 Oleh: Reney Lendy Mosal
Tidak semua warnet berani menggunakan open source software (OSS). Mayoritas malah lebih memilih proprietary software, meski harus pakai versi bajakan karena tak mampu membayar harga lisensi. Alasannya, banyak pengguna belum biasa dengan OSS. Pilihan itu tentu berisiko, mengingat aparat kerap mengadakan razia keaslian software komputer di warnet.
Beda dengan kebanyakan warnet, Majao Computer berani menanam OSS pada mesin-mesin komputernya. Selain membuka layanan akses internet, warnet yang berlokasi di Komp. Reni Jaya Utama,
Blok B9 No.17 Kelurahan Pondok Petir, Kecamatan Sawangan, Depok ini pun melengkapi bisnisnya dengan menjual alat tulis kantor (ATK), serta membuka kursus, layanan perbaikan, dan rental komputer.
Mulai Menggunakan OSS
Warnet yang namanya seperti nama sebuah kampung di daerah Sumatera Barat ini mulai menggunakan OSS sejak tahun 2005. Alasannya karena saat itu mulai banyak razia software bajakan. "Daripada ditangkap, kena denda, dan tidak
sanggup bayar, lebih baik pindah ke open source saja", kata Auliah Azza, pemilik warnet Majao Computer, saat diwawancarai oleh QBHeadlines.com, Rabu (9/7).
Saat ini, dikatakan Aulia, warnetnya menggunakan beberapa OSS seperti server Fedora Core 3, software pengolah gambar GIMP, dan beberapa aplikasi lain seperti OpenOffice dan XChat.
Proses Adaptasi
Pilihan untuk berpindah ke OSS membuat para pengelola Majao Computer merasakan banyak pengalaman baru. Pada awalnya, mereka harus teliti saat membeli perangkat keras seperti scanner dan printer agar kompatibel dengan OSS yang digunakan. Para pengelola dan operator warnet juga harus belajar menggunakan OSS. Namun, di luar itu, masalah terbesar mereka alami saat harus berhadapan dengan masyarakat yang sebelumnya telah terbiasa menggunakan proprietary software.
"Banyak orang saat itu belum memahami dan mengenal apa itu open source. Jadi harus dijelaskan secara pelan-pelan," kata Auliah.
Ketika baru mencoba OSS, banyak pelanggan kesulitan. Dituturkan Auliah, ada saja protes dari pelanggan. Contohnya "Kok begini sih, Mbak?", "Repot ya!", "Duh, pusing nih", dan lain sebagainya. Bahkan, ada pula yang langsung pergi begitu tahu Majao menggunakan OSS. Faktor kebiasaan tampaknya masih jadi masalah. Untungnya, tidak semua pengunjung mengajukan komplain. Ada juga yang mau beradaptasi dengan OSS.
Kini, setelah tiga tahun menggunakan OSS, warnet Majao malah disukai pengunjung lantaran bebas virus. Auliah mengakui, salah satu manfaat menggunakan OSS di warnetnya adalah kesempatan melihat karakter orang yang berbeda-beda. Sebagian orang memang sulit mengubah kebiasaannya meskipun dihadapkan dengan pilihan baru yang menawarkan manfaat nyata. "Saya jadi bisa melihat karakter orang, mana yang mau maju menerima tantangan dan mana yang tidak," cerita Auliah.
Manfaat
Selain terbebas dari gangguan virus, warnet Majao juga tidak resah jika sewaktu-waktu menghadapi razia dari aparat. "Tidak degdegan kalau dengar mau ada razia," kata Auliah. Ia menambahkan, OSS yang digunakan di warnetnya juga tidak cepat rusak, sehingga mengurangi beban untuk pemeliharaan. "Sudah 3.5 tahun software-nya tidak rusak," katanya.
Dari pengalaman Aulia, bisa kita lihat, OSS gratisan ternyata tidak mendatangkan manfaat seadanya. Berbekal keberanian mencoba, seperti yang diperlihatkan warnet Majao di Depok, banyak manfaat bisa dirasakan dengan OSS.
Foto: www2.kompas.com |