The Debate Room | About Us | Contact Us
 
    NEWS  POLITIC  ECONOMY AND BUSINESS  SPORT  ENTERTAINMENT  INNOVATION  LIFESTYLE  CAREER  INVESTMENT  CREATIVE-INDUSTRY 
 
 
Selasa, 13 Mei 2008
   


TAYANGAN SINETRON DI TV SWASTA KITA SUDAH BERLEBIHAN SEHINGGA MEMBODOHI PEMIRSA?

Sinetron Remaja Sarat dengan Muatan VHS – Violence, Horor and Sex
Oleh : Nina Armando, Pengamat Media

Anak-anak, remaja, maupun orang dewasa membeo dan menganga kekerasan dari sinetron. Saling mendorong, mencaci, mengancam, memaki-maki, memelototi, membentak, saling pukul, saling menjatuhkan, saling melecehkan. Konflik seru dalam satu keluarga? Ayah memaki anak, majikan menyiksa pembantu, upaya sang Ibu menghasut calon istri anaknya, suami menganiaya istri. Semuanya berasal dari sebuah kotak yang bernama televisi.

(Nina Armando, Pengamat Media yang aktif dalam Yayasan Pengembangan Media Anak KIDIA, disarikan oleh Anindya Sukarni)

Berdasarkan temuan peneliti dari 18 Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia tentang sinetron, khususnya sinetron remaja sepanjang tahun 2006 – 2007, secara masif menghasilkan kesimpulan suram. Secara umum kondisi persinetronan Indonesia masih memprihatinkan. Kekerasan telah menjadi porsi utama dalam plot dan adegan sinetron remaja, bukan lagi semata bumbu untuk memunculkan kontras dan konflik. “Kekerasan adalah inti dari cerita itu sendiri”.

Perlu dicermati bahwa seabrek kekerasan yang bersliweran di layar televisi khususnya sinetron remaja yang tidak hanya ditayangkan secara
prime time, namun dapat disaksikan dari pagi hingga malam hari, secara terus menerus mengajarkan bahwa kekerasan/violence memberikan dampak:

  • Privialism, dimana kekerasan itu menjadi sesuatu yang remeh, yang dangkal dan menjadi biasa dan tidak berdampak serius.
  • Sanitisasi kekerasan, bahwa perilaku kekerasan yang secara vulgar diumbar tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi di masyarakat, Bahwa kekerasan yang terjadi akan menjadi pelaziman di masyarakat.
  • Kekerasan bahkan hadir sebagai sesuatu yang diglamorisasi. Violence is glamorized! Artinya kekerasan hadir sebagai sesuatu yang keren, sesuatu yang positif, sesuatu yang hebat, dielu-elukan.
  • Bahkan kekerasan hadir dalam bentuknya yang mutakhir. Kartunisasi, diwujudkan dengan sosok umumnya adalah seorang yang lemah dan teraniaya yang hidup hanya untuk disiksa, disakiti, dihina namun kemudian bangkit kembali menjadi tegar. Berulangkali terjadi dengan plot yang sama namun dengan setting yang berbeda.
  • Bullying, kekerasan aksi dan verbal yang umumnya banyak mengambil setting sekolah dan anak SMU. Perilaku seperti kakak kelas menindas adik kelas, yang cantik menindas kaum yang relatif lemah, nert.

Yang kedua, sinetron penuh dengan muatan seks. Perilaku yang mengarah pada hubungan seks, bukan hubungan seks itu sendiri yang dieksploitasi tetapi arah dari setting sinetron itu sendiri. “Remaja berpelukan, berciuman dengan segala model dan bentuknya, setting dalam ruang seperti kamar, maka dapat dibayangkan apa pengaruh yang didapat remaja saat mereka menonton tayangan tersebut”, ujar Nina Armando.

Yang terakhir, sinetron masih bermuatan horor. Betulkah para pembuat sinetron tahu batas antara sinetron berbau religi atau horor. Maksud yang disampaikan adalah ada pesan moral. Dimana yang baik pasti menang dan yang jahat pasti kalah, namun tampilan yang disuguhkan menyeramkan. Disini permainan gender juga terjadi, dimana tokoh jahat umumnya di-stereotype-kan dengan sosok perempuan dan tokoh baiknya adalah laki-laki, sebagai contoh ustadz.

Ketika disinggung mengenai production house yang memproduksi sinetron berdasarkan realitas sosial yang ada, Nina menyangsikan. Pun, Nina menyangsikan kalau stasiun teve memiliki social responsibility atas tayangan yang diberikan kepada pemirsanya. Pemirsa tidak diberikan alternatif suguhan selain sinetron, production line dengan polanya yang ingin semuanya instan, tidak mau berpikir panjang akan proses atau dampak nantinya, pun pola bahwa yang menghibur adalah yang menghasilkan keuntungan. Dampak signifikan yang terjadi bukan hanya melewati tahap kognitif dan afektif namun akan sampai pada tingkat behavior.

