|

Bagi Lulut Sri Yuliani, hampir semua bagian dari mangrove bisa dia manfaatkan. Misalnya untuk dioleh jadi pewarna batik dan sabun cair alami. Aktivitasnya mengurus lingkungan dimulai pada 1996, setelah dia menikah dan pindah ke daerah Rungkut, Surabaya, yang gersang. Pada 2006 Lulut dan kader lingkungan di sekitarnya mulai memproduksi sirvega, sabun cair mangrove toga untuk mencuci piring, tangan, dan kendaraan. Karena dibuat dari bahan alami, bekas cucian dengan sabun sirvega itu tak merusak lingkungan.
Pada 2009, Lulut mendesain pakem batik mangrove. Dia menyiapkan 44 desain seni batik motif mangrove Rungkut Surabaya. Pewarnanya dia buat sendiri dari berbagai bagian mangrove, ditambah bahan lain. Perkumpulan perajin batik mangrove yang berpusat di tempat tinggal Lulut, Wisma Kedung Asem Indah, diberi nama Griya Karya Tiara Kusuma. Satu-satunya kendala dalam pengembangan batik mangrove adalah permodalan. Untuk membuat contoh batik dari 44 motif itu saja, Lulut butuh dana sekitar Rp40 juta. Sementara dari sisi perajin, menurutnya relatif tak ada masalah. |