HOME  CERITA-SUKSES  DISTRO  BERITA  PETA DUKUNGAN  PENYEDIA-JASA  QBHEADLINES  GCOS 
   




Linuxindo: Dijamin 100% Linux dan Tidak Kecewa

Menkominfo Membuka GCOS 2009

OSS, Low Cost Tapi Kompetitif

Asia Afrika Serius Kembangkan Open Source

Industri Media Cerita Tentang Open Source

OSS Sesuai dengan Kultur Masyarakat Indonesia

EasyHotspot, Satu Lagi Kontribusi untuk Dunia Open Source

OSS Lebih Kaya Ketimbang Software Komersial

Software Legal dan Gratis Pasti Jadi Kebutuhan

Open Source Software Hanya Perlu Disosialisasikan

Warnet Majao, Membiasakan Pengunjung Pakai OSS

SEAMOLEC, Membuka Akses Pendidikan dengan OSS

Asosiasi Open Source Indonesia Resmi Berdiri

Onno W. Purbo: Sosialisasi OSS Bisa Lewat Buku Pelajaran TI

Pixel People Project: Open Source Dorong Kreativitas

Detik.com, Nyaman dengan OSS

Anjar Hardiena: Akrab dengan OSS Hanya Masalah Kebiasaan

PT Tempo Inti Media, Makin Kenal, Makin Sayang dengan Linux

Telkom Pilih OSS sebagai Solusi Bisnis

BIM Mastel, Bikin Orang Desa Tak Gagap Open Source

IGOS Semakin Mantap!

 
  
 

Detik.com, Nyaman dengan OSS  

Oleh: Reney Lendy Mosal

Hampir semua pengguna internet di Indonesia pasti mengetahui Detik.com, salah satu situs berita pertama di Indonesia yang hingga kini masih bertahan di tengah ketatnya persaingan media online. Banyak peselancar internet di Indonesia, maupun orang Indonesia yang berada di negara lain, aktif mengunjungi situs Detik yang ternyata menggunakan open source software (OSS) untuk mendukung kegiatan redaksionalnya.

Hal itu diakui oleh Donny Budi Utoyo, Redaktur Pelaksana Detikinet, salah satu bagian Detik yang fokus mengulas tentang seputar dunia teknologi dalam negeri.

Menurut Donny, Detik telah menggunakan OSS sejak dua tahun lalu. Beberapa pertimbangan yang mendasari migrasi dari proprietary software ke OSS adalah efisiensi dan efektivitas. Proprietary software biasanya dilepas ke pasar dengan harga yang mahal. Sementara dengan OSS, Detik sudah bisa memenuhi kebutuhannya, sekaligus menekan biaya pengeluarannya.

Awal Migrasi

Saat pertama kali melakukan migrasi dari software berlisensi ke OSS, diakui Donny, membutuhkan banyak adaptasi. “Banyak yang nanya, ini beda gak ya? Aman gak ya?” katanya. Dapat dibilang, itu wajar karena memang staf Detik.com sebelumnya terbiasa menggunakan Windows. Tetapi kemudian, proses adaptasi itu tidak memakan waktu lama. “Kira-kira seminggu sudah lancar,” ungkap Donny.

Sejak saat itu, Detik menggunakan OSS dalam mendukung kegiatannya. Beberapa OSS yang digunakan di Detik.com adalah sistem operasi Linux Ubuntu, software pengolah gambar GIMP, dan aplikasi Open Office. “Kira-kira 90 persen komputer dan laptop di Detik sudah menggunakan OSS, kecuali yang memang membeli Windows original," kata Donny.

Manfaat OSS

Menggunakan OSS, diakui pria kelahiran Jogjakarta ini, memberikan banyak manfaat. Hal pertama yang menjadi manfaat penting adalah faktor keamanan.

“Dulu ketika belum menggunakan OSS, ada aja virusnya, sampai komputer lambat karena banyak virus, worm dan malware,” kata Donny. Selain itu, manfaat yang dirasakan adalah bahwa OSS lebih menekan biaya pengeluaran, karena gratis. Hal ini menjadi pilihan terbaik dibanding jika harus membeli proprietary software atau menggunakan software bajakan.

“Apalagi sekarang banyak corporate besar yang dijadikan sorotan karena menggunakan software bajakan,” tambahnya. Jadi, dengan menggunakan OSS, tidak perlu takut jika suatu waktu digerebek pihak yang berwajib.

Menurut Donny lagi, tak ada alasan bagi Detik untuk kembali ke proprietary software, apalagi mereka telah merasakan manfaat menggunakan OSS.

Foto: DetikiNet.

 
 

Asosiasi Open Source Indonesia
Jl. Buncit Persada No.1 Jakarta Selatan Indonesia T 62 21 7972204 F 62 21 7945013 E anin@qbheadlines.com