Masalahnya adalah penonton kita belum bisa berpikir kritis. Media berfungsi sebagai sarana pembelajaran sosial (
social learning), menanamkan nilai-nilai (cultivation). Maka komunitas melek media (media literacy) perlu digalakkan. Tayangan tidak hanya sekedar menghibur dan pasif, namun perlu ditanggapi secara kritis. Wujud nyata dari media literacy ini adalah mengurangi tontonan televisi dan memilih tayangan yang berkualitas. Faktor bimbingan orang tua juga penting. Pun, Nina menambahkan jangan membuat ruang menonton kelewat nyaman dan memiliki televisi lebih dari satu. Selain sebagai faktor pemantau/ paren
tal advisory dapat pula mengurangi jembatan kesenjangan dalam keluarga akibat memiliki televisi masing-masing.

Kredit foto: dokumen pribadi Nina


Mari Membuat Sinetron yang Lebih Baik!
Oleh : Sony Set, Penulis Skenario Sinetron

Ibarat sebuah permen, tayangan sinetron Indonesia saat ini sebagian besar hanya menawarkan rasa manis dengan warna-warni tampilan yang mengenyangkan mata. Wajah cantik, penampilan menawan dan sejuta impian menjadi bintang terkenal berkulit mulus adalah pemandangan sehari-hari yang diasupkan lewat layar kaca. Kalau ada simbol-simbol pendidikan dengan memakai latar halaman sekolah atau ruangan kelas, sebagian besar hanya tempelan belaka. Tetapi untuk sekedar menyalahkan para pembuat sinetron di Indonesia bukanlah hal yang bijak, mengapa kita tidak bersama-sama bersatu memperbaiki ragam tayangan televisi? Tidak hanya berteriak dari jauh atau melakukan gerakan pasif mematikan televisi?

Kita masih ingat di kala era Orde Baru, ada sebuah anekdot konyol yang muncul di saat itu. Tentu Anda masih mengenal figur Harmoko, mantan Menteri Penerangan yang di era tahun 90-an awal sering tampil di televisi. Bahkan setiap hari, beliau ini selalu menampilkan kata-kata klise dan gaya menyanjung atasannya, Soeharto. Saking jengkelnya orang-orang saat itu terhadap penampilan Harmoko yang kerap membuat muak sebagian besar penonton televisi Indonesia, membuat beberapa pemirsa atau calon pembeli televisi baru mengeluarkan statemen seperti ini, “ Saya mau beli televisi baru yang tidak ada gambar Harmoko-nya! Ada nggak?”

Tentunya Harmoko bukan bintang sinetron, ia ditakdirkan menjadi ‘bintang paling menyebalkan’ di televisi. Begitu pula dengan awal munculnya tayangan sinetron, orang tertegun ketika pertama kali disuguhi gaya bercerita drama lewat tayangan ‘Rumah Masa Depan’, ‘Jendela Rumah Kita’ dan era berkembangnya sinetron bergaya India yang dikembangkan Multivision. Konon kabarnya, Arswendo Atmowiloto adalah orang pertama yang memberikan istilah sinetron untuk menunjukkan format ‘film drama’ di televisi.

Nah, mulai sejak Multivision mengembangkan konsep sinetron yang menggambarkan kemewahan dan drama rumah tangga sarat air mata, muncullah gaya tutur sinetron yang tidak berpihak terhadap realitas kehidupan sebagian besar rakyat Indonesia. Wajah Indo, akting kaku, penggambaran rumah yang super mewah, bertebaran bintang-bintang berkulit putih bersih, dramatisir adegan kekerasan hingga gaya bicara keras ditampilkan menjadi ribuan episode tayangan sinetron yang ditanamkan ke benak penonton Indonesia selama hampir 20 tahun! Multivision tidak sendiri, lalu bermunculan berbagai macam rumah produksi yang mengikuti resep yang sama. Belum lagi bila kita bicara teknis produksi, sebagian besar sinetron yang dibuat di Indonesia selalu terhambat kendala biaya pembuatan dan waktu pembuatan. Munculnya fenomena ‘sinetron stripping’ yang ditampilkan setiap hari demi mengejar rating dan keuntungan iklan, membuat standar kualitas sinetron kita saat ini jatuh pada titik nadir. Masih ingat dengan bintang sinetron Cinta Laura yang sangat kaku dalam berakting dan terbata-bata mengucapkan lafal bahasa Indonesia? Hal itu jelas menggambarkan kondisi jagad sinetron televisi kita yang menisbikan kemampuan teaterikal dan akting yang bagus. Jangankan membuat pengadegan yang menarik, membaca naskah saja sudah susah. Tetapi kenyataan di pasar terjadi sebuah keanehan, rating sinetron yang dibintangi bintang sekelas Cinta Laura cukup tinggi dan menghasilkan banyak iklan! Lho? Ada apa dengan sinetron Indonesia?

