Pelangi dalam proses pembuatan film layar lebar yang diproduksi Miles Production. Sebuah novel yang sarat dengan kisah-kisah perjuangan dan edukasi yang sederhana. Kita berharap banyak cerita seperti ini dapat merubah dunia televisi Indonesia.
Anda tidak harus menjadi seorang produser sinetron untuk mengubah tayangan drama sinetron yang membosankan. Gerakkan mata pena Anda untuk membuat sebuah cerita yang mencerahkan, lewat cerpen, novel atau berbagai tulisan. Niscaya, suatu saat orang-orang televisi dan perfilman akan menoleh terhadap buah karya Anda. Saat ini masyarakat Indonesia lebih cerdas untuk memilih mana tayangan yang baik untuk mereka. Kita melihat dengan mata kepala sendiri berbagai sinetron yang hanya menampilkan sensasi dan kemewahan satu-persatu terjungkal dari layar televisi. Tren sinetron bergeser ke arah tayangan yang menampilkan kesederhanaan, tidak melulu gambaran rumah mewah dan dandanan menor aktor-aktris berakting tanpa hati. Itu juga belum cukup, karena fungsi sinetron sebagian besar masih hanya untuk menghibur. Kita memerlukan unsur pendidikan dalam tayangan televisi agar bisa mencerdaskan dan membuat bangsa ini lebih baik. Mari ubah tayangan televisi agar menjadi lebih baik.
Kredit foto: tvblog.blogspot.com |
|
|
|
|
|
Tambah Komentar |
|
|
SAMPAIKAN KOMENTAR ANDA
26 comments
- sugeng (PRO) Selasa, 06 Mei 2008 04:25:09
Sebenarnya tanggung jawab sosial televisi bisa dilakukan paling tidak dengan memberi rate yang benar pada setiap tayangannya , namun kalau saya perhatikan hampir semua tayangan menggunakan rate BO jadi seolah-olah bisa untuk semua umur padahal isinya komedi dewasa. Jadi prosedur pemberian rate tadi menjadi tidak berguna sama sekali
- Motulz (PRO) Selasa, 06 Mei 2008 05:35:28
Saya agak bingung memberikan pilihan apakah saya PRO atau CONTRA, bagi saya situasinya tidak persis seperti yang dijelaskan kedua panelis. Bagi saya genre sinetron ini hanya bukti selera mayoritas penonton kita baru sampai selera SINETRON.
Bisnis sinetron merupakan sebuah bisnis besar bak industri rokok. Di sana tertampung jutaan tenaga kerja non pendidikan formil hingga sarjana. Di industri ini sudah tidak mengenal lagi jam kerja, hari libur, jam kantor, UMR, hingga asuransi kerja. Ini bukti bahwa industri ini sudah makin solid keberadaanya.
Konteks membodohi masyarakat ini memang sudah menjadi stempel yang lekat dari sinetron. Janji manis, imimg-iming, dan mimpi sudah menjadi rumus agar sinetron bisa laris. Belum lagi kekerasan dan bumbu syur. Apa yang salah dari sinetron ini? Saya rasa karena fakta mayoritas pemirsa di Indonesia masih gemar dengan sinetron, masalah ini berkaitan dengan tingkat pendidikan di masyarakat.
Cara menghentikan sinetron bukanlah dengan cara menghentikan produksinya, akan tetapi buatlah tayangan program tandingan yang lebih variatif, mendidik, bermutu, dan lebih punya cita rasa. Seiring dengan itu, didiklah masyarakat dengan pendidikan yang lebih baik, perlahan-lahan selera penonton akan bisa tumbuh ke arah yang lebih baik dan positif.
Kelak, selera pemirsa sudah tidak bisa lagi diberikan tayangan mimpi, iming-iming, dan kekerasan. Mereka akan otomatis pindah channel. Dengan demikian efeknya kepada station TV yang akan menolak jenis tayangan spt itu. Rating dan share akan anjlok, pengiklan pun menarik uangnya untuk tayangan jelek tersebut. Saat itu lah kita semua akan punya jenis tayangan yang lebih berbobot.
