 Oleh: Restituta Ajeng Arjanti
Open source software (OSS) mungkin belum cukup mumpuni di bidang desain dan gaming. Tapi, Anda harus tahu bahwa OSS banyak dipakai oleh para desainer web untuk merancang dan mengembangkan website mereka.
Viking Karwur adalah salah satu desainer web yang mengandalkan OSS untuk membuat karyanya. “Saya pakai OSS sejak kuliah dulu. Alasan utamanya, karena saya bisa memelajari cara kerjanya dengan melihat source code-nya,” kata Viking.
CMS 'Terbuka'
Lulusan Teknik Informatika, Universitas Bina Nusantara, angkatan '94 ini mengakui manfaat OSS dalam mendukung pekerjaannya. Contohnya, pada beberapa proyek yang dikerjakannya belakangan ini, Viking mengunakan TextPattern sebagai CMS (content management system) yang sifatnya terbuka. CMS adalah software yang digunakan untuk mengelola konten dalam sebuah website.
Alih-alih membuat CMS baru, ia lebih suka mengunakan CMS yang sudah stabil seperti TextPattern. “Sebelum pakai TextPattern, saya pakai MT (MovableType). Nah, sekarang MT sudah open source juga,” katanya. Untuk membuat website, dia juga menggunakan beberapa open source engine lain macam Wordpress, Drupal, Joomla, atau Mambo.
Saat ini, Viking bekerja dengan dua platform komputer PC yang berbasis Windows dan Macintosh. “Saya pakai Text Editor di Mac untuk menulis kode HTML atau hard code CSS (cascading style sheet). Tapi untuk aplikasi pengolah gambar, saya tak bisa lepas dari Photoshop,” akunya.
CSS adalah fitur tambahan dalam HTML yang memungkinkan pihak pengembang website mengatur tampilan pada halaman webnya. Dengan CSS, desainer web bisa membuat pengaturan khusus dan seragam untuk tiap elemen web. Misalnya header, menu, dan link pada website.
Gratis dan Legal
Dibandingkan dengan proprietary software, Viking menilai OSS punya kelebihan lantaran gratis dan legal. Lalu, kenapa masih banyak orang enggan untuk beralih ke OSS? Ada banyak faktor yang menurutnya mempengaruhi hal tersebut, utamanya masalah kebiasaan.
“Mengubah kebiasaan user itu susah banget. Jadi, biarlah waktu yang menjawab. Kalau mereka merasa OSS lebih baik, pasti mereka akan pindah,” katanya.
Bicara tentang kebiasaan, Viking mengaku juga sempat kesulitan di awal mempelajari OSS. Kalau sudah biasa, tidak ada hal yang sulit. Keunggulan lain dari OSS adalah dukungan dari komunitasnya yang besar. “Kalau ada kendala, tinggal tanya ke komunitas, dan masalah beres,” paparnya.
Optimis
Tentang perkembangan OSS di Tanah Air, Viking optimis. “Jelas dan harus berkembang,” katanya. “Karena pengunaan software yang legal dan gratis pasti jadi kebutuhan.”
Menurutnya, penggunaan dan pengalaman personal pengguna OSS jadi hal penting untuk memajukan OSS di dalam negeri. Sosialisasi harus dimulai dari orang-orang yang peduli dengan OSS. “Gunakan dulu sendiri dan rasakan bedanya, lalu tulis keuntungan menggunakan OSS di blog,” kata Viking. Dia menambahkan, “Aktif di komunitas OSS juga perlu. Kita menerima software gratis, kita juga harus memberikan (ilmu dan dedikasi) dengan gratis pula.”
Foto: Stevi Latuihamalo (Viking Karwur, ketiga dari kiri, dalam "Party Launch" Firefox 3 di Jakarta, 30 Juni 2008.)
Firefox, Gratis dan Aman Sebagai seorang desainer web, menjajal website rancangannya di setiap browser adalah keharusan bagi Viking agar tampilan website buatannya bagus―sesuai dengan browser yang digunakan oleh pengaksesnya. Tentang browser, dia menilai saat ini Firefox 3 lah pemenangnya. Viking mengunggulkan Firefox 3 karena kemampuan dan kecepatan open source browser buatan Mozilla itu.
“Saya pikir, kalau ada browser yang menawarkan kemampuan yang mumpuni, kenapa tak dipakai? Apalagi gratis dan aman,” katanya.
Viking sendiri sangat tertarik dengan Firefox 3. Itulah alasannya menggelar satu-satunya “party launch” Firefox 3 di Indonesia, tanggal 30 Juni lalu. Asal Anda tahu, pada tahun 2004, dia pun pernah mengadakan “MozParty2” untuk menyambut peluncuran Firefox versi sebelumnya. Kedua pesta itu digelar di Jakarta. |