 Oleh: Reney Lendy Mosal
Berbeda dengan proprietary software, open source software (OSS) terkendala dalam hal sosialisasi. Di saat para pengembang proprietary software melakukan promosi secara besar-besaran, para pengembang OSS tidak melakukan itu. Hal inilah yang kemudian membuat OSS kurang populer di mata masyarakat. Padahal, OSS selain legal dan gratis, juga punya banyak keunggulan lain untuk bersaing dengan proprietary software.
Poin itulah yang menjadi perhatian Rusmanto, Ketua Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) dan mantan Wakil Ketua Komunitas Penggerak Linux Indonesia (KPLI). Melalui YPLI yang bekerjasama dengan KPLI, Rusmanto bersama para penggiat Linux lain di Indonesia aktif mensosialisasikan penggunaan OSS secara besar-besaran.
YPLI dan KPLI
YPLI merupakan organisasi yang memiliki keterkaitan dengan KPLI. KPLI, didirikan pada tahun 1998 dan tersebar di banyak kota di Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan Medan; mewadahi para pengguna Linux dan menjadi tempat mereka untuk berbagi informasi. Sementara YPLI berfungsi untuk mengkoordinasikan para pengembang Linux.
YPLI dan KPLI sama-sama giat mensosialisasikan penggunaan OSS. Caranya beragam―bisa melalui penulisan di media massa, pelatihan, workshop, ataupun roadshow. Saat ini, keduanya tengah menggelar roadshow dengan tema "Roadshow Linux untuk Pendidikan" ke beberapa kota di Indonesia seperti Cirebon, Riau, dan Medan. Dengan roadshow ini, YPLI dan KPLI memperkenalkan penggunaan OSS ke berbagai institusi pendidikan seperti sekolah dan universitas.
Membiasakan Masyarakat
Sosialisasi OSS yang mereka lakukan bertujuan untuk mengakrabkan para pengguna komputer dengan Linux. “Biasanya, karena belum tahu, mereka jadi takut pakai,” kata Rusmanto mengomentari gagapnya masyarakat terhadap OSS. Dia menilai sosialisasi OSS sangat perlu dilakukan. “Kalau bisa melakukan sosialisasi menyeluruh, saya optimis orang akan berpindah ke open source,” tambahnya.
Rusmanto konsisten untuk mensosialisasikan OSS kepada masyarakat. Bulan Agustus mendatang, dia terlibat dalam acara pemecahan rekor MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) oleh KPLI dan YPLI di Jakarta City Center, Jakarta Pusat. Pemecahan rekor yang dimaksud adalah instalasi Linux BlangkOn versi 3 ke dalam 300 laptop.
Usaha sosialisasi yang dilakukan oleh Rusmanto didorong oleh keinginannya membiasakan masyarakat menggunakan OSS. Diakuinya, penggunaan OSS hanya masalah kebiasaan. “Biasanya takut salah, takut hilang datanya, atau apalah,” dia berkisah tentang pengalamannya menghadapi orang-orang yang baru menggunakan OSS.
Rusmanto sendiri menyukai OSS karena beberapa alasan. "Yang pertama, karena bebas virus,” ungkapnya. “Selain itu banyak pilihannya dan juga legal.” Pada intinya, OSS sering kali tertutup oleh promosi besar-besaran dari para pengembang proprietary software. Padahal, dibandingkan proprietary software, OSS tidak kalah bermanfaat.
Ayo kita sosialisasikan OSS!
Foto: majalah-linux.baliwae.com
|