Saran saya, mari kita perangi TV program yang tidak mendidik dengan cara yang lebih MENDIDIK dan lebih PRODUKTIF
- Shafiq (NONE OF BOTH) Selasa, 06 Mei 2008 06:26:33
Memang hal ini seperti pisau bermata dua
bisa jadi bagus, bisa juga malah menusuk diri sendiri...
Sementara ini Stasiun TV swasta masih berperan seperti pedagang...
Kalau "barangnya" laku, yah tayangin terus...
Kalau ada tetangga yang jualan "barangnya" laku yah bikin yang mirip-mirip biar ikut laku...
Memang sepertinya dari pihak Stasiun TV ini jadi hal yang dilematis juga...
kalau bikin tayangan bagus, tapi audiencenya dikit, maka iklan nggak mau masuk, berarti stasiun rugi
kalau bikin yang udah pasti laku, audiencenya banyak, iklan pun berebutan masuk
untuk bikin tayangan yang bagus dan berkualitas, biasanya makan waktu dan bikinnya lama, karena perlu riset, dan pemilihan talenta-talenta yang tepat, akhirnya seringkali jatuhnya (berkesan)mahal, akhirnya nggak ada yang berani produksi, karena resikonya tinggi...
akhirnya, (seperti biasa) pake cara cepat. Tayangan laku di luar negri (atau serial korea, serial jepang) tinggal salin ulang pake bahasa Indonesia, ubah-ubah dikit (Kadang nggak diubah) lalu tayangin di TV (dengan asumsi, kalau di sana laku, di sini juga kemungkinan laku)
Nilai kompetitifnya, lebih cepat dan kemungkinan laku nya lebih besar.
atau tayangan yang sudah pasti ditonton audience. Hantu, serial remaja cantik ganteng, dan tentunya sinetron yang agak bias antara agama dan mistik.
Jadi...
untuk membuat tayangan yang bermutu, memang sekian kali lipat lebih sulit. (biasanya yang punya ide, dikejer2 produser dan ditekan untuk membuatnya sesuai dengan asumsi mereka mengenai kebutuhan pasar)
tapi sebenarnya sih, apakah ada tayangan TV yang bermutu dan laku? Tentunya ada, asal kita mau berusaha
sepertinya ada banyak investor yang ingin mutu tayangan menjadi lebih baik...
seperti kebiasaan stasiun TV
kalau "barangnya" laku, mereka akan berebut mencari dan mebuat..
kalau bisa membuat formula serial TV yang bagus dan laku...
tentu automatis, mereka semua akan berebut membuat tanyangan yang bermutu dan laku
:)
cheers
- adli (NONE OF BOTH) Selasa, 06 Mei 2008 07:31:19
Sebetulnya saya sepakat sama dua2nya (Bu Betti.....maaf...kayaknya kurang kontradiksinya antara yang pro dan kontra)
Rumah masa depan dan keluarga cemara adalah salah satu sinetron yang amat sangat layak di tonton. terutama sinetron era 80an (jaman saya SD)
Mengikuti perkembangan jaman semakin ngawur saja ceritanya, namun dari segelintir sinetron yang saya suka adalah buatan Pak Dedy Mizwar, dan banyak kawan2 ITB yang memberi TOB MARKOTOB pada karya beliau.
Untuk sinetron kebanyakan saya tidak perlu ceritakan karena sesua dengan perkataan yang PRO (Nina Armando) saya cuma bisa bilang ....SAMPAH......
Untuk Yang milih CONTRA, saya cenderung optimis, karena sifat saya adalah optimis..jadi bagi yang sedang berkarya di sinetron, ayo kita berubahhhh...
Kebetulan saya kenal dengan sutradara yang membuat salah satu sinetron yang bagus dan kemudian membuat sinetron SAMPAH........ketika saya tanya bagaimana perasaannya membuat sinetron SAMPAH......
DIA cuma senyum mesem2....hehehehehehe ternyata hati nurani gak bisa bohong....
Tetap berkarya untuk Tuhan Bangsa dan Almamater
- hardhi (PRO) Selasa, 06 Mei 2008 08:50:43
Masalah pendidikan lewat media sinetron, yah saya setuju sekali tuh, untuk dikaji lebih dalam. Banyak pesan moral yang bisa kita sampaikan kepada masyarakat kita, akan tetapi bila salah menyajikan juga bisa berakibat fatal.Karena kita tidak bisa membatasi segmen pemirsanya. Dan Jam tayang untuk konsumsi dewasapun seringkali di langgar oleh media TV kita.
