 Oleh: Restituta Ajeng Arjanti
Satu lagi distro Linux asal Indonesia dilahirkan. Namanya EasyHotspot, dibuat oleh Rafeequl Rahman Awan, lulusan Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Nasional Syarief Hidayatullah. Secara singkat, EasyHotspot merupakan aplikasi pembuat hotspot yang dilengkapi dengan sistem manajemen dan perhitungan biaya (billing) hotspot.
Dari dan untuk Open Source
Sebelum menekuni dunia open source, si pencipta EasyHotspot, Rafeequl, fokus di bidang desain web. Dari situ, dia mulai mencoba mengembangkan aplikasi-aplikasi kecil berbasis web, hingga akhirnya dekat dengan dunia open source. “Awalnya aplikasi yang saya buat hanya sebatas aplikasi untuk keperluan website saja, lalu berkembang mengembangkan aplikasi untuk manajemen server seperti bandwidth, proxy, dan billing,” paparnya.
Merasa selama ini banyak dibantu oleh beragam open source software (OSS) dalam mengerjakan tugas-tugasnya, Rafeequl ingin memberi kontribusi balik ke masyarakat open source. Dia melepas EasyHotspot di bawah lisensi GPL (General Public License), untuk digunakan dan dikembangkan bersama dalam komunitas open source.
EasyHotspot Berbasis OSS
Selain bisa digunakan untuk membuat sebuah hotspot, EasyHotspot juga dilengkapi dengan beberapa fungsi manajemen. “Aplikasi itu bisa membuat user atau voucher untuk dipakai oleh para pengguna hotspot,” kata Rafeequl. EasyHotspot akan mengecek validitas pengguna, memberi hak pada pengguna sesuai dengan akun yang dimilikinya (prepaid atau postpaid), dan menghitung jumlah biaya penggunaan hotspot. Untuk mempermudah penggunanya, EasyHotspot juga dilengkapi dengan aplikasi manajemen hotspot berbasis web yang mudah dioperasikan.
Untuk mengembangkan EasyHotspot, Rafeequl menggunakan beberapa OSS. Contohnya MySQL untuk membuat pemrograman database pengguna, paket billing, dan rekaman penggunaan hotspot. “Saya juga pakai Chillispot sebagai captive portal (pintu gerbang utama yang akan mengecek apakah pengguna berhak menggunakan hotspot atau tidak), serta FreeRadius sebagai pondasi utama proses otorasi, otentikasi, dan perhitungan biaya,” dia menjelaskan sisi teknis dari aplikasi buatannya.
Berhubung dibuat sebagai distro Linux, pengguna EasyHotspot tidak dituntut untuk menggunakan komputer dengan spesifikasi tinggi. Komputer dengan prosesor Pentium 3 dan RAM minimal 256MB sudah bisa dipakai untuk mengoperasikan aplikasi itu. Sebagai tambahan, pengguna yang ingin menjalankan fungsi manajemen hotspot berbasis web harus menginstal aplikasi LAMP, FreeRadius, dan Chillispot.
Kelebihan OSS
Dibandingkan dengan proprietary software, Rafeequl melihat OSS punya lebih banyak kelebihan. “Software open source itu sifatnya free, bukan berarti cuma gratis, tapi juga bebas untuk dieksplorasi. Kita bebas memakai, memodifikasi, mempelajari, dan mendistribusikannya kembali,” Rafeequl mengemukakan pendapat.
Dia menilai, banyak orang belum mau menggunakan OSS semata karena banyak orang yang belum tahu tentangnya. “Untuk beberapa kalangan, mungkin open source itu identik dengan hal-hal yang berbau geek, jadi sulit dipakai. Selain itu, belum banyak support yang tersedia,” katanya.
Agar lebih efektif, kata Rafeequl, sosialiasi open source di Tanah Air bisa dilakukan dengan memasukkan pelajaran tentang OSS dalam kurikulum di universitas. “Selain utu, dosen-dosen juga harus mendorong mahasiswanya untuk mengeksplorasi open source software. Supaya lebih efektif lagi, universitas harus mendukung segala bentuk kegiatan atau organisasi mahasiswa keilmuan yang berbasis open source. Misalnya kelompok belajar, riset, dan lain-lain,” dia memaparkan.
Optimis dengan OSS
Pecinta open source ini optimis dengan perkembangan open source di Indonesia. “Saya sangat optimis sekali. Kalau melihat perkembangannya dari tahun ke tahun, lama-lama open source sudah mulai dikenal oleh masyarakat,” katanya. Dia melihat sudah cukup banyak orang yang mulai menggunakan desktop berbasis Linux, baik di komputer bersistem dual boot atau di komputer dengan Linux sebagai sistem operasi utamanya.
“Perkembangan usability desktop Linux sudah banyak membuka mata masyarakat bahwa open source juga harus diperhitungkan,” tutur Rafeequl. Dia memberi contoh, saat ini sudah ada program Compiz yang bisa dipakai untuk menampilkan efek-efek 3D di desktop Linux.
“Saya yakin open source bisa benar-benar sukses bila masyarakat sudah sadar akan haramnya pembajakan. Yang jadi masalah sebenarnya bukan open source software atau propietary, tapi legal atau tidak software itu,” katanya.
* Informasi tentang pengembangan EasyHotspot bisa dilihat di easyhotspot.sourceforge.net. |