Kasus di atas belum selesai, ditambah lagi dengan berbagai tayangan yang jelas-jelas menjiplak sinetron drama korea, asia dan jepang. Sejak kemunculan sinetron Meteor Garden, muncullah rumah-rumah produksi yang hanya mengandalkan kemampuan menjiplak. Dari soal penulisan skenario sampai urusan pencarian pemain bintang yang mirip dengan pemain sinetron impor. Dari soal musik sampai gaya rambut, dari soal teknis pengambilan gambar sampai ke masalah editing. Konon ada sebuah isu yang berkembang di kalangan pembuat sinetron, bahwa para aktor sinetron bergaya asia-oriental tersebut, harus sering menjalani terapi pemutihan kulit, agar bisa lebih putih dan bersih, bahkan harus rela disuntik untuk mengatur pigmen kulitnya!!!

Mendidik Lewat Sinetron


Percayalah terhadap segala hal berdasarkan prosesnya. Begitu pula kita masih bisa berharap akan munculnya sinetron-sinetron yang lebih baik dan mendidik. Kita masih percaya bahwa di luar sana masih banyak para pembuat sinetron yang melakukan proses produksi hulu ke hilir dengan semangat membuat tayangan yang lebih baik.

Beberapa rumah produksi seperti Demi Gisela, Miles Production, Atmo Chademas, SET production dan penggarap tayangan idealis masih kukuh menawarkan konsep-konsep tayangan mendidik dengan pendekatan moral. Kita masih ingat dengan tayangan ‘Keluarga Cemara’ yang dibesut Arswendo Atmowiloto sebagai sutradara sekaligus penulis skenarionya, pesan moral tentang besarnya arti kejujuran menjadi daya tarik sendiri dari sinetron ini. Film layar lebar ‘Gie’dan ‘Sherina’ memberikan alternatif lain memandang perfilman Indonesia lewat kacamata anak muda. Mira Lesmana dan Riri Reza bahu membahu mengangkat semangat berjuang dan belajar ala anak muda lewat icon-icon aktor idealis sekelas Nicholas Saputra dan Dian Sastro Wardoyo.

Di jalur produksi sinetron bergenre religi, muncul Deddy Mizwar dan penulis skenario Wahyu H.S yang menawarkan konsep bercerita islami dengan pendekatan praktis dan humor. Kita dapat melihat bagaimana serial ‘Para Pencari Tuhan’ menjadi tayangan sinetron rating tertinggi di bulan Ramadhan 2007. Kekuatan konsep cerita yang sederhana dengan memasukkan nilai-nilai fiqih islam menjadi tantangan tersendiri di saat proses penulisannya. Kabarnya, sinetron ini menggunakan 4 ahli agama Islam yang memberikan masukan dalam penulisan skenarionya. Dapat dibayangkan betapa rumit proses pembuatan konsepnya. Namun, Deddy Mizwar dengan cerdas meramu kerumitan tersebut menjadi tayangan sederhana yang sangat merakyat dan mendidik tanpa menggurui.

Lalu, apa saja yang bisa kita lakukan untuk turut membantu mereka memperbaiki dunia tayangan televisi? Sederhana saja, mulailah dengan menulis. Jangan hanya mengkritik atau apatis, kekuatan tulisan adalah dasar awal dari perlawanan dan karya tulis yang baik dapat menyelamatkan keadaan ini. Andre Hirata dengan novel Laskar Pelangi-nya adalah contoh sukses seorang penulis yang siap mengubah wajah televisi kita. Kabarnya, saat ini Laskar Pelangi dalam proses pembuatan film layar lebar yang diproduksi Miles Production. Sebuah novel yang sarat dengan kisah-kisah perjuangan dan edukasi yang sederhana. Kita berharap banyak cerita seperti ini dapat merubah dunia televisi Indonesia.