Dari sini saja, keseriusan pemerintah kita terlihat lemah. Selepas Pak Harto, Media terlalu longgar, malah terkesan kebablasan.
Mestinya Justru memberikan warna yang lebih baik lagi.
Menurut saya, untuk sinetron yang berbau Sex, baik dari cerita maupun dari cara berpakaian sebaiknya dibuat ekslusif(berlangganan)bukan sebagai konsumsi umum, dimana usia remaja dan anak2 bisa melihatnya.
terima kasih
- Diana (CONTRA) Selasa, 06 Mei 2008 19:17:10
Saya setuju dengan Mas Sony, walau memang diakui sinetron kebanyakan cengeng dan tak mendidik, juga jiplakan dari tayangan luar, masih ada sinetron bertema idealis. Jadi kita harus selektif dan tidak menyamaratakan semua tayangan sinetron.
- Digta (CONTRA) Selasa, 06 Mei 2008 19:38:02
Akur sama komentar Diana. Tidak semua sinetron jelek. Salahkan saja stasiun TV-nya kenapa mau saja terima sinetron cengeng keluaran PH tidak bermutu yang hanya mengejar rating tanpa memikirkan edukasi.
- Digta (CONTRA) Selasa, 06 Mei 2008 19:55:26
Akur sama komentar Diana. Tidak semua sinetron jelek. Salahkan saja stasiun TV-nya kenapa mau saja terima sinetron cengeng keluaran PH tidak bermutu yang hanya mengejar rating tanpa memikirkan edukasi.
- Bayu Yuswan Satria (NONE OF BOTH) Selasa, 06 Mei 2008 21:58:50
Kedua tulisan singkat tsb. sangat menarik dan keduanya benar menurut sisi mata uang yang berbeda...Tapi yg perlu diingat, saat ini Indonesia mengalami keterpurukan di segala sendi kehidupan. Akan bertambah dalam keterpurukan kita apabila kita tdk melakukan pembatasan penayangan sinetron yang lebih banyak membuai rakyat dalam sentimen "mimpi manis" tanpa memperdulikan realita kehidupan yg ada. Dukungan perusahaan pemasang iklan seharusnya lebih meng-Indonesiakan penonton dgn tdk hanya melihat rating saja, peran aktif penyokong danalah yg saat ini dapat lebih berperan krn idealisme pertelevisian tdk bisa lepas dr masalah pendanaan
- Donny (NONE OF BOTH) Rabu, 07 Mei 2008 02:14:50
Jika memang harus memilih antara idealis dan komersialis, memang harus balance. Selain idealis kan kita juga dituntut menghasilkan profit. Jadi wajar kalau ada sinetron jelek dan sinetron bagus.
- Donny (NONE OF BOTH) Rabu, 07 Mei 2008 02:25:22
Jika memang harus memilih antara idealis dan komersialis, memang harus balance. Selain idealis kan kita juga dituntut menghasilkan profit. Jadi wajar kalau ada sinetron jelek dan sinetron bagus.
- Donny (NONE OF BOTH) Rabu, 07 Mei 2008 02:25:33
Jika memang harus memilih antara idealis dan komersialis, memang harus balance. Selain idealis kan kita juga dituntut menghasilkan profit. Jadi wajar kalau ada sinetron jelek dan sinetron bagus.
- bless (NONE OF BOTH) Rabu, 07 Mei 2008 03:43:56
kalo saya mah tidak suka menonton sinetron, paling2 cuma "melihat" sinetron sebagai selingan kalau tontonan utama sedang iklan, atau kalau sudah tengah malah dan tidak ada tontonan lain yang menurut saya lebih berkualitas sbg penimbul kantuk. Lumayan sebelum tidur bisa liat wanita2 cantik, siapa tau ikut kebawa mimpi.
menurut saya masalah sinetron ini hanya lah salah satu dari sekian banyak "fenomena pertelevisian", selain iklan dll. Dalam menghadapi televisi, yang saya lakukan adalah menentukan sendiri mana yang pantas saya tonton dan mana yang tidak dan masalah tingkat selera sepertinya tergantung pada seberapa banyak pendidikan yang bisa didapat. kalangan yang sekolahnya tinggi2 biasanya ogah nonton sinetron. Selama rata2 pendidikan di indonesia ini masih rendah, bakal tetap banyak kalangan yang meminati sinetron2 dengan kualitas "yang penting rating tinggi" seperti sekarang.
