HOME  CERITA-SUKSES  DISTRO  BERITA  PETA DUKUNGAN  PENYEDIA-JASA  QBHEADLINES  GCOS 
   




Linuxindo: Dijamin 100% Linux dan Tidak Kecewa

Menkominfo Membuka GCOS 2009

OSS, Low Cost Tapi Kompetitif

Asia Afrika Serius Kembangkan Open Source

Industri Media Cerita Tentang Open Source

OSS Sesuai dengan Kultur Masyarakat Indonesia

EasyHotspot, Satu Lagi Kontribusi untuk Dunia Open Source

OSS Lebih Kaya Ketimbang Software Komersial

Software Legal dan Gratis Pasti Jadi Kebutuhan

Open Source Software Hanya Perlu Disosialisasikan

Warnet Majao, Membiasakan Pengunjung Pakai OSS

SEAMOLEC, Membuka Akses Pendidikan dengan OSS

Asosiasi Open Source Indonesia Resmi Berdiri

Onno W. Purbo: Sosialisasi OSS Bisa Lewat Buku Pelajaran TI

Pixel People Project: Open Source Dorong Kreativitas

Detik.com, Nyaman dengan OSS

Anjar Hardiena: Akrab dengan OSS Hanya Masalah Kebiasaan

PT Tempo Inti Media, Makin Kenal, Makin Sayang dengan Linux

Telkom Pilih OSS sebagai Solusi Bisnis

BIM Mastel, Bikin Orang Desa Tak Gagap Open Source

IGOS Semakin Mantap!

 
  
 

PT Tempo Inti Media, Makin Kenal, Makin Sayang dengan Linux  

Oleh: Merry Magdalena

Tak kenal maka tak sayang. Namun akhirnya jajaran karyawan PT. Tempo Inti Media mengenali dan menyayangi Open Source juga. Berawal sejak 2004 lalu, redaksi Koran Tempo dan majalah Tempo mulai akrab dengan Xandros, sistem operasi turunan Debian.

“Jurnalis kan mayoritas hanya menggunakan aplikasi Office dan Internet untuk email dan browsing, jadi kami carikan desktop Linux yang paling user friendly,” ujar Handi Dharmawan, Manager Teknologi Informasi PT. Tempo Inti Media kepada QB Headlines.

Hemat dan Mudah

Migrasi dari sisten operasi propietary ke Open Source dilakukan dengan pertimbangan biaya lisensi propietary lumayan menguras kocek. Terlebih saat itu sudah ada sistem operasi Linux yang cukup mudah digunakan oleh siapa saja. Menurut Handi, untuk migrasi ini memang tidak semudah membalik telapak tangan, mengingat user sudah terbiasa dengan sistem operasi propietary. Perusahaannya mengadakan kursus singkat yang berisi pengenalan navigasi di Linux, bagaimana mengakses Internet, dan seterusnya. Kursus berjalan lancar dan migrasi pun sukses. Saat ini tak kurang dari 300 unit komputer di Tempo sudah menggunakan Open Source.

“Masalah dengan virus tidak terlalu banyak. Kalaupun ada virus, tidak mengganggu sebab memang virus itu tidak beraksi di Linux,” ujar Handi.

Keluhan dari pengguna lebih banyak berkutat pada masalah keterbatasan driver, seperti USB flash yang tidak terdeteksi, dan sejenisnya. Solusinya dicari di Internet atau setidaknya ada komputer propietary yang dijadikan cadangan untuk membuka data yang tak bisa dibuka di Linux. Itupun bukan problem yang terlalu sering terjadi.

Handi menuturkan, pihaknya tengan mempertimbangkan untuk beralih ke Ubuntu atau sistem operasi lainnya yang lebih user friendly lagi. Ia sendiri optimis bahwa untuk penggunaan Open Source ke depan tidak akan mendapat banyak kesulitan, sebab semua problem yang dihadapi di sistem operasi ini kelamaan bisa diatasi. Pengguna Open Source semakin banyak jumlahnya, sehingga pihak developer pun berusaha memperbaiki kinerjanya.

Xandors adalah sebuah distro Linux yang berbasis sistem KDE. Selintas, desain grafisnya mirip dengan Microsoft Windows. Selain mudah digunakan. sistem operasi ini pun murah. Di toko-toko, CD LinuXandros biasa dijual dengan harga kurang lebih Rp.15.000 - 30.000 Sistim
operasi ini pun sangat user friendly dan tidak menyulitkan bagi para pemula. Saat ini, Xandros telah mencapai versi 4.

 
 

Asosiasi Open Source Indonesia
Jl. Buncit Persada No.1 Jakarta Selatan Indonesia T 62 21 7972204 F 62 21 7945013 E anin@qbheadlines.com