Anda tidak harus menjadi seorang produser sinetron untuk mengubah tayangan drama sinetron yang membosankan. Gerakkan mata pena Anda untuk membuat sebuah cerita yang mencerahkan, lewat cerpen, novel atau berbagai tulisan. Niscaya, suatu saat orang-orang televisi dan perfilman akan menoleh terhadap buah karya Anda. Saat ini masyarakat Indonesia lebih cerdas untuk memilih mana tayangan yang baik untuk mereka. Kita melihat dengan mata kepala sendiri berbagai sinetron yang hanya menampilkan sensasi dan kemewahan satu-persatu terjungkal dari layar televisi. Tren sinetron bergeser ke arah tayangan yang menampilkan kesederhanaan, tidak melulu gambaran rumah mewah dan dandanan menor aktor-aktris berakting tanpa hati. Itu juga belum cukup, karena fungsi sinetron sebagian besar masih hanya untuk menghibur. Kita memerlukan unsur pendidikan dalam tayangan televisi agar bisa mencerdaskan dan membuat bangsa ini lebih baik. Mari ubah tayangan televisi agar menjadi lebih baik.

Kredit foto: tvblog.blogspot.com

Tambah Komentar
 
 Nama
 Email
 Pilihan
 Komentar  
 
 
 

SAMPAIKAN KOMENTAR ANDA


26 comments
  • sugeng (PRO) Selasa, 06 Mei 2008 04:25:09
  • Motulz (PRO) Selasa, 06 Mei 2008 05:35:28
  • Shafiq (NONE OF BOTH) Selasa, 06 Mei 2008 06:26:33
  • adli (NONE OF BOTH) Selasa, 06 Mei 2008 07:31:19
  • hardhi (PRO) Selasa, 06 Mei 2008 08:50:43
  • Diana (CONTRA) Selasa, 06 Mei 2008 19:17:10
  • Digta (CONTRA) Selasa, 06 Mei 2008 19:38:02
  • Digta (CONTRA) Selasa, 06 Mei 2008 19:55:26
  • Bayu Yuswan Satria (NONE OF BOTH) Selasa, 06 Mei 2008 21:58:50
  • Donny (NONE OF BOTH) Rabu, 07 Mei 2008 02:14:50
  • Donny (NONE OF BOTH) Rabu, 07 Mei 2008 02:25:22
  • Donny (NONE OF BOTH) Rabu, 07 Mei 2008 02:25:33
  • bless (NONE OF BOTH) Rabu, 07 Mei 2008 03:43:56
  • bayus (PRO) Rabu, 07 Mei 2008 05:16:52
  • Arli (NONE OF BOTH) Rabu, 07 Mei 2008 18:36:53
  • Retno S. (PRO) Rabu, 07 Mei 2008 22:55:36
  • ruli (NONE OF BOTH) Kamis, 08 Mei 2008 03:18:34
  • Aditya Wardhana (NONE OF BOTH) Kamis, 08 Mei 2008 04:53:23
  • adit (PRO) Kamis, 08 Mei 2008 04:55:07
  • Aditya Wardhana (NONE OF BOTH) Kamis, 08 Mei 2008 04:58:46
  • sri djoko (CONTRA) Kamis, 08 Mei 2008 05:08:02
  • sri djoko (PRO) Kamis, 08 Mei 2008 05:20:37
  • Marko Suswanto (CONTRA) Kamis, 08 Mei 2008 07:45:46
  • Santi (PRO) Kamis, 08 Mei 2008 11:56:40
  • Diana (PRO) Jum'at, 09 Mei 2008 19:21:26
  • Reney (PRO) Jum'at, 09 Mei 2008 22:25:31

  TOPIK DEBAT SEBELUMNYA


 LAPORAN FORUM DEBAT
Kami membuat Laporan Debat sabagai masukan berbagai yang relevan.
Bila tertarik Anda dapat mengunduhnya di bawah ini :
  • Apakah PLTN Tepat untuk Indonesia Saat Ini Download
  • Tepatkah Kebijakan Pemerintah untuk Menyensor Internet? Download

 TANGGAPAN ATAS LAPORAN
Apakah PLTN Tepat untuk Indonesia Saat Ini
  • Dr. Kusmayanto Kadiman
  • Sutaryo Supadi
  • Prof. Rinaldy Dalimi
Tepatkah Kebijakan Pemerintah untuk Menyensor Internet?
  • Dr. Muhammad Nuh [NA]
  • Dr. Onno W. Purbo
  • Bambang Harymurti [NA]

USULKAN TOPIK DEBAT

Kirimkan ide Anda untuk topik debat selanjutnya. Topik Debat adalah topik yang penting bagi kemajuan Indonesia dan menarik bagi pembaca untuk berpartisipasi menyampaikan pendapatnya. Rangkuman debat akan kami kirim pada pihak yang relevan untuk merealisasikan pendapat-pendapat yang masuk.