Tapi bukan berarti sinetron tidak bisa bersumbangsih pada "peningkatan intelektual orang indonesia pada umumnya", sangat bisa sekali, walau membutuhkan kreativitas yang amat tinggi untuk bisa memberikan hiburan yang laku di jual tapi bisa mendidik pada saat yang sama.tapi saya sih pesimis kalau beliau2 investor2 sinetron indonesia punya minat besar pada pencerdasan kehidupan bangsa, namanya juga pedagang, saya maklum. Sebenarnya cerita2 rakyat di indonesia punya potensi untuk di sinetronkan sambil mengusahakan pencerdasan kehidupan bangsa, sayangnya sudah keburu di adaptasi jadi sinetron2 jayus, paling2 disebabkan dorongan ekonomi. Mungkin kita bisa belajar pada serial TV india "mahabharata" yang sempat di tayangkan dgn sulih suara disini, produsen nya punya cukup tanggung jawab untuk tidak melakukan terlalu banyak modifikasi2 sehingga "pelajaran2 moral" yang hendak di sampaikan pengarang cerita itu dulu bisa banyak yang sampai kepada penonton.
Rasannya harus di buat lebih cerdas dulu rata2 penduduk indonesia, baru bisa ada sinetron dengan kualitas lebih baik dari sekarang, karena kayaknya sih sulit mengharapkan sinetron indonesia bisa meningkatkan kecerdasan bangsa.
- bayus (PRO) Rabu, 07 Mei 2008 05:16:52
sampai saat ini, hampir semua sinetron lokal masih menyedihkan dalam segala aspek. kalau nanti anak saya sudah agak besar, channel lokal akan saya pasang parental lock.
- Arli (NONE OF BOTH) Rabu, 07 Mei 2008 18:36:53
Sederhana saja dari saya. Sinetron, atau acara televisi apapun, sudah seharusnya mencerminkan nasionalisme dari bangsa tersebut. Sekedar perbandingan dengan asing, di Amerika Serikat, sangat bertebara berbagai macam opera sabut (friends, sex n the city, dll). Namun untuk memahami konten opera sabun tersebut, sangat diperlukan pemahaman komprehensive mengenai budaya amerika yang 'melting pot' tersebut. Jika anda nonton opera sabun2 tersebut tanpa pemahaman demikian, maka sia2 saja menontonnya. Demikian juga jika kita menonton opera sabun mandarin, memahami budaya China adalah kewajiban. Apakah sinetron kita sudah mencerminkan nasionalisme kita? Mungkin yang ditemukan oleh Nina Armando adalah tidak. Dia menemukan sinteron2 yang justru merusak kebanggaan nasional kita. Namun Sony set menemukan sinetron2 yang justru memperkuat nasionalisme kita. Semua dikembalikan pada produsen dan konsumen sinetron, ada baiknya nasionalisme kita menjadi patokan utama dalam membuat dan menikmati karya sinetron.
- Retno S. (PRO) Rabu, 07 Mei 2008 22:55:36
Usul saya, mulailah dari rumah kita sendiri. Saya selalu "meracuni" anak-anak saya bahwa nonton sinetron akan membuat kita jadi bodoh. Jam nonton pun kita batasi. Dan terpaksa saya pun beralih ke tv berbayar karena pilihannya lebih banyak dan bermutu (or this is as bad?).
Betul ada satu-dua sinetron yang bagus, tapi repot sekali kalau kita harus seleksi dulu. Lebih baik bilang saja semua sinetron tidak bermutu karena sebagian besar memang begitu.
Untuk film-film layar lebar, ada beberapa yang bagus dan bermutu seperti "Ayat-Ayat Cinta". Untuk film-film seperti ini saya malah rekomendasikan anak saya untuk nonton lebih dari satu kali.
