 Oleh: Restituta Ajeng Arjanti
Pixel People Project terkenal dengan inovasi desain batik fractal, jenis batik tradisional yang dibuat menggunakan kombinasi seni, sains, dan teknologi. Dalam berkarya, mereka tak lepas dari komputer. Sejak awal pula mereka sudah menggunakan open source software (OSS) untuk mendukung kegiatan kreatifnya.
Mendorong Kreativitas
Dalam mengembangkan desain batik fractal, Pixel People selalu menggunakan komputer dan OSS. Meski belum menggunakan sistem operasi open source, Pixel People Project, bersama dengan IGOS Center Bandung, mengembangkan sendiri aplikasi open source untuk membuat desain batik fractalnya. Aplikasi itu dinamai jBatik. Selain menggunakan jBatik, mereka juga menggunakan aplikasi Java Package 3D dan 2D untuk melakukan perancangan.
Menurut Nancy Margried, salah satu anggota sekaligus penggagas Pixel People Project, sejak awal menggunakan OSS, belum pernah ada kendala berarti yang mereka hadapi. “Kami rajin ngoprek dan mencoba-coba. Jadi, pasti bisalah,” kata Nancy. Menurutnya, masih banyak orang yang enggan untuk bermigrasi ke OSS karena malas belajar. Padahal menggunakan OSS sebenarnya tak sulit, hanya soal kebiasaan.
Menurut kelompok desainer batik ini, salah satu nilai positif yang disebarkan oleh dunia open source adalah kreativitas. Nancy menyampaikan, gerakan itu terbuka bagi setiap orang yang ingin ikut serta menyempurnakan program yang bersifat open source. Artinya, gerakan tersebut mendorong orang untuk ikut kreatif.
“Sejak awal, kami berprinsip kreativitas tak boleh dibatasi. Jadi, sejak awal kami juga sudah pakai open source software,” katanya. Selain itu, menurutnya, ada hal lain yang menyenangkan dalam dunia open source: tiap orang bisa berkontribusi untuk menyempurnakan aplikasinya.
Sosialisasi OSS
Ditanya tentang sosialisasi OSS di Tanah Air, Nancy, juga mewakili teman-temannya melihat, masih harus menyentuh banyak kalangan, termasuk para pekerja kreatif.
“Sosialisasi OSS masih butuh menyentuh kalangan yang lebih luas lagi daripada sekarang. Harus ke kalangan pekerja kreatif, berhubung merekalah yang paling banyak menggunakan komputer. Selain itu mereka juga dianggap sebagai trendsetter,” tutur Nancy.
“Itulah mengapa Microsoft dan Apple mati-matian mengarahkan produk mereka pada kaum urban ini, karena mereka adalah “agent of change”. Indonesia harus melakukan hal yang sama untuk sosialisasi OSS,” lanjutnya.
Nancy melihat sosok seorang duta open source yang menarik, cerdas, dan berhasil dalam karier akan berpengaruh terhadap sukses masa depan dunia open source Indonesia. Sebagai role model yang hebat, sosok itu akan mampu mendorong perluasan sosialisasi OSS di dalam negeri.
OSS untuk Dunia Kreatif
Sebagai orang yang aktif di dunia kreatif, Nancy berharap banyak untuk dunia open source, khususnya di Tanah Air. Ia ingin, kelak akan hadir aplikasi open source yang lebih mudah digunakan (user friendly). Pun ia ingin agar sosialisasi OSS lebih banyak digiatkan dengan target anak-anak muda dan dunia kreatif.
“Karena anak muda adalah agent of change. Jadi, mereka harus diberdayakan untuk membawa pesan-pesan baru dan mensosialisasikan hal-hal baru,” kata Nancy.
Foto: Dok. Pixel People Project |