HOME  CERITA-SUKSES  DISTRO  BERITA  PETA DUKUNGAN  PENYEDIA-JASA  QBHEADLINES  GCOS 
   




Linuxindo: Dijamin 100% Linux dan Tidak Kecewa

Menkominfo Membuka GCOS 2009

OSS, Low Cost Tapi Kompetitif

Asia Afrika Serius Kembangkan Open Source

Industri Media Cerita Tentang Open Source

OSS Sesuai dengan Kultur Masyarakat Indonesia

EasyHotspot, Satu Lagi Kontribusi untuk Dunia Open Source

OSS Lebih Kaya Ketimbang Software Komersial

Software Legal dan Gratis Pasti Jadi Kebutuhan

Open Source Software Hanya Perlu Disosialisasikan

Warnet Majao, Membiasakan Pengunjung Pakai OSS

SEAMOLEC, Membuka Akses Pendidikan dengan OSS

Asosiasi Open Source Indonesia Resmi Berdiri

Onno W. Purbo: Sosialisasi OSS Bisa Lewat Buku Pelajaran TI

Pixel People Project: Open Source Dorong Kreativitas

Detik.com, Nyaman dengan OSS

Anjar Hardiena: Akrab dengan OSS Hanya Masalah Kebiasaan

PT Tempo Inti Media, Makin Kenal, Makin Sayang dengan Linux

Telkom Pilih OSS sebagai Solusi Bisnis

BIM Mastel, Bikin Orang Desa Tak Gagap Open Source

IGOS Semakin Mantap!

 
  
 

BIM Mastel, Bikin Orang Desa Tak Gagap Open Source  

Oleh: Merry Magdalena

Siapa bilang menggunakan Open Source itu sulit? Bagi masyarakat desa Cihideung, Bandung, ternyata tak ada aral melintang sama sekali. "Mereka hanya butuh waktu pengenalan sebentar, setelah itu lancar," ujar Taru J. Wisnu, Project Manager Balai Informasi Masyarakat (BIM) Mastel, kepada QB Headlines.

Sebanyak 5 unit komputer di Balai Informasi Masyarakat tersebut menggunakan sistem operasi Ubuntu sejak 2007 lalu. Pengunjung BIM Mastel yang terdiri atas masyarakat umum dalam sehari bisa mencapai 10-15 orang. Semuanya tanpa masalah menggunakan Ubuntu.

Taru menjelaskan, saat baru berdiri tahun 2002, Telecenter BIM Mastel menggunakan sistem operasi propietary seperti mayoritas telecenter lain saat itu. Baru kemudian tahun 2006 mereka mencoba program IGOS yang disosialiasikan oleh Kementerian Ristek melalui Program Warintek. Namun karena keterbatasan support system seperti driver untuk printer, scanner dan lain-lain, maka tim teknis BIM dari Mastel yang juga menguasai Open Source mengusulkan sistem operasi Ubuntu.

Bebas Virus

Pertimbangan kami ketika memutuskan untuk menggunakan open source adalah karena salah satu layanan BIM adalah warnet yang dijalankan secara profesional sebagaimana warnet pada umumnya sehingga komputer menjadi rentan terhadap virus. "Oleh sebab itu tim teknis BIM yang diketuai oleh Mas Toni dari Mastel memutuskan untuk menggunakan
Open Source yang lebih kebal dari serangan virus," ungkap Taru.

Alasan kedua adalah mengajarkan dan membiasakan masyarakat untuk menggunakan peranti lunak yang legal dan membuka wawasan mereka tentang software alternatif Alasan ketiga adalah karena mereka percaya bahwa jika teman-teman di Cihideung bisa menggunakan software Open Source, maka kemungkinan besar mereka juga bisa mengoperasikan komputer dengan software lainnya jika diperlukan.

Ubuntu

Ubuntu adalah sistem operasi lengkap berbasis Linux, tersedia secara bebas dan mempunyai dukungan baik yang berasal dari komunitas maupun tenaga ahli profesional. "Ubuntu" berasal dari bahasa kuno Afrika, yang berarti "rasa perikemanusian terhadap sesama manusia". Ubuntu juga bisa berarti "aku adalah aku karena keberadaan kita semua". Tujuan dari distribusi Linux Ubuntu adalah membawa semangat yang terkandung di dalam Ubuntu ke dalam dunia perangkat lunak.

Sistem operasi Ubuntu saat ini mendukung berbagai arsitektur komputer seperti PC (Intel x86), PC 64-bita (AMD64), PowerPC (Apple iBook dan Powerbook, G4 dan G5), Sun UltraSPARC dan T1 (Sun Fire T1000 dan T2000).

Ubuntu menyertakan lebih dari 16.000 buah perangkat lunak, dan untuk instalasi desktop dapat dilakukan dengan menggunakan satu CD saja. Ubuntu menyertakan semua aplikasi standar untuk desktop mulai dari pengolah kata, aplikasi spreadsheet hingga aplikasi untuk mengakses internet, perangkat lunak untuk server web, peralatan untuk bahasa pemrograman dan tentu saja beragam permainan.

Jika masyarakat desa Cihideung saja tidak gagap dengan Open Source, mengapa masyarakat perkotaan gagap?

foto: dokumentasi BIM Mastel

 
 

Asosiasi Open Source Indonesia
Jl. Buncit Persada No.1 Jakarta Selatan Indonesia T 62 21 7972204 F 62 21 7945013 E anin@qbheadlines.com