- ruli (NONE OF BOTH) Kamis, 08 Mei 2008 03:18:34
Ya sebagian besar sinetron yg ditayangkan memang kurang mendidik dan tidak mencerminkan budaya bangsa Indonesia, tetapi ada juga yg berbobot, biasanya yg bergenre religi seperti yg ditulis pak Sony Set, kalau semua rumah produksi dan penulis skenario sinetron berkomitmen untuk dapat menyuguhkan tontonan yg mendidik dan dpt menyampaikan pesan moral mengenai kebaikan-kebaikan dengan kemasan yg menarik tanpa harus menyelipkan adegan VHS, saya yakin generasi mendatang akan menjadi lebih baik. Tayangan yg ada di TV memang mempunyai daya magis yg sangat kuat dan cepat ditiru kaum remaja. Ingin rasanya saya bisa menulis sebuah cerita yg berbobot seperti Wahyu H.S atau Andre Hirata untuk dapat ikut menyelamatkan generasi penerus
- Aditya Wardhana (NONE OF BOTH) Kamis, 08 Mei 2008 04:53:23
Kini, saban hari, produser tv menerima raport program yang dipegang berupa rating n share yang dikeluarkan nielsen (dulu raportkeluar tiap hari jumat). raport bisa dikemas dalam bentuk laporan by minutes yaitu pergerakan jumlah penonton tiap menitnya. hal ini juga menunjukkan bahwa pertempuran antar stasiun terestrial berlangsung seru setiap menit. mirip perang dunia ke 2 yang memperebutkan tiap jengkal tanah. stasiun tv memperebutkan pemirsa tiap menit. seorang teman yang bekerja sebagai analis rating n share di salah satu tv swasta bercerita mengenai by minutes sebuah sinetron. di awal episode rating n share datar-datar saja, mulai beranjak naik ketika adegan cekcok antara ibu vs anak. rating n share terus beringsut naik saat adegan cekcok bertambah panas, saling melotot, saling mengumpat saling mengancam,.. dan puncak rating n share tertinggi dicapai ketika adegan ibu menampar si anak,..
dari pembacaan data seperti itu, pengelola tv menyimpulkan bahwa banyak pemirsa yang suka dan untuk mendulang rating n share maka diperbanyak cekcok, cari pemain yang matanya melotot, hamvburkan umpatan dan obral tamparan,. idiihh,..
begitukah pola pikir pelaku tv,..??
begitukah selera orang Indonesia,..??
idiihh amit-amit,..
- adit (PRO) Kamis, 08 Mei 2008 04:55:07
- Aditya Wardhana (NONE OF BOTH) Kamis, 08 Mei 2008 04:58:46
Maaf, sedikit koreksi dulu rating n share keluar tiap hari rabu,.. di reboan inilah, tampang-tampang produser akan beraneka macam,.. ada yang masam, ada yang ceria
mulai tahun terakhir, nielsen dah ngeluarin dagangan rating n share daily alias tiap hari,.. nah sekarang, tampang-tampang produser yang berubah-ubah demikian cepat,.. masam-manis-masam-manis-manis-masam dst,..
cilakanya sampe sekarang, dagangan nielsen itulah yang paling sakti, semua stakeholder, pengelola tv, agency, advertiser memakai bahasa yang sama yaitu rating ns share merek nielsen,..
- sri djoko (CONTRA) Kamis, 08 Mei 2008 05:08:02
Sinetron sangat jauh dari mendidik anak agar mempunyai nilai / value yg baik.
Saran saya, jangan ajak / ijinkan anak nonton sinetron, lebih baik belikan CD pendidikan yg sekarang banyak tersedia di toko2 buku.
- sri djoko (PRO) Kamis, 08 Mei 2008 05:20:37
Sinetron sangat jauh dari mendidik anak agar mempunyai nilai / value yg baik.
Saran saya, jangan ajak / ijinkan anak nonton sinetron, lebih baik belikan CD pendidikan yg sekarang banyak tersedia di toko2 buku.
- Marko Suswanto (CONTRA) Kamis, 08 Mei 2008 07:45:46
Saya sebenarnya kurang setuju dengan cerita yang disuguhkan sinetron-sinetron saat ini karena cenderung begitu-begitu saja dan kurang mendidik. Mungkin akan lebih baik jika tayangan seperti “jejak petualang” atau Discovery Channel, “Kick Andy”, tayangan seperti pastinya akan sangat berguna demi kemajuan bangsa ini dibandingkan dengan tayangan orang miskin yang ditindas ternyata dia anak orang kaya dan diakhir cerita hidup bahagia bersama pasangannya di rumah besar nan mewah. Sama sekali tidak memajukan bangsa ini malah membawa bangsa ini ke dunia mimpi tanpa mau berusaha. Rumah produksi saat ini hanya terfokus pada bagaimana menghasilkan uang sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan kualitas dari tayangan itu sendiri. Kunjunginlah: http://adocumentation.wordpress.com/
- Santi (PRO) Kamis, 08 Mei 2008 11:56:40
Untuk urusan sinetron Indonesia, pesan mbak Nina sangat jelas. Beliau toh tidak menggeneralisir semua sinetron. Dalam hasil riset sinetron remaja, judul-judul sinetron yang buruk bisa dibaca. Tentu saja sinetron seperti Keluarga Cemara atau karya Dedy Mizwar nggak masuk di-list itu, termasuk acara yang keren-keren seperti Kick Andy, please deh:) Faktanya, memang jauh lebih banyak sinetron buruk daripada yang baik.
Tapi, saya ingin menanggapi pernyataan kang Sony terhadap kritik dan aksi mematikan televisi. Menurut saya, himbauan mematikan televisi kalau acaranya jelek itu sangat bagus sebagai shock therapy bagi siapapun. Himbauan semacam ini adalah pintu pembuka untuk menyebarkan 'virus' media literacy.
Berjuang memperbaiki media agar sehat, dan membangun penonton yang kritis, bisa dari dua medan (atau dari mana aja). Publik yang ada di luar media, sebagai 'sasaran target' alias konsumen, berhak dong buat komplain kalau diberi acara yang jelek. Dengan cara ini, publik bisa mengingatkan TV dan PH agar jangan sembarangan bikin karya. Yang ada di dalam industri, seperti kang Sony Set, jangan 'kebakaran jenggot' dong dengan himbauan mematikan televisi. Saya juga percaya dengan proses, dan himbauan mematikan televisi kalau acaranya jelek adalah bagian dari proses pembelajaran bagi publik agar berdaya ketika berhadapan dengan media, agar publik ingat bahwa media punya peran besar sebagai sumber pendidikan, sehingga publik juga bisa mengingatkan media ketika sudah kebangetan seperti sekarang ini. Cobalah membaca himbauan mematikan televisi (kalau acaranya jelek) sebagai bentuk dukungan pada teman-teman yang berjuang dari dalam seperti kang Sony--kita paham betul betapa beratnya tekanan dari pemodal terhadap idealisme teman-teman. Maka, mematikan televisi dan memusuhi sinetron jelek bisa dipakai sebagai landasan kuat bagi teman-teman di dalam industri yang punya idealisme tinggi agar 'memaksa' pemodal untuk mendengarkan suara teman-teman dan tidak mematikan idealisme mendidik lewat media.
Saya yakin semua sedang menanti-nanti film Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. By the way, Andrea Hirata nggak pernah cerita tuh kalau hidupnya banyak dihabiskan di depan TV!
- Diana (PRO) Jum'at, 09 Mei 2008 19:21:26
Setuju dengan Sonny, sebaiknya sinetron yang lebih membumi diperbanyak. Jika TV terus menayangkan sinetron negatif, kapan rakyat kita bisa pintar?
- Reney (PRO) Jum'at, 09 Mei 2008 22:25:31
Bisakah sinetron dirubah menjadi lebih baik? Tidak. Para pemilik Production House harus di-brainwash dulu bahwa tayangan mereka tidak sebaik itu. Laku sih, tapi tidak mendidik. Dan tidak mungkin kan membrainwash satu per satu para tenaga kreatif film. Intinya, benar bahwa orangtua harus proaktif dan inisiatif. Kalau perlu, ganti dengan TV cable yang sedikit lebih mendidik dan membuka wawasan.
Kami membuat Laporan Debat sabagai masukan berbagai yang relevan.
Bila tertarik Anda dapat mengunduhnya di bawah ini :
- Apakah PLTN Tepat untuk Indonesia Saat Ini Download
- Tepatkah Kebijakan Pemerintah untuk Menyensor Internet? Download
Apakah PLTN Tepat untuk Indonesia Saat Ini- Dr. Kusmayanto Kadiman
Tanggapan:
Ibu Betti Alisjahbana ysh,
Dua jempol saya acungkan atas keberanian dan keikhlasan Ibu mengangkat
Isu Panas PLTN melalui http://QBheadlines.com
Ingin sekali saya menjawab dan mengomentari semua pernyataan dan
pertanyaan baik yang pro maupun yang kontra PLTN. Namun demikian semua
orang sudah tahu bahwa saya tidak bisa netral dalam urusan PLTN ini.
Saya mohon pendapat Bu Betti. Terima kasih.
Saya mengucapkan SELAMAT MERAYAKAN HARI KARTINI.
Jabat erat,
KK
- Sutaryo Supadi
Tanggapan:
Ibu Betti yth,
Terima kasih atas kiriman Resume Debat PLTN yang lengkap. Kami mengucapkan selamat atas inisiatif ibu, semoga QBHeadlines dapat merupakan tambahan wahana pencerahan publik. Pada kesempatan ini, Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan menawarkan kepada semua fihak untuk bertukar fikiran, kapan saja, dimana saja tentang PLTN. Dari asupan , kami menarik kesimpulan sebagian peserta kurang memahami semua aspek tentang PLTN.
Mungkin juga karena keterbatasan ruang. Mohon bantuan kiranya ibu dapat menyebar luaskan tawaran kami ini, dengan menghubungi alamat email ini.
Terima kasih, wassalam, Sutaryo Supadi
- Prof. Rinaldy Dalimi
Tanggapan:
Ibu Betti ysh,
Terima kasih informasi hasil debat PLTN. Sosialisasi seperti ini bagus
sekali, dan seperti yang pernah saya sampaikan kepada ibu bahwa saya tidak
sependapat bahwa dibagi dalam dua kelompok yaitu pro dan kontra PLTN (saya
dimasukan yang kontra:-)), karena masing-masing punya alasan yang berbeda.
Saya tidak kontra nuklir, tetapi PLTN tidak tepat untuk Indonesia karena
kita mempunyai sumber daya energi yang cukup. Begitu juga Ibu/Bapak yang
ada dipemerintahan tidak bisa mengatakan "tidak" (walaupun saya tau
sebagian dalam hatinya juga tidak setuju PLTN:-)), karena sudah menjadi
kewajiban untuk membangun (ada dalam Blueprint Perencanaan Energi
Nasional), mungkin yang harus kita tanya adalah yang membuat blueprint
tersebut:-)
sekali lagi sukses dan terima kasih.
salam,
Rinaldy
Tepatkah Kebijakan Pemerintah untuk Menyensor Internet?- Dr. Muhammad Nuh [NA]
Tanggapan:
- Dr. Onno W. Purbo
Tanggapan:
kalau saya baca sepintas komentar yang masuk
rata-rata setuju sensorship (walaupun lebih suka self-sensor)
langkah taktis yang tampaknya harus / perlu di lakukan adalah
1.sosialisasi penggunaan internet yang sehat
untuk memperoleh pengetahuan & usaha.
2.sosialisasi / pemberdayaan teknik menyensor internet
agar self-sensor dapat dilakukan dengan baik.
3.sosialisasi sampai titik yang paling bawah
di sekolah-sekolah & warnet-warnet terutama
kepada operator & administrator jaringan.
teknik yang paling sederhana & murah
1. media massa
2. buku
3. internet (mailing list, wiki, web)
teknik yang mahal & memakan biaya banyak
1. roadshow
2. seminar
3. workshop
Sekedar info aja, saya sendiri sering di undang
utk memberikan seminar, workshop ttg teknik memblok situs
buku ttg hal itu juga sedang di tulis
- Bambang Harymurti [NA]
Tanggapan:
USULKAN TOPIK DEBAT
Kirimkan ide Anda untuk topik debat selanjutnya. Topik Debat adalah topik yang penting bagi kemajuan Indonesia dan menarik bagi pembaca untuk berpartisipasi menyampaikan pendapatnya. Rangkuman debat akan kami kirim pada pihak yang relevan untuk merealisasikan pendapat-pendapat yang masuk.
|
|